Complete 3

Title : Complete 3

Author : –

Cast : Taeny

Genre : Yuri, Romance

Enjoy~

 

sebelumnya author cuma mau ngasih tau, sekarang author mosting ff juga AFF, bagi siapa yang lebih nyaman baca fanfict disana bisa juga kunjungin ff author yang diposting. meskipun baru dibuat hari ini dan isinya masih seputar yang disini saja,

https://www.asianfanfics.com/story/view/1249800/something-changes-taeny

thank you. oh, kalau berkunjung jangan lupa di subscribe yah 😀

Flashback

Jessica menatap gadis berambut hitam yang hanya terus menatap lurus kearah taman. Ia tahu gadis ini menahan sesuatu melihat hal lainnya.

“ kenapa kau tidak mengatakan saja kalau kau mencintainya Taeng”  ujarnya malas.

Taeyeon tersentak dengan ucapan itu dan perlahan berdiri dari posisinya yang bersembunyi di semak belukar. Pertanyaanya, kenapa ia melakukan hal itu? lihat disana.. dua orang yang berdiri berhadapan sudah menaraik segala emosinya. pertama karena gadis itu salah satu sahabatnya, kedua.. karena mungkin ia memang terlalu jauh menyayangi gadis itu.

“ apa maksudmu Jess”

Jessica mendengus pelan. Mencemooh.. kenapa gadis yang jelas ia tahu segala apa yang disembunyikannya itu masih berpura-pura?

“ kau bukan aktris yang baik. Kau berbohong dan mudah sekali aku mengetahuinya. Hentikan acting burukmu Taeng. Kenapa kau tak bisa jujur dan katakan semuanya…” Jessica melipat tangannya.

Taeyeon menghela napasnya. Ia bukannya tidak ingin jujur, mereka bahkan sudah jauh dan buruknya, tidak ada yang tahu itu.

“ apa yang kau bicarakan sih Jessica? Aku tidak paham”

Jessica menunjuk pada kedua orang itu.

“kenapa kau mengikuti Tiffany?”

Taeyeon menatap pada gadis itu. Tiffany Hwang. Kenapa ia mengikutinya? Ia tak tahu, melihat mereka mendekati Tiffany dan kakinya atau hatinya bergerak dengan sendiri begitu saja.

“ laki-laki itu bukan orang yang baik untuknya”  ujar Taeyeon sinis.

Lee Donghae, bagaimana mungkin laki-laki itu tak pernah menyerah sejauh ini. Baru bulan kemari ia menyatakan rasa tertarikya  pada Jessica tentu saja gadis berwajah dingin itu tak menanggapi. Dan sekarang, bisa-bisanya ia mendekati Tiffany. sudah jelas, laki-laki itu hanya mengikuti rasa ingin terkenalnya. Bagaimanapun Taeyeon dan sahabatnya yang lain memang memiliki daya tarik hingga menjadi idola sekolah.

Dan cukup buruk untuknya karena begitu menginginkan agar tak ada yang mendekati sahabatnya, terutama Tiffany Hwang. Ia tak mengerti apa yang menjadi alasannya. Tapi, perasaanya selalu menolak setiap ada yang mendekati gadis itu. seperti sekarang, begitu konyol saat ia langsung mengikuti mereka dan memastikan bahwa gadis itu akan aman. Tidak, ia tak begitu mempercayai orang lain.

“ di matamu, tak ada yang baik bagi Tifany. Semuanya.. karena apa? Jelas.. kau mencintainya” Ujar Jessica menatapnya dengan tajam.

Hening..

Taeyeon tak mampu mengatakan apapun. Selalu seperti ini. Ia tak akan bisa menyembunyikan perasaanya dengan baik jika didepan mata Jessica. Entah bagaimana gadis berambut pirang itu dapat menebak dirinya dengan baik.

“ woah.. aku bahkan tidak bagus untuk berakting yah. mungkin benar. Karena itu, aku akan memastikan bahwa dia akan bahagia” ujar Taeyeon pelan. Sangat lirih.. namun cukup untuk ditangkap telinga Jessica yang berdiri didepannya.

~

“ apa Taetae ada dirumah?” Tiffany menatap pada salah satu pelayan gadis itu.

“ nona Kim ada dikamarnya, nona Tiffany”

“ ah oke” ia melangkah memasuki rumah mewah kediaman keluarga Kim. Bukan hal asing ketika ia tumbuh dengan gadis itu sejak kecil. Para pelayan dan pekerja dari keluarga Kim sudah mengenalnya dengan baik. Ia memiliki hak penuh untuk keluar masuk bahkan jikapun keluarga yang bersangkutan tak ada dirumahnya.

“ ingin minum apa nona Tiffany”

Tiffany menghentikan langkahnya dan berbalik.

“ Orange Juice, Ice Americanno… um.. terserah, aku sangat butuh es. Diluar panas” ujar gadis bermarga Hwang itu kembali menaiki tangga.

Kakinya dengan sendirinya melangkah menuju kamar yang berada dilantai dua dan berbelok kiri. Ia berhenti didepan pintu bercat coklat tembaga dan bertuliskan nama Tae’s Room. Tangannya terulur dan ia memutar knop pintu. Matanya langsung menatap pada gadis yang masih menggunan seragamnya tertidur terkelungkup diatas ranjang.

