Something 17

Hay reader.. Mian telat posting buat yang nunggu ff ini. Mau gimana lagi, ide ngandat ditengah jalan..hihi.

Ada satu hal yang bikin author benar-benar kesal sekarang. Ff author yg steps di copast sama orang tanpa pemberitahuan. Walaupun cuma beberapa paragraf tapi tetap saja author ngerasa marah. Bikin satu cerita itu gak gampang. Dan dengan mudahnya itu di jadiin hak milik bikin sakit hati and miris banget.

Buat siapapun yang ngerasa lakuin, moga cepet tobat and gak nyari alasan buat ngebela diri. Sekian..

#mian jadi curhat.

 

Title : Something 17

Author :-

Cast : Taeny

Other Cast : find yourself

Genre : YURI, Futanari

Enjoy~
Taeyeon membenarkan masker untuk menutupi wajahnya lebih banyak. Mata birunya terus memandang satu objek yang terseyum kepada beberapa pelanggan disana.

“ tuan apa anda ingin memesan sesuatu?” seorang pria berseragam menghampiri mejanya yang berada paling pojok sebuah kafe. Jangan Tanya apa yang dilakukan gadis yang menyamar dengan menutupi rambut blonde panjangnya dan menggulung masukkan kedalam topi itu. mungkin ini alasan pelayan pria ini mengiranya adalah seorang laki-laki dan memanggilnya tuan. Oke itu sebenarnya bukan masalah. Fokusnya hanya pada gadis itu sekarang.

“ semua makanan yang mahal dan enak..”

Pelayan itu membelak kecil dan membungkuk lebih hormat. Sepertinya ia sudah dapat menebak bahwa orang ini bukan dari kalangan yang biasa.

“ baik tuan.. akan saya persiapkan”

“ tunggu”

Pelayan itu berbalik kembali.

“ aku ingin gadis itu yang melayaniku” ujar Taeyeon dan menunjuk gadis yang masih berkutat dengan kertas ditangannya. Ia tersenyum kecil dengan wajah serius itu. 

Bagaimana mungkin kau bisa setegar itu?..

 

Keduanya masih tertidur dengan hanya terbalut selimut bersih. Tiffany mengerang kecil dan semakin merapatkan dirinya pada ceruk leher gadis lain yang memeluk tubuhnya protective. Matanya masih tertutup rapat karena memang ia butuh tidur banyak setelah pertempuran melelahkan semalam.

Siapa yang patut dipersalah kalau bukan gadis yang memiliki kulit seputih salju yang memeluknya seolah tak akan membiarkannya pergi bahkan untuk sekejap saja.

Merasakan pergerakan disampingnya Taeyeon membuka matanya perlahan. Berusaha menormalkan penglihatannya karena masih terasa kabur lantas Senyum terukir dengan sendirinya.

Gadis berambut coklat yang terus mendesak memeluk tubuhnya secara tak sadar, sangat menggemaskan. Tangan Taeyeon menyingkirkan sedikit poni yang mulai panjang itu, membiarkan iris birunya memuaskan diri menikmati pemandangan yang lebih indah dari apapun yang tersaji didunia.

‘’ neomu yeopo-ya..” ia mengecup kilat bibir tipis menggoda Tiffany.

 

Taeyeon menarik diri dan bersandar pada headbed. Mengambil remote control dan membuka tirai coklat menyisakan kain transparant yang menghalangi sedikit sinar surya diluar sana. Taeyeon menoleh kembali Tiffany, melihat sang gadis yang mengeryit karena merasa terganggu dengan silau. Ia tersenyum kecil dan mengangkat telapak tangannya menutupi sedikit pada bagian matanya.

Dan lihat, Tiffany lantas tenang kembali. Ia sangat menggemaskan.

Taeyeon mengambil smartphonenya dan memastikan tak ada pesan ataupun telpon dari siapapun. Meyakinkan dirinya ia kembali melihat dan menyadari bahwa jam sudah menjuk pada angka 6 lewat. Ia hanya tidur empat jam.

Taeyeon lantas kembali menatap pada Tiffany. Gadis itu terlihat sudah sangat pulas kembali. Ia tak memindahkan tangannya dari menghalau silau itu untuk gadisnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengecek perkembangan saham perusahaan dari gadgetnya. Ia terlihat sangat serius dan tak menyadari bahwa gadis disampingnya mulai membuka mata.

 

Tiffany mungkin menyadari bahwa sesuatu tengah menjaga tidurnya dari sang surya. Ia menatap telapak tangan halus yang tetap tak bergerak itu. Lalu mengalihakn matanya pada seseorang yang tengah serius dengan gadgetnya. Entah mengerjakan apa. Ia tetap menatap wajah serius Taeyeon, Mengagumi betapa indah Tuhan membuat gadis itu.

