Complete 4 (End)

Title : Complete 4 (end)

Cast : Taeny

Sub-cast : Find Yourself

Genre : Yuri

Enjoy~

“ apa ada yang salah?” Taeyeon menatap gadis yang duduk pada kursi penumpang disampingnya. Ia tetap memfokuskan dirinya untuk menyetir dan memastikan bahwa ia berada pada jalur yang benar. Namun, gadis itu terlihat benar-benar diam dan tenang tidak pada biasanya. Ini sangat membingungkan Karena Taeyeon merasa bahwa ia tak melakukan kesalahan. Apa Tiffany marah?

Tiffany menoleh padanya dan menggeleng kecil.

“ tidak ada..”

Taeyeon mengerutkan keningnya. Dari nada suara gadis itu jelas pasti ada yang terjadi atau sekedar ia pikirkan. Kenapa ia harus menyembunyikannya dari Taeyeon? Apa ini berkaitan dengan dirinya? Tapi apa?

“ oh tolong.. kau berbohong dan aku tahu itu. Kenapa tidak kau katakan saja Fany-ah.. apa kau marah padaku?” Taeyeon menghentikan mobilnya dan memfokuskan pada Tiffany.

 

Tidak, ia tak menuntut banyak hal. Taeyeon hanya merasa bahwa seuatu hal dipendam gadis itu begitu dalam. Bukankah mereka sudah berjanji untuk saling terbuka satu dan yang lainnya?

“ Tae..”

“ fany-ah.. aku tak ingin memaksamu. Tapi kau benar-benar membuatku hawatir. Kita sudah berjanji untuk tidak saling menutupi. Tapi lihat, kau bahkan tak mengatakan apa yang kau pikirak atau kau rasakan. Kau tak membaginya denganku. Aku merasa buruk untuk itu..” Taeyeon menyentuh bahunya dan memandang dengan tegas. Ia tidak marah, dan Tiffany tahu hal itu. Taeyeon tak semudah itu untuk marah atau menarik keluar emosinya pada Tiffany. ia terlalu menyayanginya.

“ mianhae.. aku hanya.. ini tentang Nichkhun,..” Ujar Tiffany menunduk.

 

Ia bukannya ingin menyembunyikan hal ini pada Taeyeon. Ia tak ingin gadis itu merasa buruk dan sakit. Sudah cukup untuk kesalahan masa lalu dan itu masih begitu membekas dalam memorinya. Ia tak ingin Taeyeon meninggalkannya seperti dulu. Tidak, ia tak akan pernah siap untuk hal itu. Taeyeon adalah hidupnya.. sudah cukup untuk rasa hampa yang ia lakukan selama ini. Hidup tanpa memandangi gadis itu membuatnya selalu berpikir bahwa neraka tengah mengelilinginya. Dan saat gadis itu sekarang nyata disampingnya, apa tiffany akan memicu hal kecil yang berujung dengan perpisahan lagi? Oh tidak, demi Tuhan ia tak akan pernah rela.

 

“ tae.. aku minta maaf. Aku tidak bersama laki-laki itu, maksudku kami b-“

“ ssttt.. hey sayang.. tenang okay. Aku mempercayaimu” Taeyeon meletakkan jari telunjuknya untuk menghentikan kehawatiran itu. jelas, Tiffany begitu panic karena ia hanya terdiam.

 

Bukan. Ia tak sedang menahan marahnya, em.. mungkin sedikit cemburu. Mendengar nama laki-laki itu membuat darahnya selalu mendidih panas. Ia dapat merasakan perasaan berbeda tentang laki-laki itu. meskipun Tiffany sudah meyakinkan bahwa ia tak menyayanginnya sebagai perasaan yang sama pada Taeyeon, tetapi bukankah alasan Tiffany disini karena laki-laki itu? ia bahkan menangis dan menjadi begitu buruk di club karena Nichkhun itu bukan? Cukup resah.. Tiffany mungkin tak menyadari bahwa ia sempat akan menyukai laki-laki itu dalam artian nyata.

Dan bersyukur.. ia berada disana untuk menghentikan hatinya yang akan terluka untuk kedua kalinya.