“ tae…”

Ia menyentuh bahu gadis lainnya. Ia tahu jelas gadis itu tidak tengah tertidur.

“ tae.. apa kau marah?” kali ini mencoba untuk menarik gadis itu hingga Taeyeon berbaik padanya. Wajahnya mendingin. Tiffany tahu betul hal ini, gadis itu marah.. padanya.

“ ta-“

“ selamat” Taeyeon tiba-tiba bangkit dari posisinya. Mengambil tempat tepat didepan Tiffany.

“ ha?”

Tiffany menatap bingung saat satu kata itu terucap begitu saja.

“ selamat..  kau sudah berpacaran dengan laki-laki itukan?” ujar Taeyeon dengan sinis. Tiffany tersentak begitu saja. Darimana arah pemikiran gadis itu berasal?

“ tae..”

“ tidak apa-apa. Aku mengerti. Lagipula dunia tak akan menerima jika aku mencintaimu kan?” ujar Taeyeon tersenyum. Tidak, ia menutupi rasa sakitnya dengan itu. siapa yang akan rela begitu saja saat gadis yang kau cintai juga dicintai orang lain. Hanya orang bodoh yang bisa mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, dan Taeyeon juga salah satu diantaranya.

“ Tae..”

“ aku bahagia jika kau bahagia Fany-ah. Pada awalnya memang kita tak bismmmppphhh..” Tiffany bergerak untuk mengunci bibir tipis itu dengan bibirnya. Cukup. Gadis ini terlalu jauh mengambil kesimpulannya. Ia merasakan Taeyeon mendorong dirinya dengan lembut dan Tiffany tidak begitu saja menurutinya.

Ia kini mendorong tubuh Taeyeon hingga gadis itu berada dibawahnya.

“ hahh…hahh..” keduanya saling memburu napas. Memandang pada manik lainnya dan tersenyum.

“ untuk apa itu?” Taeyeon mengerjapkan matanya dengan polos.

Tiffany mempout bibirnya kesal dan nemandang gadis dibawahnya dengan tajam.

“ apa kau ingin lari Kim Taeyeon?”

Taeyeon mengerutkan keningnya kecil.

“ lari dari ap-“

“ kau.. setelah kau menarikku sejauh ini melewati garis takdir Tuhan, kau akan lari dan meninggalkanku? Apa kau pengecut Kim?” Tiffany menatap manik itu dengan tegas.

“ ya!! Siapa yang kau panggil pengecut” Taeyeon mengerutkan dahinya dan cemberut. Satu reaksi yang begitu Tiffany sukai melihat hal ini. Ia terkekeh kecil menatap pada Taeyeon dan mengecup pipinya.

“ tentu saja kau. Jika bukan pengecut lalu apa? Kau bahkan tak mendengar penjelasanku dan terus mengoceh banyak. Hey.. kau harus belajar mendengarkan orang lain disekitarmu, seperti Jessica mungkin?” Tiffany menatap intens padanya.

Taeyeon kembali menoleh.

“ kau.. kau mendengar.. kami?”

Tiffany terkekeh kembali. Ia menyingkir diatas Taeyeon. Sangat aneh rasanya ia begitu menyukai untuk disamping gadis ini. Mereka sahabat? Tentu saja.. tetapi, masih dengan drama perasaan masing-masing tokoh utama yang menyelingi.

“ tentu saja. Aku tidak bodoh untuk tidak tahu bahwa kalian mengikutiku” ujar Tiffany membantu Taeyeon bangkit.

“ kau-“

“ aneh sekali, kalian berusaha untuk bersembunyi sedang semak itu sangat pendek. Bahkan ayam saja bisa kelihatan apalagi bayi besar seperti kalian berdua” ujar Tiffany dan tertawa keras. Mengabaikan taeyeon yang merutuki kebodohan dirinya sendiri. Oh.. juga merutuki gadis pirang yang tertular virus bodohnya.

“ mianhae..”

Tiffany menghentikan tawanya. Ia tersenyum pada satu gadis lainnya yang tertunduk disana. Menggemaskan.. reaksi merasa bersalah yang begitu menggemaskan.

“ kau tidak bersalah. Lagipula, aku merasa sedikit aman saat kalian disana. Jadi jika laki-laki itu melakukan sesuatu aku bisa tertolong” ujar Tiffany melempar senyumannya.

Taeyeon mengangguk kecil. Melempar pandangannya keluar jendela besar.

“ kau membolos?”

“ tidak. Aku minta izin pulang lebih dulu. Aku tidak bisa membiarkan gadis yang tengah marah itu semakin menyendiri” ujar Tiffany mengambil salah satu buah yang ada diatas meja belajar gadis lainnya. Ia berbalik mengamati Taeyeon yang masih begitu menikmati sinar yang terpancar diluar jendela.

“ aku tidak marah. Aku tidak punya alasan untuk melakukannya”

Hening~

Tiffany menghela napasnya kasar. Ia begitu membenci gadis yang terus berpikir terlalu jauh.