Garis rahang yang dimiliki Taeyeon terlihat sangat tegas dengan alis mata yang juga memiliki hal serupa. Hidung mancungnya dan bibir tipis berwarna pink alami. Lalu mata itu, mata yang mampu membuatnya terpaku untuk tetap jauh dalam pesonanya. Meskipun masih ia meragukan apakah yang ia rasakan adalah keindahan semata atau lebih.

Taeyeon yang mulai menyadari bahwa dirinya tengah dipandangi menoleh dan menemukan wajah polos itu tetap dengan mata bulat yang menggemaskan menatapnya.
Taeyeon tersenyum dan mengusap rambut Tiffany dengan lembut.

“ kau sudah bangun?”

Tiffany mengangguk sebagai jawaban. Ia masih mencoba mengumpulkan nyawanya. Taeyeon menarik kembali gadis itu hingga terjatuh dalam pelukannya.

“ aku merindukanmu..” bisik Taeyeon sedikit menunduk. Bagaimanapun Tiffany jatuh tepat diatas dadanya. Membuat kontak tubuh polos itu menegang.

 

Tiffany menelan ludahnya gugup. Tangannya yang berada tepat dikedua bahu Taeyeon sedikit bergetar karena merasa kaget.

“ kita tidak pernah berpisah sama sekali. Kenapa kau mengatakan seolah aku pernah menjauh darimu” bingung Tiffany tak menarik diri dari pelukan hangat itu. Tubuh Taeyeon seolah dapat memberikan kenyamanan tersendiri.

Tetap saja dia seorang yang pervert..

 

Taeyeon hanya terkekeh kecil. menghirup dalam harum shampoo yang digunakan Tiffany.

“ kau tak mengerti kalau cinta itu bertindak seperti ini? Dia akan merindukan pasangannya bahkan jikapun mereka selalu bersama. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku menyukaimu? Aku.. mencintaimu” Taeyeon mengeratkan pelukannya.

Kata itu terlintas begitu saja dari pikirannya. Ia tak bisa memproses semua hal. Jikapun memang perasaannya seperti itu, apa yang harus dikatakannya? Ia tak bisa menampik.

Yang menjadikan masalah adalah gadis dalam pelukannya sekarang. Tiffany membeku seketika.
Cin..-ta? Ah sudah lama rasanya ia tak mendengar kata itu. Terakhir ia mengutuk kata itu saat laki-laki dimasa lalu yang telah merampasnya dan juga membuang perasaan suci itu darinya. Ia bahkan tak ingat apa bentuk dan bagaimana perasaan bernama cinta itu.

Entah anugerah atau sebuah malapetaka, baginya tak ada bedanya. Sebuah perasaan yang menghunus jauh seperti dan sejenisnya itu. Tiffany tidak menyukainya.

 

Terlebih yang tengah menghantui pikirannya sekarang adalah ‘kalimat’ yang diucapkan Taeyeon diresort Sooyoung dua hari yang lalu. Itu masih sangat teringat jelas dan pipinya akan memerah secara sendiri saat kembali mendengar suara itu dalam memorinya.

Aish… dia mungkin hanya bercanda. Jangan berpikir Tif.. jangan..

 

Merasa perubahan gadis itu, Taeyeon tak banyak berbicara. Ia bisa mengerti bagaimana dan apa yang dirasakan gadis dalam dekapannya ini. Tiffany datang karena keegoisannya dan kebejatannya malam itu di Bar. Walaupun Taeyeon tak menyesalinya dan malah mensyukuri kekurangajarannya. Ia juga paham betul dengan segala yang terjadi dimasa lalu gadis ini.

Taeyeon yang terlahir dengan segala kesempurnaan dan kasih sayang, kekayaan dan kekuasaan, semua yang di irikan manusia ada pada keluarganya.
Namun, ia juga pernah mengalami kepahitan sebuah kehidupan. Ia paham betul karena tak hanya satu ia kehilangan. Dua,dan itu lebih menyakitkan dengan tak diiringi perasaan untuk menjagai.

Hanya saja, Taeyeon punya topeng yang bagus untuk dikenakannya. Ia punya hal yang tak ingin ditunjukannya pada orang lain. Sebuah kesedihan itu, ia tak ingin membaginya.

Ah.. ia tak harus memikirkan segalanya sekarang. Yang menjadi fokusnya adalah.. membuat gadis ini balik mencintainya. Bukan karena terpaksaan atau kewajiban. Ia tak bisa mengubur rasa sekarang, ini sudah terlanjur jauh.

 

“ jangan memikirkan hal itu fany-ah. Kau bukan orang yang sama dengan yang dulu. Kau perlu mendengarkan apa yang tengah menunggumu didepan sana” bisiknya lembut. Ia dapat merasakan Tiffany mengangguk kecil.