 

“ aku tidak apa-apa. Maksudku, apa dia ada disini? Kau bertemu dengannya?” Taeyeon menatap serius pada Tiffany. melempar senyuman menenangkan bagi gadis lainnya untuk tidak menghawatirkannya.

Hey.. ia terluka. Tapi ia begitu mencintai Tiffany sampai rasa terlukanya bukanlah apa-apa. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa sampai gadis itu merasa yakin dengan keputusannya, Taeyeon akan selalu berada disana. Mungkin tetap bermain pada poros persahabatan yang saling mengungkap rasa sayang masing-masing. Tapi apa ia punya kesempatan menolak? Ia terluka, dan anehnya ia bahkan tak merasakan kerisauan untuk hal itu.

 

“ tidak. Dia memang satu kelas denganku. Aku bahkan tidak tahu jika kau akan membuatku berada dikelas itu. apa itu baik-baik saja? Aku tak ingin menyakitimu Tae..” lirih Tiffany. menyadari mungkin Taeyeon tersentak dengan pernyataannya.

Satu kelas?

Ia bahkan tak terlalu memperhatikan hal itu. Tiffany lebih memilih jurusan seni dan artistic dibanding berada dikelas bisnis seperti Taeyeon. Tapi ia bahkan tidak tahu bahwa laki-laki itu berada pada kampus yang sama

and hell.. dia satu kelas dengan Tiffany?

 

Taeyeon menghela napasnya dan tersenyum. Mengusap rambut Tiffany dengan tangannya lembut. Menenangkan.. ia bukan anak kecil yang akan berpikir dengan pendek. Ini bukan kesalahan Tiffany. kenapa ia begitu takut?

“ aku tidak apa-apa… jangan banyak berpikir Fany-ah..” ujar Taeyeon

Kedua maik yang saling melempar pandanganan dan menatap dalam.

 

“ tidak.. aku tidak sebaik itu untuk tidak tahu Tae. Maksudku..aku terlalu takut untuk bertemu dengannya. Aku tidak siap kau meninggalkanku lagi” lirihnya dan menggeleng kecil.

Mimpi buruk itu.. ia tak ingin mengulangnya lagi.

“ siapa yang mengatakan aku akan pergi. Lihat, aku masih disini. Aku tak akan bersembunyi dan menyakiti diriku dengan memandangmu dari jauh.. kau didepanku dan aku bahkan bisa menyentuhmu” Taeyeon tersenyum kecil.

 

*

Taeyeon mengusap rambut gadis yang memeluknya dengan erat. Sejujurnya ini menenangkan. Merasakan hangat pelukan dan kasih sayang yang selalu diberikan gadis itu padanya.

“ apa kau tertidur?” Taeyeon mengintip pada celah saat Tiffany semakin bergerak dalam ceruk lehernya.

“ ania.. aku ingin seperti ini” Tiffany berbisik kecil.

Taeyeon mengangguk mengerti. Matanya kembali focus pada layar datar didepannya. Tangannya memberikan usapan lembut pada gadisnya.

 

“ taetae..”

“ hum?” Taeyeon mengalihkan pandangannya saat Tiffany yang masih berada dipangkuannya kini menatap serius.

“ i-itu..”

“ kenapa? Apa kau lapar?” Taeyeon mengusap lembut pipi sedikit chubby itu dan mengecupnya cepat. Kenapa Tiffany begitu menggemaskan. Ini suatu kebanggaan bisa mendapatkan gadis ini sebagai kekasihnya.

 

“ Tae.. ayo kita hias pohon natal” Tiffany tersenyum dengan semangat. Menatap Taeyeon yang membelak kecil dan tertawa. Kenapa ia begitu tiba-tiba?

Taeyeon tersenyum lembut dan mengangguk.

“ tentu saja. apapun yang kau mau”

“ okay.. kalau begitu besok kita hias ya” Tiffany tersenyum dengan aegyonya. Membuat gadis lainnya semakin merasa gemas.

 

“ arra.. kenapa kau sangat menggemaskan ppanyy-ah” Taeyeon mencubit kedua pipinya dengan lembut.