“ tae..”

Taeyeon tak segera menoleh. Ia mendekat kembali.

“ lihat aku saat aku berbicara padamu” ia menangkup pipi gadis itu degan sedikit paksa menolehkan padanya.

“ tak bisakah kau sedikit lebih berani mengatakan apa yang kau pikirkan? Lebih nekatlah dengan dirimu sendiri. Kau terlalu takut dengan segala hal dan kau selalu menyerah sebelum mencobanya. Apa kau berpikir bahwa semua yang terjadi ini salah?” ia memadang gadis itu dengan tegas.

“Oke jika kamu memang mengatakan bahwa tidak ada yang benar saat dunia terus mengatakan opini mereka, tapi Berhentilah memperlakukanku sama dengan mereka. Lihat aku dan katakan, apa aku tidak berarti apa-apa?” ujar Tiffany lirih. Ia melepas perlahan tangannya. Belum sampai disana taeyeon segera meraih tangannya kembali.

“ mianhae..”

“ no.. aku tak butuh hanya kata-kata Taeyeon”

“ Fany-ah..”

“ aku tak bisa melepasmu tae. Kau yang lebih dulu menarikku kejalan ini. Kau yang lebih dulu mengajarkanku, kau yang pertama kali datang dan mengatakan perasaanmu. Apa sekarang berubah? Setelah kau berusaha begitu jauh..” Tiffany menghela napasnya kasar.

Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Taeyeon. Kenapa ia selalu berakhir seperti ini. Semua berjalan baik, semua baik-baik saja.. tapi apa ini? Seorang gadis yang tenggelam dengan kesimpulannya dan mengabaikan perasaannya. Siapakah yang memulai ini semua? Bukankah Taeyeon? Dia yang datang dengan terang-terangan dan menumpahkan segala yang dipendamnya. Bodohnya, Tiffany begitu saja mempercayai hal itu.

Semua yang dilakukannya. Ia bahkan mengabaikan perasaan bersalahnya akan dosa yang dilakukannya. Ia ingin menikmati perasaan aneh yang tumbuh dalam hatinya. Tapi setelah berjalan seperti ini, cih..

“ teruslah seperti itu Taeyeon. Kau mengecewakanku” Tiffany mengambil tasnya yang tergeletak diatas lantai dan mulai melangkah.

Belum sampai Ia menyentuh knop pintu Taeyeon segera memeluknya dari belakang. Ia merasakan napas gadis itu terengah kasar. Menahan diri..

“ jangan pergi. Kumohon…”

“ lepaskan aku Tae”

“ tidak”

Tiffany berhenti mencoba memberontak. Membiarkan gadis itu tetap memeluknya.

“ mianhae…”

Tiffany kembali menghela napasnya.

“ Tae..”

“ aku tidak bisa kehilanganmu Fany-ah. Semua pemikiranku… aku terlalu jatuh dengan segala hal yang aku takutkan. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.. tolong jangan mengatakan bahwa segalanya adalah kepalsuan. Lihat aku, aku begitu menyedihkan bukan? Aku mencintaimu dan itu membuatku merasa bahwa aku telah menyakitimu” Taeyeon terisak kecil. Ia menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Tiffany.

“ Tae..”

“ karena aku mencintamu.. aku selalu berpikir bahwa beban selalu mengikutimu. See.. semua menjadi begitu kacau sejak kau juga mencintaiku. Apa ini.. aku tak datang untuk menyakitimu” ujar Taeyeon.

“ I know.. kau tak datang untuk membuatku susah. Lalu, apa kau lihat aku juga seperti itu? apa aku terlihat sangat lemah?” ia berbalik. Menatap wajah Taeyeon dengan seksama.

“ kau cengeng..’’ ujarnya mengusap air mata gadis lainnya.

“……”

“ kau menjagaku selama ini. Apalagi yang aku butuhkan. Aku tidak mengharapkan kebahagiaan lain jika itu bukan kau Tae. Pliss..”

“ fany-ah..”

“ aku mencintaimu”

Satu kalimat.. dan ia merasakan perutnya aneh denga mendengar hal itu.

“ aku juga mencintamu. Sangat..”

“ kalau begitu jangan pergi..”

“ fany-ah..”

“ aku tau kau akan pergi Tae. Aku tahu segalanya. Kau tak bisa menyembunyikan apapun dariku. Itulah yang membuatku  merasa bodoh..”

Hening..

Etah untuk kali berapa. Hanya dalam waktu pertemuan ini, mereka bahkan membahas begitu banyak masalah. Setidaknya, semuanya harus terselesaikan sekarang.

“ aku tidak akan meninggalkanmu”

“ bohong”

“Untuk apa aku melakukannya hum? Aku tak punya alasan untuk pergi” Taeyeon mengusap pelan pipi itu lembut. Menyalurkan rasa sayangnya.

“ apa buktinya?”

“ kau butuh apa untuk aku membuktikan hal itu sayang?”