“ kajja.. kau akan terlambat jika terus diatas ranjang denganku” Taeyeon menatap tiffany dengan senyuman sensualnya. Tiffany membulatkan mata coklatnya dan dengan cepat memukul kepala gadis pirang itu.

“ dasar mesum” ujarnya kesal.
*
Yoona memarkir mobilnya dan mendekat kearah gadis yang masih duduk dan menikmat coffeenya.

“ apa tidak ada tempat yang lebih bagus?” Yoona menarik kursi dan duduk menghadap Seohyun yang tengah membaca. Gadis ini snagat serius. Ia ragu apakah harus mengadakan pertemuan ini atau tidak. Bagaimanapun ini terlihat tidak cocok untuk ukuran seorang bangsawan seperti dirinya. Kafe kecil yang berada tidak jauh dari kawasan rumah yang padat.

“ tidak ada. Jadi berhenti menggerutukan hal kecil” seohyun menatap tepat pada mata biru didepannya. sekali lagi, saat matanya berbenturan dengan iris gadis lainnya ia akan kembali mengingat bagaimana ia pertama bisa sampai dekat dengan Yoona. dan itu.. sangat memalukan.
Flashback

Gadis keturunan korea duduk membaca bukunya. Ia terlalu serius bahkan untuk menanggapi bercandaan tiga gadis yang terus megoceh tentang berbagai hal. Sebenarnya ia adalah sosok yang suka ketenangan. Semua menjadi begitu damai jika saja tiga gadis dengan dua orang warna rambut pirang dan satu lainnya berwarna coklat itu tidak datang dan membuat telinganya pecah.

“ awh.. come on Loyard, kamu harus punya conversation with us” salah satu menarik buku tebal dengan ribuan halaman itu dari tangan sirambut hitam panjang.

“ is that important? I have to focus on our test” gadis itu masih dengan malas menarik kembali bukunya.

“ that’s so boring. Kamu melihat banyak buku dalam beberapa jam terakhir. You have to take a rest for a while” salah satu menyahut dengan melipat tangannya dan memandang gadis tinggi dengan cemberut.

“ oke oke.. jadi, you guys have some plannings? Aku mendengar beberapa diantaranya barusan”
“yes!! Kami ingin membuat taruhan. You want to join?” kali ini si pirang berteriak dengan kegirangan. Yah itu berisik untuknya.

“ what is it about? Aku tidak suka hal aneh” gadis itu melipat bukunya dan menaruh dalam tas. Memberikan semua focus pada ketiga teman yang tersenyum dengan mencurigakan.

“ take a picture. With someone who have a ‘name’ in this school” ujar yang paling ujung dengan smirknya.

“ sure. Just take a picture right? Itu bukan hal sulit”

“ no no no no.. its different. We talk about, maybe kita bisa menambah sedikit tantangan”
Kali ini si gadis mengerutkan keningnya. Menatap ketiga gadis lainnya yang sudah saling melirik dengan wajah melempar senyuman. Seolah ada satu siratan itu dan itu menyeramkan.

 

“ oke stop guys.. kalian saling memandang and that’s makes me feel.. annoyed? and, apa tantangannya?” si gadis memutuskan pandangan ketiga gadis. Membuat mereka menatapnya dengan serius.

“ I must to warn you, ini bukan hal yang bagus untuk anak teladan. Jangan mengikuti kami” gadis berambut coklat memegang bahunya dan tersenyum.

“ ne seo.. we won’t make you in the opposite ways. Kamu harus tetap di jalan yang benar. Jangan ikuti kegilaan Carla” tunjuk gadis pirang pada yang paling ujung. Tentu saja keduanya kemudian saling menggerutu dan berdebat.

 

“ okay? Aku paham. So, apa yang tengah kalian rencanakan? “ Seohyun, si rambut lurus dengan mata bening menatap mereka bergantian. Mempertanyakan berbagai hal dan ide aneh yang sering terlontar dengan spontan.

Sebenarnya ini bukan typenya. Ia tetap menjadi dirinya yang suka buku dan berbagai hal keilmuan. Tapi ketiga gadis ini selalu berada di sekelilingnya, mengganggu. Tidak dalam artian buruk. Seohyun juga menyukai mereka. Terlihat akrab dan membaur.

 

“ yah.. Carla ingin membuat perlombaan siapa yang cepat mendapatkan foto tengah tidur dengan idola sekolah” gadis kurus yang duduk tepat disamping kanan Seohyun menyahut dan bertepuk tangan. Seolah topeng monyet baru saja melintas dan itu lucu.

“ What?! ”

“ awh.. my ears..”