Tiffany tersenyum. Kenapa setiap kata dan perlakuan gadis berambut hitam itu selalu membuatnya melayang? Ia kembali memeluk gadis itu erat. Menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher gadis lainnya.

“ Taetae.. manjakan aku”

Taeyeon menyeringai dan mengusap rambut itu dengan gemas.

“ tentu saja.. aku akan selalu melakukan hal itu”

~

Pagi di rumah mewah Taeyeon. Musim dingin semakin memaksa diri untuk berada dibalik selimut hangatnya. Tetapi lihat  gadis bereyes smile yang terus tersenyum sanagt lebar. Berbanding terbalik dengan Taeyeon yang sesekali menguap karena masih mengantuk. Siapa yang mengajarkan gadis cantik itu untuk bangun sepagi ini? Oke.. ini memang sudah menunjuk pada angka 8 pagi dan Taeyeon harus kuliah satu jam lagi. Hanya saja, kenapa gadis ini begitu senang membuat banyak keributan. Lihat..

 

“ Tae.. apa kita harus menghias yang ini juga?” Tiffany membalikkan badannya dan melihat pada satu gadis lainnya yang terlihat sangat tidak bersemangat.

“ hum? Ah.. itu..”

“ Ya!.. kenapa kau tidak kelihatan senang? Kau tidak suka aku menghias pohon natalmu?” Tiffany cemberut dan melipat tangannya didada. Menatap bosan pada Taeyeon yang sekali lagi menguap entah untuk keberapa.

 

Taeyeon tertawa kecil dan mendekat pada gadis yang masih berdiri diatas sofa. Tangannya melingkar penuh untuk memeluk gadis itu dengan lembut.

“ tidak seperti itu. kau tahu aku sangat mengantuk sayang..” ujar Taeyeon menenggelamkan wajahnya pada perut rata Tiffany. gadis lainnya tersenyum dan mengusap rambut hitam itu.

 

“ mianhae.. aku memaksamu bangun “ ujar Tiffany. kenapa ia menjadi begitu tidak peka? Harusnya ia mengerti gadis itu baru tidur dini hari karena mengerjakan tugas kuliahnya. Bukan apa, Taeyeon bukan type yang mengatakan bahwa ia belajar dengan keras. Semua tugasnya terbengkalai saat ia mulai memegang salah satu perusahaan keluarganya beberapa bulan yang lalu. Dan inilah yang sering terjadi. Mengejar waktu..

 

“ its okay.. kajja.. aku akan membantumu menghiasnya” Taeyeon melepas pelukannya dan tersenyum. Apakah ia bisa menolak gadis ini? Tidak mungkin.

“ love you tae” Tiffany tersenyum lebar dan mulai memanjat keatas sandaran kursi lagi dan meraih salah satu daun pohon tinggi itu.

*

“ aku akan menjemputmu nanti” Taeyeon mengecup keningnya sekilas dan melangkah menuju gedung yang berbeda. Tentu saja, bukankah mereka berbeda pada jurusan dan fakultas yang berbeda? Ah.. kenapa Tiffany menjadi begitu rindu pada sosok itu? padahal mereka hanya akan berpisah dua jam saja.

Tiffany tersenyum dan melangkah masuk ke kelasnya. Menatap ruangan besar itu dan menghela napas lega saat matanya tak menemukan orang yang paling dihindarinya.

 

Ia segera mengambil tempat disamping jendela dan menyimpan tasnya. Sekali lagi matanya menatap pada ruang kelas. Kenapa ia begitu gugup? Ia tidak tengah menanti sang kekasih yang dicintainya. Tentu saja, karena ia telah jatuh terlalu jauh untuk gadis lainnya. Tapi.. perasaannya mengapa menjadi kacau? Mendengar nama itu kembali hadir. Beberapa minggu setelah ia berhasil untuk melepas rasa berat dihatinya, dan sekarang.. ia begitu terkejut karena satu hal yang sama.

 

“ kenapa kau begitu tegang?” Tiffany tersentak dan menoleh. Menemukan gadis pirang yang menatap dingin dan tanpa menunggu untuk Tiffany mengerti keadaannya, gadis itu sudah duduk manis disampingnya. Okey, sekarang Tiffany mulai tak mengerti dengan pemikiran atau hal yang terjadi diantaranya.