Keduanya kembali berpandang dalam. Menyelam dengan manik pasangannya masing-masing. Apa taeyeon pernah mengatakan bahwa mata gadis didepannya sangat indah? Ia menyukai senyuman yang selalu dipancarkan dari mata itu. gadis yang begitu ia kagumi..

“ cium aku” ujar Tiffany menarik pikiran Taeyeon kembali dari alam lamunannya.

“ne?” Taeyeon Memandang Tanya. Apa ia salah mendengarnya? Sepertinya teliganya bermasalah sekarang.

“ cium aku” ulang Tiffany namun sedikit malu.

Taeyeon menyeringai sebelum menarik pergelangan tangan Tiffany dengan lembut. Ia tak langsung mencium Tiffany seperti yang diharapkan gadis itu. ia memainkan dirinya untuk memandang mesra pada mata indah gadis lainnya. Mengirimkan gelombang aneh yang semakin membuat Tiffany merasa tak sabar untuk segera menikmati bibir pink itu.

“ Tae..” saat ia akan mendekat Taeyeon kembali melempar smirknya dan menempelkan telunjuk pada bibir tipis Tiffany. membuat gadis itu mendengus dengan kesal.

“ belum saatnya sayang~” bisik Taeyeon

“ tae.. berhenti menggodaku”

Taeyeon terkekeh dan perlahan mendekatkan diri pada Tiffany. ia segera melahap(?) bibir tipis itu dengan miliknya. Memainkan area lembut itu dengan baik, memonopinya.

Harum nafas keduanya saling memburu dalam emosi, nafsu, Cinta.. sensual.. rasa kepuasan.. kehausan.. semua tenggelam dan menjadi satu. Saat tangan saling mendekap dan lumatan yang semakin dalam.

Taeyeon melepas pagutan mereka karena menyadari gadis itu membutuhkan oksigen. Ia memandang tiffany yang terengah dengan dirinya sendiri. Sangat menggemaskan menemukan gadis itu begitu larut dalam diri mereka.

“ aku tak bisa melepasmu Tae..” lirih Tiffany.

“ tak akan..”

“ awas saja kau melakukannya. Aku akan memenggalmu” bisik Tiffany tajam. Ia menemukan dirinya telah memeluk tubuh gadis lain. Menghirup harum blueberry rosewel yang selalu menjadi tanda bahwa Taeyeon disampingnya.

“so possessive” bisik Taeyeon.

“ tentu saja. Aku tak akan membiarkan seseorang yang sudah mencicipiku pergi begitu saja”

*

“ t-taeyeon..” Tiffany hanya mematung saat gadis itu sudah bangkit dari posisinya yang menghajar laki-laki dibawah mereka. Ok Taecyeon.. laki-laki itu hanya dapat memburu napasnya yang hampir hilang setelah Taeyeon melepaskan banyak sekali pukulan pada wajahnya.

Taeyeon berbalik dan menatap tajam pada Tiffany. mata onixnya menggelap. Ia melepas jaketnya dan mendekati gadis yang berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri. Bajunya kusut dan beberapa sobekan disana sudah menjelaskan segalanya. Ia benci mengatakan hal ini. Ia benci melihat air mata gadis ini. Ia benci melihatnya susah.

“ lihat apa yang aku katakan untuk tidak dekat dengan bajingan-bajingan itu Fany-ah. Apa kau tak mengerti aku mengkhawatirkanmu?” Taeyeon menggeram marah. menempatkan jaketnya untuk menyelimuti Tiffany. gadis lainnya itu lantas langsung menubruknya dan menangis.

Taeyeon menghela napsnya dan mengusap bahunya untuk menenangkan. Malam gelap dibelakang gedung tua. Sialan.. Ia begitu marah sampai tak bisa mengontrol emosinya sendiri. Taeyeon melepas pelukannya setelah meyakini gadis itu telah tenang.

“ berhenti menangis” ujarnya pelan. Semarah apapun dirinya, ia tak akan bisa mengabaikan Tiffany.

“ m-mian-hae.. hiks..”

“ tidak apa-apa.. “ Taeyeon berusaha tersenyum. Tidak, siapa bilang ia tidak sakit? Menemukan gadis yang dicintainya berkencan dengan orang lain, apakah ia baik-baik saja? Tidak. Terlebih ia mempercayai begitu banyak gadis didepannya.

“ no.. k-kau..” Tiffany menatap pada Taeyeon dengan rasa bersalah. Hanya saja, ia ingin membuktikan dirinya. Apakah ia kini telah membelok? Ia.. tak mempercayai dirinya. Jika kau mengira ia adalah gadis yang akan mempermainkan perasaan Taeyeon, maka kau salah besar. Ia sangat mencitai gadis itu. sangat.. dan inilah ia yang dapatkan.

“ kajja.. aku akan mengantarmu pulang. Paman Hwang menelponku dan mengatakan kau belum pulang. Mereka pasti khawatir” Taeyeon menariknya menjauh. Memebawa gadis itu menuju mobilnya meninggalkan Taecyeon dan dua temannya yang pingsan disana. Atau mungkin sekarat? Terserah..

Ia membukakan pintu bagi Tiffany dan gadis itu masuk.