“ sorry.. aku tidak sengaja” Seohyun menatap sipirang dengan wajah bersalah. Mengeluarkan suara begitu keras dan sepertinya itu berlebihan.
Tapi wajahnya kembali serius saat ketiga gadis tertawa bersamaan. Ayolah.. itu bukan hal yang lucu ataupun menyenangkan.

 

“ I don’t know apa yang tengah kalian pikirkan sekarang. Tapi itu sangat berbahaya. Kalian tahu sendiri resikonya bukan?” Seohyun mengerutkan keningnya. Dia sangat tidak suka ide gila ini. Ia tahu ketiga gadis ini memiliki banyak hal yang aneh. Tapi yang barusan ini… seohyun menggelengkan kepalanya.

“ awh.. ini hanya permainan. Listen.. ini hanya tentang kita berempat. Tapi kamu tidak masuk dalam jejeran tantangan kami..” Jennifer menepuk bahunya dengan lembut. Membuat Seohyun kembali menatap mereka dengan tidak suka.

“ no no.. you know.. I just..kalian bisa dap-“

“ tett tett.. come on seo.. we just having fun. Kami tidak akan melibatkanmu dan kami juga melarangmu untuk terlibat” Carla menyilangkan tangannya dan menatap dengan senyuman.

 

“ aku tidak mempermasalahkan aku terlibat atau tidak. Just feel.. aku hanya hawatir pada kalian. Aku tidak ingin kalian terlibat masalah. Think.. its not a good idea.. oh my gosh..” Seohyun menggeleng semakin keras. Bersyukur mereka tidak ditengah kerumunan. Ini adalah belakang sekolah yang sepi, sangat kecil kemungkinan orang lain ada disini. yah kecuali tiga gadis yang terus menempel padanya.

“ awhh.. so sweet.. that’s why I like you Loyard. You’re so very kind and care. Kamu adalah teman yang sempurna. Aku sangat bersyukur” gadis berambut coklat, Anne, memeluknya dengan semangat dan wajah berseri. Seohyun juga menangkap wajah senyuman kedua gadis pirang, tapi ia mengabaikan.

 

“ so?”

“ so what? We have to think right? Kami akan mempertimbangkan semua kemungkinannya. Thanks for make this early Loyard… “ kedua gadis mendekat dan sekarang ia yang harus mencoba bersabar mendapat pelukan tiba-tiba.

“ that’s good..”
*
Semua berjalan dengan baik. Semuanya.. andai saja pagi dihari itu ia tak terbangun seperti..

“ What the fuck is it!!” teriak Seohyun membangunkan gadis pirang yang tidur memeluknya dari belakang. Bukan, ia tentu saja mengenal baik gadis yang merupakan teman sekelasnya. Tapi ini bukanlah masalah jika saja-

“ hoammh.. so loud. Kamu harus mempertimbangkan suaramu” ujar gadis itu membuat matanya dan menguap lebar. Bahkan ia tidak terlihat terkejut seperti keadaan Seohyun yang hampir pingsan.

“ apa yang kamu lakukan padaku brengsek!!” seohyun mengambil bantalnya dan memukul gadis itu beberapa kali dengan keras. Ttentu saja karena kaget gadis itu hanya mengaduh dan mencoba menghindar.

“ aww aww.. oh stop it. Ini sakit kau tahu. Hey hentikan.. yak!!”

“ you.. ughh.. kau benar-benar”

“ a-“

Plakkk…

“ Fuck! Kenapa kau menamparku?” gadis itu berbalik saat Seohyun melayangkan tamparan keras pada pipinya. Tapi sejurus kemudian ia terdiam membeku. Hanya menatap pada gadis yang menangis tersedu. Tapi kenapa?

“ ….”

 

“ hiks.. what a-are do-ing to m-me?” gadis itu dengn lemah menarik dirinya dan menekuk lutut, menangis dalam diam.

“…” eh? Dia kenapa menangis? Batin gadis itu kebingungan.

Seharusnya gadis ini yang kesal karena barusan gadis gila itu menampranya dengan keras. Ini sangat nyeri. Tapi…

“ a-aku tidak hiks..t-tahu apa yang a-aku hikss laku-kan padamu s-sebelumnya. T-tapi k-kenapa.. hikss ..” seohyun semakin menekan dirinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Oh.. jadi dia berpikir seperti itu? batin gadis pirang lagi.

 

“ ck.. tidak ada yang terjadi pada kita. Berhentilah menangis..” ujar gadis itu tiba-tiba.

Kali ini seohyun mendongak dan menatap tajam mata biru itu. ia muak melihat wajah dingin yang balik menatapnya. Dia tak mengenal seperti apa gadis itu, tapi jelas karena mereka satu kelas Seohyun sekedar tahu gadis itu lahir dari keluarga yang berada. Memuakkan..