Wait..

“ Jessica?” Tiffany mulai mengambil dirinya dan menunjuk gadis itu dengan wajah terkejut.

Hey..kenapa ia selalu digambarkan sebagai gadis yang lamban?.

 

Jessica menoleh padanya dengan wajah datar. Mengeluarkan handphonenya dengan malas dan mulai memutar music setelah memasang headsetnya. Mengabaikan wajah Tiffany yang kian mengeryit kearahnya.

“ yah! Apa yang kau lakukan?” Jessica merutuk kesal saat Tiffany merampas paksa handphonenya. Tentu saja headset yang masih bertengger ditelinganya ikut tertarik dan itu sakit.

“ apa? Harusnya aku yang bertanya Jessie, apa yang kau lakukan disini?” Tiffany menatap gadis itu dengan wajah yang sama, datar.

“ apa lagi? Tentu saja kuliah. Kau bodoh yah..” Jessica mengambil kembali handphonenya dan menatap Tiffany dengan aneh. Memangnya apa yang dilakukan seseorang di kampus jika bukan kuliah? Kenapa harus ditanya lagi?

 

“ aku tahu. Tapi, kau.. apa kau jurusan seni juga? Maksudku, kau mengambil fashion dan aku tahu hal itu” ujar Tiffany memperbaiki duduknya dan menghadap sahabat pirangnya dengan seksama.

Jessica menoleh padanya

“ tidak juga. Seseorang memaksaku disini…” ujar gadis itu dan bersiap untuk mengambil posisi tidur. Ini masih sangat pagi untuknya dan gadis lainnya begitu mengganggu untuk ia berada disini. Sepertinya ia sangat membutuhkan banyak tidur.

Jangan memandang Jessica seperti itu, bukankah menjadi rahasia umum jika ia memang suka tidur?

 

“ seseorang? Siapa?” Tiffany memiringkan kepalanya dan menatap Jessica dengan polos. Tatapan yang menyebalkan karena Jessica lantas melayangkan pukulan dikepalanya dengan sedikit keras. Entah kenapa, gadis didepannya begitu bodoh.

“ oghh.. itu sakit”

“ memang kau pikir ada yang berani menyuruhku jika bukan your Taeyeon hah?” Jessica menatapnya dengan kesal.

 

Tiffany mengerjapkan matanya kembali.

“ Taetae?”

Jessica kali ini benar-benara merasa ingin sekali memenggal kepalanya.

“ aish.. berhenti bertanya. Kau membuatku emosi” ujar Jessica dan menyimpan kepanya untuk tertidur. Meninggakan Tiffany yang kini tersenyum aneh dengan dirinya sendiri, merasakan ratusan kupu-kupu berterbangan diperutnya. Ini membuatnya mual, bukan karena tidak suka. Ini lebih.. seperti perasaan aneh karena.. jatuh cinta? Atau lebih dari itu. entahlah.. bahkan saat pipinya bersemu merah dan ia menjadi begitu malu dengan segala perhatian kecil gadis itu padanya.

~

Jessica menggigit kecil bibirnya, memandang sekitar kelas. Menyesali kenapa ia harus tertidur begitu nyenyak sampai gadis berdarah Amerika lainnya menghilang. Ini bencana jika Taeyeon mengetahuinya. Ia tahu dengan baik temperamen rendah mengerikan gadis itu.

“ aish.. Tiffany kemana kau” gumam Jessica menyusuri koridor besar. Mata coklatnya awas menatapi satu per satu mahasiswa disekitarnya.

 

“ Ya! Aku memanggilmu dari tadi”

Jessica berbalik dengan cepat saat mendengar suara kesal itu. matanya membelak terkejut menemukan gadis berambut hitam yang berdiri dengan melipat tangan di dadanya, dingin.

“ T-aeyeon..”

“ kenapa kau berakting seperti itu? aneh sekali. dimana Tiffany?” Taeyeon menyadari bahwa gadisnya tidak berada disana.