Mobil membelah jalanan yang cukup lenggang itu dengan kecepatan sedang. Tak ada percakapan. Sesekali Tiffany akan melirik pada Taeyeon yang terlihat sangat focus dengan kemudinya. Sudah pasti, gadis itu.. membencinya.

“ kita sampai..” Taeyeon menghentikan mobilnya didepan gerbang rumah bertingkat dua milik Tiffany.

“ Tae..”

Taeyeon turun dan membukakan pintu untuknya.

“ masuklah.. sampaikan salamku pada paman dan bibi”

Saat ia akan berbalik Tiffany menahan tangannya. Ia kembali menghadap pada gadis itu menunggu kalimat yang akan diucapkannya.

“  Tae.. a-apa kau mem-benciku?” ia bertanya lirih. Tak berani memandang pada wajah gadis lainnya yang menatapnya dengan wajah dingin. Gadis itu, Kim Taeyeon memang terkenal paling tidak bersahabat dengan orang lain, tapi tidak kepada sahabatnya terutama Tiffany. gadis hangat yang memiliki senyum tulus dan lembut. Tapi.. siapa gadis yang berdiri didepannya sekarang? Seolah ia kehilangan gadis itu.

Of course I lost her..

“ tidak.. aku tak akan pernah bisa membencimu Fany-ah..” ujar Taeyeon setelah menghela napasnya.

“t-tapi..”

“ Choi Siwon, Gray, Kris dan sekarang Taecyeon.. Fany-ah.. lihat aku dan sadari bahwa aku tidak selemah itu. semua laki-laki yang berada disekitarmu, apa kau juga menginginkan mereka?” Taeyeon menatapnya dengan sayu, sedih. Mengapa ia begitu mencintai gadis ini.

“ pembuktian dirimu karena tak menerima untuk menyukai seorang gadis hum? Maaf saja untuk hal itu Tiffany” Ujar Taeyeon mengepal kuat tangannya. Ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri. Kenapa ia begitu meginginkan gadis didepannya melebihi orang lain? Ia harusnya selalu berada pada garis aman untuk dirinya sendiri dan bersembunyi dengan meyakini dirinya bahwa ia akan baik-baik saja.

“ t-tae..” isak Tiffany kembali. Ia tak menyukai perkataan gadis itu. ia tahu Taeyeon menyalahkan dirinya sendiri. Hanya saja, semua yang terjadi bukan kehendak gadis itu. benarkan? Tuhan memberikan kesempatan pada mereka untuk menikati rasanya cinta dan anugerahnya.. hanya saja. Sebuah kesalahan karena ia menginginkan dirinya pembuktian bahwa ia straight? Benar? Setelahnya..

“ kau mendapatkannya Tiffany. jadi mari kita bersahabat dengan baik..aku.. aku akan menjaga jarak denganmu” ujar taeyeon memaksakan senyuman. Tiffany mendongak menatapnya dengan terkejut. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa gadis itu baru saja mengatakan hal yang salah.

“ –t-tae.. apa kau..”

“ pada awalnya kita memang harus seperti itukan?” senyumnya masam.

“ tidak.. tolong jangan seperti ini..”isak Tiffany kembali. Membayangkan berjauhan dengan gadis itu.. apa ia bisa melakukannya? Tentu saja Tidak.

Taeyeon mendekat padanya. Menatap Tiffany dengan senyumannya.

“ aku akan bertahan dengan garis yang kau buat Fany-ah.. berputar dengan lingkar persahabatan itu. mari kita bermain Sesutu yang menyenangkan.. kau silahkan memiliki hubungan dengan siapapun yang kau inginkan.. aku tak akan mengganggunya. Saat kau sudah menyerah, datanglah padaku… aku akan ada disana untukmu” Taeyeon menatapnya dengan senyumannya. Hanya saja… beberapa bulir berjatuhan dari mata gelapnya… ia menangis. Tentu saja, ia terluka. Ia mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Ia mencintai gadis ini, sangat.. satu perasaan yang ia tak bisa bohongi bahkan jikapun Tuhan mengatakan bahwa ia bersalah diatasnya.

Ia mendekat. Mengecup lembut dahi gadis didepannya. Mereka sama-sama merasakan emosi disana..

Angin malam terasa melambat saat kemudian Taeyeon melepas ciumannya.

“bahkan jikapun orang melihat dia adalah orang sempurna, hatimu akan kembali padaku sayang.. aku yakini hal itu” ujar Taeyeon kembali.

“ Taeyeon..”

“ sayonara.. Tiffany.. permainan dimulai saat aku pergi. Aku mencintaimu

Dan ia pergi..

Tenggelam dalam dirinya sendiri Tiffany menemukan bahwa hatinya begitu sakit. Menangis dalam diam. Ia meremas keras jaket milik Taeyeon.

“ Tif..” Jessica yang baru turun dari mobilnya langsung mendekat pada gadis itu.

“ Jessie..”

“ hey.. kau tak apa-apa?.. Taeng menelponku dan memintaku menemanimu. Apa kau baik-baik saja? Tif..” Jessica langsung memeluk sahabatnya. Satu kenyataan dimana pertama kalinya ia menemukan gadis itu begitu rapuh.