“ kamu ingin bilang aku harus melupakan apa yang kamu lakukan padaku? Kau benar-benar..” Seohyun menggertakkan giginya dengan marah. Ia akan melayangkan tamparan sekali lagi saat tangan halus langsung menangkap tangannya.

 

“ no more.. ini akan membekas dengan tenaga kudamu” sindir gadis itu sekali lagi.

“ lepaskan! Jangan menyentuhku..” Seohyun menyentakk tangannya dengan kasar. Ia menatap gadis pirang yang menarik turun selimut. Tunggu..

“ dasar aneh. Sebelum menampar orang dan berteriak lihat dulu keadaannya. look.. kita masih berpakaian lengkap. Aish..Kau sangat tidak sabaran. Kau berpikir kotor yah barusan..” gadis itu kembali berujar sinis.

 

Seohyun mengamati mereka bergantian. Benar.. pakaiannya juga masih utuh tapi ini bukan pakaiannya. Dan lagi kenapa ia bisa bangun dan berada disini?

“ liar!! Ini bukan pakaiank-“

“ kita ada perkemahan dan semalam hujan. Sekolah menyuruh untuk mengambil satu kamar untuk dua atau tiga orang. Dan kamu masuk kamarku dengan basah dan menggigil. Aku menyuruhmu menggunakan bajuku Karena sialnya kamu tidak membawa tasmu dibawah. Ingatanmu sangat buruk” jelas gadis dengan tatapan tajam. Sekarang sudah mulai jelas.

“ t-tapi kamu memelukku.. “ sergah Seohyun dengan wajah memerah, malu. Mungkin merasa buruk telah membuat keributan sebelum bertanya.
Sialan..

 

“ oh, mungkin kamu lupa menangis dan terus menggumam nama ibu mu dalam tidur. Aku harus memelukmu yang merengek dan terlihat demam. Tidak ada terimakasih? Kau bahkan menamparku. baru saja kau menuduhku yang tidak-tidak dan menangis. Aneh sekali nona Loyard” si mata biru menatapnya dengan jengah. Baru kali ini ada yang memperlakukan seperti itu.

Jujur saja, semua orang akan mengambil diri mereka merendah didepannya. tapi gadis ini? Ia membuat telinganya hampir pecah dan pipinya terasa perih. Dimana harga dirinya sekarang?

“a-aku..”

“ ck.. aku akan mandi lebih dulu. Berhenti menjadi perempuan menyebalkan. apa anak teladan tidak bisa sedikit lembut dan tenang?” akhirnya si pirang turun dari atas ranjang. Menghentakkan kakinya dengan kasar dan berjalan meninggalkan Seohyun yang termenung.

“ harusnya aku tidak membantunya.. sialan..” gumamnya sekali lagi. Namun masih dapat didengan oleh Seohyun yang duduk diatas ranjang. Ah.. kenapa ia merasa buruk sekarang.

 

“ Im Yoona..”

Gadis itu menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik untuk melihat Seohyun.

“ a-aku.. I’m sorry.. untuk semuanya. Kata-kataku dan untuk pipimu” ujar Seohyun dengan suara pelan. Bahkan mencoba sedikit tak terdengar canggung. Ia sungguh-sungguh..

“ hm”

 

Seohyun menatap punggung itu keluar kamar.

“ aishh.. huaa.. apa yang aku lakukan?”

Flashback end
“ kau melamun” kali ini Seohyun tersentak kaget karena yoona membangunkannya dari ingatan masa lalu. Sebenarnya ia hanya terkejut saat tangan dingin menepuk tangannya pelan.

“ apa?”

“ itu..” Yoona menunjuk pada pesanannya yang mulai mendingin. Sialan..

 

“ apa yang kau pikirkan?” Yoona menarik tehnya dan menghirup aroma melati ungu. Lihat, bahkan untuk minuman berharga tidak seberapa akan terlihat sangat berkelas saat gadis itu menyentuhnya. Aneh..

“ nothing.. jadi kembali ke tujuan awal. Ini rancanganh yang aku rangkum. Kamu bisa melihat dan mempelajarinya dengan cepat. Kita tidak punya banyak waktu” Seohyun mengambil sumpitnya dan mendorong lembaran yang telah dijepitnya dengan rapi.

“ hum.. banyak sekali” gerutu Yoona dengan pelan.
~
“ kenapa tujuan pertamanya tempat ini?” gerutu Yoona dan ikut membuka sepatu.

Seohyun berjalan lebih dulu meninggalkan gadis pirang yang mengekor dengan tidak rela. Baginya tempat ini adalah hal yang paling membosankan.
*
“ kita akan kemana?” Tiffany menyadari bahwa mobil yang membawanya ini tidak bergerak kearah sekolah. Setidaknya itu yang tengah dipikirkannya sebelum kemudian satu kalimat yang membuatnya terdiam dengan segala spekulasi.