“ o-oh.. dia..”

“ dimana Tiffany?” suaranya menurun. Hampir berbisik. Tidak, ini bahkan lebih mengerikan karena taeyeon memandangnya dengan tajam, menuntut. Mengantarkan Jessica menelan ludahnya dengan susah payah.

 

Kenapa gadis yang bahkan lebih pendek darinya ini bisa sangat mengerikan? Bahkan untuk dirinya yang di juluki sebagai ‘ice princess’. Harusnya mata orang lain lebih teliti melihat hal ini. Gadis bermarga Kim yang tenang dan terlihat sangat baik ini adalah mahluk mengerikan yang pernah tercipta. Bukan wajah rupawannya yang kita bicarakan, tapi satu hal yang sering orang katakan sebagai kasih sayang. Taeyeon bisa berubah sedemikian berbeda jika menyangkut Tiffany, dan Jessica merasa sangat tidak beruntung karena terlibat didalamnya.

 

“ aku bertanya padamu Jessica Jung”

Jessica menarik napasnya.

“ s-sebenarnya aku..kehilangan dia. Saat aku bangaun dia-“

“ kau tertidur saat aku menyururhmu menjaganya?” Taeyeon menaikkan volume suaranya. Mengabaikan tatapan beberapa orang disana. Yang terlintas dalam pikirannya sekarang ada dimana gadis bereys smile itu. aneh sekali jika ia menghilang begitu saja dan bahkan tak membangun si tukang tidur.

 

Jessica menatap gugup pada gadis berambut hitam. Ia punya kesempatan untuk balik mengatakan bahwa ini bukan salahnya. Oh ayolah, ia punya kelas seharusnya dan ia meninggalkan hal itu demi menjaga Tiffany. tidak kah Taeyeon dapat mengerti posisinya sekarang? Tapi ia tahu, gadis didepannya tak benar-benar marah. Ia mengenal gadis lainnya dengan baik. Mungkin ia khawatir? Tapi hey.. bisa saja Tiffany yang mereka cari dengan gila-gilaan ada disuatu tempat dengan aman. Toilet mungkin?

“ yah..sorry untuk itu Taeng” ujar Jessica menyilangkan tangannya didada. Lagipula Tiffany bukan anak kecil. Yang menjadikan alasannya untuk berada dikelas sahabatnya bukan karena Taeyeon mengancamnya pagi tadi. Ia.. hanya menghawatirkan gadis cantik bermarga Hwang itu.

 

Taeyeon menghela napasnya dan berjalan menjauh. Mengabaikan pertanyaan gadis pirang yang menatapnya. Berdiri disana tak akan membuatnya bertemu dengan Tiffany. lagipula ia baru ingat mereka belum sempat sarapan. Setidaknya ia harus menemukan gadis itu dan mereka bisa mencari tempat yang bagus.

 

~

“ jadi kau..”

Tiffany tak berbicara banyak. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Menolak menatap laki-laki dengan T-shirt biru dan berompi hitam kulit itu. ia hanya tak ingin terlihat melemah. Setidaknya ia sudah mendapatkan satu kebahagaiaan yang sempat menghilangg dari harinya. Ia tak ingin melibatkan dirinya pada satu jalan lurus tapi penuh luka bersama kata ‘normal’ yang dibuat manusia diluar sana. Ia punya kehidupannya. Apa salahnya? Kenapa ia baru sadar untuk akhir ini? Sangat lucu.

 

“ tiff..”

Nichkhun mendekat padanya dan menggenggam tangannya. Menatap erat pada mata indah gadis keturunan Amerika.

“…”

“ aku m-mencintaimu.. sungguh.. a-aku-“

“ ck.. ayolah khun. Berhenti bermain seperti ini. Dia gadismu sedang kau masih mencintai mantanmu huh? Jangan menyakiti Bora seperti kau menyakitiku. Dia tetap temanku dan aku tak bisa memaafkanmu jika kamu melakukannya” Tiffany menyentak kasar tangan laki-laki itu. menatapnya dengan tajam. Satu sikap yang tak pernah dilihat sebelumnya. Ia hanya… muak?