“ d-dia pergi.. dia pergi Jessie.. dia pasti sangat membenciku..” isak Tiffany semakin keras.

  • Tolong temani dia.. aku mungkin akan baik-baik saja, tapi tidak dengan fany.. dia, lebih rapuh dari yang kita lihat. Jaga dia jes. Aku bisa mempercayakannya padamu..
  • Taeng? Dimana kau sekarang? Dia menangis..
  • Aku selalu disampingnya…
  • Apa kau baik-baik saja?
  • Tentu
  • katakan padaku kau dimana?
  • ………..
  • Taeng?

Jessica menatap aneh pada pesan terakhir dan tetap memeluk sahabatnya yang lain. Apa mereka bertengkar? Ia menemukan bahwa Tiffany mengatakan segalanya. Suatu hal mengejutkan karena mereka begitu baik menyembunyikan hal sebesar itu dari semua orang.

Setelahnya, ia menemukan kenyataan lain. Gadis itu, Kim Taeyeon.. pindah ke German keesokannya. Dan kediaman serta perubahan pada gadis ber eyes-smile. Entah kenapa.. gadis itu.. menjadi begitu bersahabat dengan laki-laki. Setiap senyuman yang dilemparkannya, menarik perhatian bagi lawan jenis.. tapi..

“ kau menyembunyikan air matamu. Benarkan Tiffany?” lirih Jessica dan menutup bukunya.

End flashback

*

Tiffany menatap pada kampus barunya. Setelah meminta banyak sekali permohonan pada ayahnya akhirnya ia bisa setidaknya berada disini, bersama Taeyeon.

“ pendaftaran mahasiswa baru sudah ditutup. Bagaimana bisa kau berada disini dan mengatakan bahwa kau kuliah disini hum?” Sunny mengambil tempat berdiri disampingnya. Berseberangan dengan sirambut pirang yang menguap kecil dan menganggukkan kepalanya meminta jawaban.

Ahh kedua gadis ini. Apa mereka tidak bisa membiarkannya sejenak untuk mengamati keadaan sekitar mereka. Setidaknya biarkan mata indah ini untuk menemukan jejak gadis berambut hitam yang sudah menghilang setelah mereka turun dari mobilnya.

“ siapa yang kau cari? Berhenti mengabaikan kami Tif” ujar Sunny menarik kedua bahu Tiffany untuk menatap padanya. Menemukan gadis ini seminggu yang lalu, malamnya gadis itu mabuk dan paginya bahkan tak pulang kembali ke apartemennya.

“ tidak ada. Aigoo.. aku bahkan tidak mengabaikan kalian. Lihat.. aku berdiri disini dan aku bersama kalian. Bukankah aku juga akan kuliah disini. Itu artinya begitu banyak pengorbananku untuk bertemu kalian..see?” ujar Tiffany tersenyum dan melepaskan dirinya dari cengkramana tangan mungil Sunny pada bahunya. Hey.. itu sedikit sakit. Tidak bisakah ia lembut sedikit?

“ I see.. tapi itu bukan jawaban atas pertanyaanku nona Hwang” ujar Sunny sedikit kesal. Tidak, ia tak bisa marah pada gadis ini. Ia hanya khawatir. Bagaimanapun mereka tidak bertemu dalam waktu beberapa lama dan pertama kalinya Tiffany menangis begitu banyak dibahunya. Dan hari ini, ia tersenyum dengan idiot dan mengatakan hal yang tiba-tiba. Sungguh diluar pemikiran. Kenapa gadis cantik itu memiliki mood yang bisa berubah dengan sangat cepat? Bipolar..

“ pertanyaan apa?” Tiffany menatap bingung kembali. Lihat, ia  berada jauh pada alurnya sendiri. Ia bahkan mengabaikan hal kecil yang penting dan seolah tenggelam dengan dunia yang ia ciptakan.

“ ah sudahlah.. aku tidak datang untuk melihat kalian berdebat” ujar Jessica sedikit malas. Ia menguap kembali Karena merasa sangat mengantuk.

Pagi sekali saat Sunny menelponnya dan mengatakan bahwa ia melihat Tiffany berada dikampus. Ia bahkan meragukan penglihatan gadis mungil itu… awalnya. tetapi setelah lama Sunny bahkan meneriaki nama Taeyeon dan Tiffany. dan ia bahkan tidak bisa berpikir jernih bahkan untuk sekedar mengganti bajunya. Bersyukur bajunya tidak terlalu memalukan dengan dress putih yang ia padukan sedikit dengan sweater biru tua dan masket biru untuk menutupi wajahnya yang belum sempat ke kamar mandi.

“ salahkan gadis ini. Kenapa ia membuat kita sangat menghawatirkannya” ujar Sunny menatap kembali pada Tiffany yang mengerjapakan matanya beberapa kali.

“ khawatir untuk apa?” tanyanya sedikit lebih banyak bingung. Ia tak melakukan hal yang membahayakan. Tidak tengah mendaki gunung atau berlibur ke kandang singa. Oke sangat berlebihan karena ia juga masih bisa berpikir bahwa ia takut dengan karnivora yang satu itu. lagipula Tak ada yang perlu dihawatirkan oleh mereka tentangnya. Ia baik dan semakin baik.