“ aku sudah berjanji akan mengenalkanmu pada ‘orang’ itu” Taeyeon memutar setir mobilnya mengambil arah memutar. Sekali lagi, Tiffany yang tertinggal disampingnya dengan wajah menyimpan sejuta tanya.

“ apa kita membolos?” Tiffany menggenggam erat sabuk pengaman yang digunakannya. Sebenarnya ia bahkan tidak memikirkan mata pelajaran Fisika yang ditinggalnya disana. Rasa gugup tiba-tiba menohok jantungnya dan ia menutupinya dengan pertanyaan bodoh. Tentu saja karena Taeyeon kemudian terkekeh kecil.

 

“ aigoo sayang..berhenti memikirkan sekolah sekarang. Kau bisa mulai berpikir hal yang lain. Tentang konsep pernikahan kita mungkin?” kali ini ia menoleh dengan seringai menggoda.

Tiffany membelak kecil dan balik menatap dengan wajah merenggut. Terpancing..

“ siapa yang akan menikah dan siapa yang harus repot?” ujar Tiffany dengan ketus. Ia mempout bibirnya dan melempar pandangan keluar jendela. Merasa sedikit ringan.

“ oh.. tentu saja karena kau yang akan menikah denganku, kita harus sama-sama repot sayang~” Taeyeon tertawa dan menghindar saat tangan Tiffany menampar bahunya dengan keras.

 

“ aku tidak bilang akan menikah denganmu” Tiffany memincingkan matanya dan balik memeletkan lidahnya dengan wajah puas.

“ mwo?! Aish.. Fany-ah.. apa kau menolak lamaranku?” Taeyeon membelak matanya dengn wajah berusaha serius. Dan itu sangat mengggemaskan. Setidaknya itu yang tengah terlintas dalam pikiran Tiffany. bagaimana Tidak? Jarang menemukan wajah bodoh gadis bermata biru itu didepannya.

“ ne..” jawabnya dengan enteng. Lalu reaksi berlebihan karena Taeyeon lantas berteriak kecil.

“ Tuhan… ini bencana” ujarnya dengan wajah tak percaya.

 

Tiffany tertawa dengan keras. Sepanjang perjalanan yang membawa mobil sport hitam itu, terisi dengan suara tawa keduanya, atau sekedar obrolan tidak masuk akal. Sesekali Taeyeon akan menggodanya atau Tiffany yang balik menggoda gadis lebih tua.
Ritus berubah begitu cepat. Bahkan dua hati yang saling menghibur dan membutuhkan.

 

Taeyeon tersenyum menatap wajah ceria gadis bermata indah. Tolong jangan mengambil serius percakapan mereka. Ia hanya berusaha membuat tenang dan relax gadis itu. tak bisa terpungkiri, sejak ia mengatakan untuk bertemu dengan kunci kehidupan Tiffany, ia menyadari gadis itu terlihat sangat gugup.

Mungkin ia tidak bisa memahami bahwa rasa besar tengah mengganggu gadisnya. Tapi bukankah ini yang akan diperlihatkannya? Setidaknya, Ia ingin melepas masa kelam yang masih menjadi mimpi terburuk Tiffany.

 

Taeyeon menghentikan mobil. Ia turun dan berjalan mengitari mobil. Membuka pintu untuk gadis yang langsung mengerutkan keningnya dengan wajah serius.

“ T-Tae..”

“ kajja..” Taeyeon mengulurkan tangannya. Namun lihat, Tiffany terpaku disana.

“k-kenapa kita kesini?” Tiffany menoleh pada Taeyeon yang sekali lagi, gadis itu tersenyum padanya. Mata biru yang memberinya ketenangan, dan masih berlaku untuk sekarang. Terkadang ia menemukan mata itu mampu menghipnotis keegoisannya. Tapi, bukankah jika berbicara tentang keegoisan gadis ini diatas segalanya? Yah.. kita tak dapat menolak hal itu.

 

“ seseorang pasti ingin bertemu dengan orang yang dikasihinya di masa lalu” Taeyeon menarik lembut tangan Tiffany. melemparkan senyuman pada gadis yang masih terpaku dengan wajah yang tak bisa dibaca. Jelas, ia lebih dari tahu dimana mereka sekarang.

“ Tae.. kau sudah janji..” desis Tiffany dengan lirih. Hampir berbisik. Kenapa ia memiliki firasat bahwa Taeyeon tengah atau akan melakukan sesuatu? Dan sialnya, ia bahkan tidak bisa menebak hal itu sekarang.