 

“ Tif.. a-aku.. maksudku.. aku sangat menyayanginya. Tapi..aku tak bisa melepasmu tif” Nichkhun menatapnya dengan wajah putus asa.

Tiffany membelak matanya.

“ oh jadi kau mencintai antara kami berdua? What the- cih.. apa kau pikir aku akan menerima hal itu? kau tidak bisa melepasku kau bilang? Kalau begitu aku yang akan melepaskanmu. Untuk kebahagiaanku sendiri” ujar Tiffany dengan emosi. Ia menatap tajam laki-laki yang hanya terdiam dengan wajah susah.

 

Ah.. kenapa ia bisa mengenal satu makhluk yang bahkan memiliki pemikiran begitu egois seperti ini? Bahkan saat ia memutuskan untuk meninggalkan perasaan bersalah, kenapa harus pada laki-laki ini? Menyadari satu kejadian yang membuatnya lebih muak.

“ a-aku.. aku tidak bisa menghindarinya Tiff.. kau tahu hal ini” Nichkhun menggeram kesal pada dirinya sendiri. ia kembali mendekat pada gadis ber eyes smile yang melangkah mundur.

“ khun..”

 

Tiffany menatap laki-laki itu dengan wajah bersalah. Yah, bagaimanapun semua juga berawal darinya. Andai saja ia tak pernah berpikir melupakan perasaannya pada Taeyeon, andai saja ia tak memiliki perasaan untuk pembuktian diri, andai saja ia tak mencoba untuk menarik banyak perhatian dari orang lain, andai saja.. dan sekali lagi, itu hanya sampai kepada pemikiran saja. semua sudah mulai terjadi dan dirinya bahkan membawa banyak hati untuk dilukai. Membingungkan..

“ kembali padanya..” ujarnya setelah tenggelam dalam kediaman. Suasana begitu hening saat suaranya menyentak keras pendengaran laki-laki berambut coklat itu.

“ a-aku.. tidak bisa”

Tiffany menggeleng dan tersenyum.

“ tidak.. kau harus kembali. Jangan memutar bahumu untuk melihat masa lalu. Aku tahu seharusnya nasehat ini untuk diriku sendiri, tapi.. “ Tiffany menunduk dan menggigit pelan bibirnya.

Benar.. sudah seharusnya..

 

Tiffany kembali mendongak. Kali ini dengan perasaan sedikit lega. Seolah beban dalam hatinya akan terangkat begitu saja. setidaknya, pada detik selanjutnya ia bisa membebaskan diri dari perasaan bersalah dan terluka. Sudah terlalu banyak permainan dan ia mulai kelelahan.

“ hey.. kita masih bisa berteman. Lupakan apa yang terjadi dimasa lalu. Aku tidak membencimu atau dia dengan begitu dalam. Kalian ada untukku saat aku terjatuh dan menopangku dengan baik. Aku banyak berterimakasih untuk itu” Tiffany tersenyum dengan tulus.

 

Nichkhun, laki-laki itu menatap gadis didepannya dengan wajah yang sulit diartikan. Dipandangnya mata kecoklatan indah itu, menembus dari kabut atau genangan kaca bening yang mulai pudar.

Tidak, gadis itu benar-benar melepaskan dirinya dengan iklas. Mungkin satu dari sekian sakitnya sudah tertutupi. Apakah oleh perpisahan ini? Atau orang lain yang baru telah hadir dalam dirinya sekali lagi? Entahlah.. mungkin Tiffany memang tak berniat untuk menjadikan dirinya sebagai pendengar segala cerita keseharian.

“ kau tumbuh menjadi gadis yang lebih matang setelah dua tahun Tiff” ujar Nichkhun dan membuang pandangannya kearah air mancur disamping kanan. Memandang arah sepi dari belakang gedung tinggi yang berdebu.

“ yah.. itu adalah suatu pujian yang bagus” Tiffany memandang keluar jendela tepat kearah jalana. Ia tersenyum kecil dan mengambil tasnya yang tergeletak diatas meja kafe. Ini sangat sepi.. mungkin orang lebih memilih berada diluar dan menikmati pemandangan salju beterbangan dibanding berada dalam ruangan hangat yang tertutupi kaca.