“ gezz..Tiff.. kau datang tiba-tiba dengan penampilan mengerikan dan air mata. Aku ingat? Dan kami begitu khawatir jika hal itu terulang disini “ ujar Jessica malas. Ia merenggangkan ototnya yang sedikit kaku. Hey.. kenapa mereka harus berdiri dihalaman seperti ini. Lihat kepala mereka bahkan sudah mulai dijatuhi banyak salju.

“ maafkan aku untuk itu. aku tidak akan menangis lagi, kurasa” ujar Tiffany pelan. Lagipula, kenapa mereka harus membahas penampilannya saat itu sekarang? Memalukan. Jika mengingat hal itu hanya membuat Tiffany merasa sangat bodoh dan malu. Sebegitu menyedihkannya untuk menangisi hal yang tidak penting. Kenapa ia begitu terluka? Ia meyakini dirinya sendiri bahwa ia tak menyukai atau menyayangi laki-laki itu sebagai perasaan dari wanita kepada seorang pria. ia yakini itu karena rasanya berbeda jika berada disamping gadisnya, Taeyeon.

Blush..

Dengan memikirkannya saja membuat Tiffany merasa pipinya memerah malu. Mengapa semua tentang gadis itu begitu melekat padanya sampai pada titik ia tak bisa menghilangkannya? Sangat aneh saat gadis itu berhasil merebut semua perhatiannya. Sangat serakah Karena hanya gadis itu yang mampu membuatnya seperti ini.

“dan sekarang kau tersenyum seperti orang gila. Aku mulai bertanya otakmu tak ada yang terbenturkah Tiffany? tolong katakan bahwa kau tidak amnesia atau tergeser menjadi dua” ujar Jessica dingin. Suaranya bahkan membuat Tiffany mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“ kau menuduhku gila?”

“ tidak juga. Hanya pertanyaan” ujar Jessica acuh kembali. Dan ia masih mendongak menatap pada buliran salju yang menutupi kepala kedua gadis lainnya. Ia tidak merasa dingin.

“ sialan kau. Aku masih sangat sehat Lagipula kenapa kalian memandangku seolah akan terjadi bencana jika aku disini” Tiffany menoleh menatap Sunny yang mulai sibuk meniup tangannya. Gadis mungil itu menatap Tiffany dan meghela napasnya.

“ kau tidak tahu jika Nichkhun dan Bora kuliah disini? Apa kau akan baik saja jika bertemu dengan mereka?” Sunny menghela napasnya. Menyebabkan kepulan asap kecil keluar dari mulutnya. Tapi bukan itu yang menjadi focus bagi Tiffany sekarang. Apa yang dikatakan gadis itu barusan? Kedua mahluk yang tak ingin ditemuinya itu ada disini? Hell.. apa ia siap bertemu dengan mereka?

“ i-itu..”

“ kami datang langsung padamu karena tak ingin melihatmu seperti itu untuk kedua kalinya. Cukup Tiffany, kau membuat kami lebih sakit saat melihatmu begitu rapuh” ujar Sunny menatap sahabatnya dengan wajah memohon. Tak ada yang melebihi rasa kasih sayang antaranya dengan ketiga mereka.Tumbuh bersama layaknya saudara. Dan jika satu terluka diantara mereka, bukankah menjadikan rasa lainnya juga ikut terlarut begitu saja? Terikat dalam hubungan persaudaraan yang lebih dari kata keluarga.

“ ya aku tahu.. tapi.. aku tak bisa terus berlari” ujar Tiffany setelah keheningan menyelimuti mereka begitu banyak. Ia kini memandang kedua gadis lainnya dengan senyuman tulus. Merasa sangat beruntung bertemu dan bersahabat dengan mereka.

“ Tiff”

“ hey.. aku berjanji akan kuat kali ini. Lagipula ada Taeyeon sekarang. Dan semua akan baik-baik saja” Tiffany melempar senyumannya dan emmandang gadis berambut hitam yang mendekat pada mereka. Ia tahu, semua hal akan terasa ringan jika ia bersama gadis itu, selalu.

“ baiklah.. jika Taeyeon sudah turun tangan kurasa itu bukan menjadi masalah lagi”

“ apa yang kalian lakukan diluar? Disini sangat dingin” Taeyeon melilitkan jaket yang dilepasnya pada tubuh Tiffany dan memandang kedua gadis lainnya yang hanya tersenyum. Perhatian kecil itu, entah kenapa begitu manis jika mereka terus melihatnya.

“Tidak ada. Kalau begitu aku harus pulang. Memalukan.. aku datang tanpa mencuci mukaku” ujar Jessica segera melangkah menjauh. Meninggalkan ketiga gadis lainnya yang saling memandang dengan geli.

“ hum.. kalau begitu ayo ke kelas. Aku sudah mengurus semua datamu” ujar Taeyeon menggenggam tangan Tiffany dengan hangat.