Apakah gadis itu akan menggunakan kekusaannya kali ini? Tapi bukankah Taeyeon sudah mengatakan bahwa tak akan mengganggu mereka? Terlebih Tiffany adalah bayaran untuk itu. apa itu tidak cukup?

 

“ sayang~” Taeyeon menyentuh dagunya, Menatap lembut iris coklat teduh. Dan kembali melemparkan senyuman. Seolah mengatakan semua akan baik dan Tiffany tidak perlu menghawatirkan apa yang dipikirnya sekarang.

“ aku tidak akan melakukan hal apapun. Aku sudah berjanji dan aku benci berbohong sayang~ lihat mataku. Apa aku menyimpan hal mencurigakan? Apa aku tengah mencoba melukaimu?” Taeyeon mengusap pipinya dan menangkup sang gadis dengan sangat hati-hati.

Sudah ia katakan, ia sepertinya sudah sangat menggilai gadis ini. Untuk apa pemikiran aneh sempat terlintas dari kabut mata itu? ia tak akan melakukan satu atau bahkan sepotong kesalahan dan membuat Tiffany terluka.

“…tidak..” desis Tiffany dengan lirih.

 

Mereka tidak mengenal terlalu dalam. Hanya dalam beberapa bulan dan Taeyeon berhasil masuk dalam kehidupannya, atau ia yang kini masuk dalam kehidupan Taeyeon? Entahlah..

Mereka saling membagi waktu, cerita, tawa dan senyuman. Sepuluh impiannya yang saling berdatangan dan menumbuk hingga tak terarah. Tidak juga, ia menyukai perasaan yang menggerogoti hatinya. Aneh, ia tak merasa harus sakit dengan sesuatu yang tiba-tiba.

“ t-tapi..”

“ aku tahu kau merindukan mereka” Taeyeon kini menggenggam kedua tangannya dan tersenyum. Ia menarik Tiffany dan memeluk gadis berambut coklat dengan erat. Membisikkan satuan kata yang menangkan.

“ a-aku..”

“ aku tak akan melakukan apapun pada tempat ini dan juga semua yang tinggal disini. mereka akan tetap aman dan bisa hidup selayaknya mereka hidup. Aku tidak mencela perkataanku sayang, aku tidak memiliki banyak topeng bagus untuk menjadi begitu jahat didepanmu…” Taeyeon merasakan Tiffany balas memeluknya dengan erat. Tubuh gadisnya bergetar dan ia cukup pintar untuk menebak bahwa Tiffany mungkin takut? atau khawatir?

 

“ tidak ada yang membuatku lebih takut daripada perasaan jika kau meninggalkanku. Aku sudah sangat bergantung padamu Fany-ah.. sudah kukatakan aku mencintaimu” Taeyeon melepas pelukannya dan tersenyum. Mengusap dua bulir air mata yang sempat merembes pada kedua pipi Tiffany.

“ tae.. a-aku.. terimakasih..” gumam Tiffany. masih sangat keras untuk didengar gadis lainnya yang langsung mengecup pipinya cepat.

“ no.. simpan itu untuk dirimu sendiri. aku tidak bisa membantu jika hatiku terus seperti ini. Kau special untukku..untuk hidupku. Aku menolak mengatakan banyak hal karena kau hadir dan itu berubah banyak. Aku sangat menyukai perubahan itu…”

 

Taeyeon kini menariknya lebih seperti menuntun gadis brownie mendorong pintu gerbang kecil bertuliskan sepenggal kalimat besar dari cat hitam.

Panti Asuhan Jeon-deok,Seoul.

“ jja~.. nikmati waktumu dan mengenang semua hal menyenangkan. Ingat.. aku tidak ingin kau sedikitpun memikirkan tentang rasa sedih. Berhenti membuatku sakit melihatmu terluka” Taeyeon melempar senyumnya dan memberikan semangat.

 

Tiffany sempat berbalik dan menatap pada Taeyeon yang duduk menyandarkan dirinya diatas kap mobil. Gadis itu mengepalkan tangannya keatas udara dan memberikan senyuman lebar.

Apakah ia bersyukur bahwa kejadian malam itu merubah hidupnya? Atau menemukan gadis pirang yang begitu baik untuk memberikan banyak kebahagiaan yang tak terduga sebelumnya. Dia tak tahu.. namun satu yang pasti..

I think I’m start to love her..

 

“aku menunggu disini..” ujar Taeyeon saat sebelum Tiffany menutup pintu gerbang. Dan gadis ber eyes smile tersenyum, mengangguki.

~
Taeyeon melirik pada Tiffany yang menyandarkan tubuhnya dan menatap keluar pada jejeran rumah yang begitu rapi. Seperti biasa, atau memang sudah menjadi hobbinya.. gadis itu melamun.