“ aku akan pergi. Tolong jaga kesehatanmu dengan baik” Tiffany menepuk pundak laki-laki yang masih betah dengan tatapan kosongnya.

“ ne.. kau juga Tif.. sampaikan salamku untuknya” ujar Nichkhun dengan suara kecil.

Apa ia terluka?

“ tentu.. aku pergi”

 

Kali ini, ia tak ingin berbalik. Mungkin untuk terakhir kalinya, dan ia menerima perasaan aneh untuk seorang gadis.

Benar.. ini adalah jalan yang harusnya aku ambil sejak dulu.

 

Tiffany tersenyum dan melangkah dengan cepat. Sepasang lengan merangkulnya dan membawanya dalam pelukan hangat.

“ kau harus mengatakan jika akan pergi kesuatu tempat. Jangan membuatku gila mencarimu seperti ini” suara serak itu membuatnya melepaskan diri dan memandang tepat pada bola matanya.

“kau mencariku? Aku hanya bertemu dengan teman lama” Tiffany menangkup rahang yang terpahat begitu sempurna itu dengan lembut.

“ aku hanya khawatir”

 

Tiffany tersenyum semakin lebar.

“ mianhae.. kalau begitu aku akan sering membuatmu khawatir” Tiffany terkekeh kecil bahkan wajah Taeyeon yang melotot kaget padanya membuatnya semakin tertawa.

“ mwo?!”

Tiffany terkekeh dan mengulurkan tangannya mencubit kedua pipi gadis berambut hitam.

“ aigoo.. kau sangat menggemaskan”

 

“ ya.. kau mempermainkanku oh?” Taeyeon mempout bibirnya dengan kesal dan menarik Tiffany mendekat. Mendekap gadis itu dengan lembut.

“ hihi.. “

“ aku mencintaimu sayang” bisiknya lembut.

Tiffany tersenyum dan menutup matanya. Bergerak lebih dekat pada ceruk leher Taeyeon. Gadis ini.. lebih berharga  dari yang pernah ia temui. Kenapa ia bisa menyiakan gadis ini dulu?

“ aku juga mencintaimu Taetae..sangat”

 

Mungkin benar jika orang mengatakan untuk mendengar kata hatimu. Bukan bisikan jahanam atau ocehan terlalu panjang. Dan kini aku mengerti bahwa cinta itu adalah perasaanku. Bukan mereka yang terlibat dan bukan mereka sebagai main castnya. Sayang sekali..aku belum mengatakan hal ini.

Hey Taeyeon.. aku ingin sekali berteriak sekarang. Bahwa aku, Tiffany Hwang.. berhenti melakukan hal bodoh. Bisakah kita akhiri permainan ini? Oh tidak, memang sudah seharusnya kita akhiri.

Tae.. aku menyerah ^-^ mari hidup lebih baik dari sekarang.

Aku mecintaimu boo~

End~

Advertisements

29 thoughts on “Complete 4 (End)

  1. 😊 happy ending hanya karna ke tidak normalan cara pandang mrk melihat TAENY dgn sendiri nya game over Jg permainan mrk dgn happy ending.. keren walau pun saat itu pany lah yg mutusin dan ninggalin tp liat lah hati mrk kembali ke masa lalu dgn membenahi urusan Yg memang bukan topic untuk nikon..

    Liked by 1 person

  2. Kukira ending taeny bakal married hehehe
    Tadi pas baca bener2 ngeblank sampai harus buka chapter awal dulu ✌😁
    Thankss thor

    Like

  3. Huaa akhirnyaa apdettt.. Harus baca ulang part sebelumnya gegara lupa wkwk..
    Akhirnyaa mereka bersatuuu senangnyaaa 🙌 luv taeny 💜
    Btw kak, something kapan apdet? Aku udh lama nungguuu 😭

    Like

  4. Happy ending perlu sequel nih wkwk perkataan taeyeon diawal di bilang tiffany akan kembali padanya eh memang benar seberapapun tiffany mencoba permainan itu dia akan tetap menyerap juga ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s