TBC

Advertisements

62 thoughts on “Complete 3

  1. Oh jadi ini alasannya tiffany pacaran sama si nikon padahal fany pacaran sama tae aku pikir fany selingkuhin taeyeon, eh tapikan emang bener fany selingkuh 😀

    Like

  2. Lanjut banget baca chap ini, ntah udah baca chap 2 atau belum. Lupaaaa. Tapi suka suka chap ini. Dimana taeng tetep bertahan dan ngasih jarak ke fany sampe dia sadar but thor terlalu baik gak sih taeng disiniiii 😭😭😭😭 kasiaaaannnn

    Like

  3. Astaga😃😂 jessi sama sunny keren bwgd liat dateng cuma mau ngebilangin soal Nikon bora di kulia tempat yg sama iakali ajj jessi sempet sempetny melek klo bukan emergency 😆😆😆

    Like

  4. wahhh taetae keren bgt sih.. udh d sakitin berkali2 ttp aja bisa bertahan.. taetae jjang.. menyerah bukan berarti kalah.. tapi menyerah untuk menang karna yakin hati phany hanya buat taetae seorang.. ciieeee bgt dah.. semangat terus thor.. jaga kesehatan juga ^^

    Like

  5. Lupaaa jln crta ny..tp malay baca ulang ny.. Agak sedikit membingung kn y taeny ini.. Mencicipi ny.. Baru mencicipi bibir duank blom yg laen pun.. Tu cwo brengsek semua yak.. Minta d mutilasi

    Like

  6. ahh gitu, nah sekarang ngerti cuma masih ada flashback yang bikin penasaran thor, saat dimana perjuangan cinta tae ke fany dan saat dimana fany nyadar kalau dia suka sama tae
    poor taetae, dia kasian banget
    nyesek jadi dia karena tiffany yang kesannya ga terima kalau dia suka tae
    feelnya kerasa banget 🙂
    chapter ini keren, dan suka 👍 good job 😊
    semoga nextnya ga terlalu lama, soalnya penasaran sama kisah taeny di sini
    bolehlah di kasih baper lagi hahaha

    Like

  7. *bermain sesuatu yang menyenangkan* TY said
    sedih dgn kata2nya .nyesek weh thor T.T

    Flashback yg menguras air mata.huhuhuhuhu

    Like

  8. Oh jadi gtu alesannyaa…
    Brarti emang pda dasarnya tiffany itu slalu mengelak klo dia sbnernya cinta sma taeyeon?
    Mereka blm official nih jadi smpe skrg wkwkw

    Like

  9. Taeyeon selalu jadi pihak penyabar dan setia yah..
    Untung aja tae balik lgi ke phany huhuhu
    Syukurlah skrng mereka dipersatukan lagi 🙂

    Like

  10. Awalnya bingung soalnya bacanya dampil ngantuk ahahah, tp udah rbfgak pas di tengah ahhaha, “jika
    eon sudah turun tangan kurada itu sudah tidak ada masalah lagi”

    Like

  11. Jujur gw lupa sma cerita yg sebelumnya 😂😂😂😂😂
    Untng gk salah jalur ke “forever” 😂😂😂
    Kata nya si tatang bikin bapeurrrrr “di saat kmu sdah lelah kembali laa padaku ” belkng nya doank yg ingat itu pon kalau gk slah sih bgtu ,ya kalau salah maafkeunnn pemirsaaahhhh ,😂😂😂😂😂
    Panny dah gk khilaf lagi kan ,udh sadar kan sma kehadiran nya kang mas Tatang 😅😅😅😅😅😅 ??????

    Like

  12. awal chap 3 udah lupa jdi baca lagi yg chap 2..trnyta chap ini mnjelaskan tae pindah k jerman..kok aq kasian bnget sama tae ya d sakitin mulu sama fany..
    😫😫😫😫😫😫

    Like

  13. Paham sekarang greget ya thor bikin alurnya pas baca dari part 1 sampai 3 baru sadar alur udah maju mundur ,authornya bikin reader harus cermat dan fokus😂.. Awalnya taeyeon mengungkapkan perasaan dan tiffany menerimanya tapi disatu sisi tiffany ingin menbuktikan kalo dia memang sdn belok eh tapi malah jadi bencana yg mengakibatkan taeyeon pergi dan mereka ketemu lagi di korea di tempat kuliah yg sama😩 flashback taeyeon di german sama kehidupan tiffany setelah ditinggal dong rasanya belum greget

    Like

  14. ampun.. kasian bgt taeng.. demi perasaannya sendiri, rela membiarkan fany memilih jalan hidupnya sndr.. so sweet bgt siii

    Like

  15. Permainan, ,kisahnya,, bener nyata. pas baca disini nyakitin banget 🙂
    Kemaren awal nemu baca dari part endingnya,, pas tau isi lengkap, kesimpulan nya menyebalkan perjalanan yang ckup bkin argh,, senyum nangis,, senyum nangis,, kebayang lelahnya tae juga, fany sadar jg akhirnya, 😀 oke thor critanya,, mksh, ,

    Like

  16. “Bermain sesuatu yang menyenangkan” hmm oke
    Jadi gitu toh awal mula nya ga tae ga fany ga ada yg bener ga ada yg salah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s