Sudah sejak ia masuk kemobil, wajahnya terlihat merenung, entah memikirkan apa. Menyebalkan, rasanya ia begitu penasaran apa yang tengah melintas dibenak gadis itu sekarang. Sayang sekali, ia tak memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain.

Aneh memang, karena sebenarnya ia punya cara lebih baik untuk bertanya. Tapi sekali lagi..ia tak ingin membuat gadis itu tak nyaman.

 

“ apa kau lapar? Ini sudah masuk jam makan siang” Taeyeon menggerakkan setirnya dan sekilas menatap pada Tiffany. gadis berambut coklat tua yang menoleh dan memfokuskan matanya pada Taeyeon.

Si pirang tersenyum dan mengangkat tangannya mengusap surai lembut Tiffany.

“ kau bahkan belum sempat sarapan tadi pagi. Perutmu bunyi” sindir Taeyeon.

 

Tiffany melotot dan kembali mencubit tangan mungil itu sedikit keras. Kedua pipinya memerah terlebih setelahnya Taeyeon benar-benar tertawa dengan keras. Menyebalkan..

“ berhenti tertawa, aiish..” Tiffany menatapnya dengan tajam. Sejujurnya itu tak berpengaruh apa-apa kecuali Taeyeon yang langsung meredakan suaranya dan balik menatap sepasang mata bening milik Tiffany. ia menyukai semua yang ada pada gadis ini, terlebih mata indah dan senyumannya.

“ arraseo.. ingin makan apa? Kita bisa turun didepan sana” Taeyeon menunjuk salah satu kafe yang lumayan mewah didepan mobil mereka.

 

Tiffany masih mempout bibirnya dengan kesal. Bahkan saat ia kemudian menyadari bahwa gadis byun itu sudah membukakan pintu untuknya, tersenyum dengan wajah sensual.

“ apa yang aku katakan untuk tidak mempout bibirmu seperti itu? kau mengundangku yah?” Taeyeon menunduk menyamakan wajahnya dengan Tiffany yang masih duduk.

“ what? Dasar mesum. Menjauh..” Tiffany mendorong wajah Taeyeon dengan telapak tangannya.

“ hihi.. “

 

Mereka memilih meja pojok dimana suasana lumayan sepi disekitarnya. Teyeon masih asyik menggoda gadis yang terus menggerutu dan kadang memukul lengannya.

Tidak masalah, ia ingin membantu sekedar agar Tiffany tidak terlalu mengambil semua pikirannya sejak tadi. Sedikit bekerja, karena Tiffany meladeni sifat jahilnya dan saling meledek. Beberapa kali ia akan terdiam untuk menikmati wajah manis si brownie yang tertawa, mengambil banyak moment dengan matanya.

“ jja~ makan yang banyak agar kau semakin kuat diatas ranjang” Taeyeon menyodorkan sendok padanya.

Tiffany kembali melotot. Tidak bisakah gadis itu melihat sikon? Bahkan pelayan kafe itu sempat tersentak kemudian tersenyum malu. Tunggu.. kenapa dia yang malu?

 

“ aish.. mulutmu benar-benar” setelah pelayan itu pergi Tiffany menggerutu dan melempar tissu kearah gadis blonde yang terkikik kecil. Mungkin menikmati rasanya menggoda Tiffany didepan orang lain.

“ laki-laki itu terus memandangmu” ujar Taeyeon kemudian. Ia menatap Tiffany dengan senyuman lebar. Merasa bangga? entahlah…

“ itu karena aku cantik” Tiffany memutar bola matanya dengan malas. Merasa konyol untuk mengatakan hal itu dari bibirnya. Yah meskipun setelahnya ia mendengar Taeyeon tergelak dan terkekeh, again.

“ aku tahu. Kau dewi fany-ah..” Taeyeon memandang tegas, serius.

“ tidak mempan menggombalku” Tiffany mengambil steaknya dan memotong kecil. Mengindari pandangan intens Taeyeon.

“ aish.. aku hanya jujur”

 

TBC

Advertisements

28 thoughts on “Something 17

  1. Omg, udh karatan nunggu ni ff… 😁😁
    Chapt kali ini muanissss kayak senyumnya panyy, huheehehe..
    Si hyuni sadiss bnr dah ama yoong, wkwk
    Welcome back author 😀🤗🤗

    Like

  2. Kata2 awal yg rancu “pertempuran melelahkan semalam” bisa dijelaskan thor si taeny sebenernya ngapain wkwkwk 😂😂😂
    Btw welcome back thor, fighting nulis nya🙆💪

    Like

  3. Sedikit lupa ama jalan cerita nya dek,
    Bagai di telan bumi ngilang gitu aja kamu,
    Ppany mah suka murung, kenapa klo ppany murung hatiku ikut sedih 😭😭😭😭😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s