Complete

Title : Complete

Author : Baby

Cast : Taeny

Sub-cast: –

Genre : Yuri.

First Story

Tiffany Pov.

Salju pertama tahun ini. Dingin.. buliran halusnya menghantam keras kulitku. Sakit.. bukan karena kapas putih alami ini, tapi suatu hal yang lain. Yang tersimpan jauh didalam diriku, hatiku. Rasanya aku sangat menyedihkan. Saat semua orang memilih untuk menghangatkan diri dengan jaket tebal, syal, sarung tangan atau hal yang lain. Tapi lihatlah aku sekarang. Bukankah menyedihkan melihatku berpenampilan dengan baju tipis dan jeans? Atau dengan sepatu ber-hak tinggi. Orang pasti akan menyebutku gila sekarang. Sesewaktu mungkin aku akan tergelincir dengan sepatu ini. Hanya saja, aku benar-benar tidak perduli. Hatiku…hancur sekarang. Saat semua orang bergembira dengan hadirnya musim yang lain, aku hanya terus menangis dan meratap. Hell…

Hey.. jangan melihatku seperti itu. setidaknya aku waras beberapa menit yang lalu. Tersenyum semangat dan berdandan dengan cantik. Hari ini adalah hari yang special, mungkin? Aku aku akan merayakan aniv ku dengan kekasihku untuk satu tahun masa pacaran kami. Aku terbang jauh-jauh dari Amerika hanya untuk memberikanna kejutan. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku bahkan rela mengikuti les memasak dan menghabiskan waktu tiga jam untuk menyiapkan makan untuk kami. Aku hanya ingin semua sempurna dan melihat ia tersenyum padaku. Menikmati makanan dan bercanda seperti biasanya. Jam Rollex RL hitam yang kusiapkan untuknya dan aku berdandan cantik, untuknya..

Lalu..

Apa yang kutemukan setelahnya? Seseorang yang telah menemani hari-hariku selama ini.. apa aku harus mengatakan bahwa aku sakit sekarang? Tidak.. aku lebih dari itu. aku bahkan tak bisa mempercayai apa yang kutemukan. Ini bahkan kusaksikan sendiri dan aku masih mempertanyakan apa aku salah melihat semua itu. ah bodohnya aku.. mereka bahkan terlalu bahagia untuk menyadari bahwa aku menyaksikan segalanya. Kenyataan itu terlalu pahit untukku. Perselingkuhan dan cumbuan yang nyata. Wah.. sangat hebat sekali gadis itu untuk merebut hati yang aku yakini sebagai milikku. Oh, salah besar. Bukankah jika ia mencintaiku ia akan selalu menyimpannya? Menyedihkan karena aku masih mempercayai omong kosong seperti itu. yang lebih menyakitkan karena dia juga teman baikku.. haha.. apa aku boleh tertawa sekarang? Nichkhun.. Bora.. cih.. aku harusnya mencurigai kedekatan itu sejak lama. Bodohnya aku karena masih terlihat sangat tenang saat kalian saling tertawa dan memuji. Dan kini.. satu kejadian real yang bahkan hanya mampu membuatku terdiam dan pergi begitu saja.

Dan kakiku membawa berdiri dan memandang sepanjang jalan yang telah terhias dengan aksesoris natal. Padahal Natal masih sangat jauh tapi semua terlalu bahagia menyambutnya. Oh.. I don’t care.. I’m broke now.

“ kau gadis tergila yang pernah kutemui Tif… Kau tahu..”  gadis didepanku menyodorkan coklat panas padaku. Aku sangat malas menanggapina, jadi aku hanya diam.

“apa yang membuatmu seperti ini Tif? Oh, sejak kapan kau ada di Seoul? Dan kenapa dengan penampilanmu.. gosh.. katakan sesuatu Tiffany” Lee Sunny, gadis itu terus mengoceh banyak hal. Yap.. beberapa menit yang lalu aku bertemu dengannya dan kekasihnya yang tinggi itu. Choi Sooyoung hanya terdiam dan tak banyak berkomentar. Memandang bingung antara kekasih pendeknya yang terus berkomentar banyak hal dan aku yang hanya terdiam. Tak membuka suara.

Aku dan Sunny bersahabat dengan baik. Kami tumbuh sejak kecil bersama. Dengannya, sepupuku dan satu gadis lainnya. Aku berpisah dengan mereka dua tahun lalu karena harus ikut pindah ke Amerika. Aku menetap di Amerika Karena memang Daddy lebih memilih untuk meneruskan bisnisnya disana. dan hari ini kami kembali bertemu. Sayangnya timingnya benar-benar buruk. Kenapa kami harus berjumpa saat keadaan hati dan diriku sendiri tidak bagus? Benar-benar memalukan.

“ Tiff.. kau tidak apa-apa? Kenapa dari tadi kau diam?” Sooyoung bertanya lembut. Mungkin kedua gadis itu sangat bingung dengan kebisuanku.

“ it’s okay Soo.. aku.. baik-baik saja..hum.. Fine..”

Hening.. namun kemudian aku merasakan seseorang memelukku. Anehnya aku tak bisa menahan isak tangisku lagi. Aku benar-benar butuh seseorang untuk menumpahkan segalanya sekarang.

“ I know it. Kau tidak sedang baik-baik saja Tiff” bisik Sunny sambil menenangkanku. Aku berusaha untuk berbicara namun hanya suara tangisku yang keluar. Oh.. apa aku terlihat sangat rapuh dan memalukan sekarang? Aku tak pernah seperti ini. Tidak pernah..mungkin.

Sunny memandang pada kekasihnya. Berbicara dengan tanpa suara..

‘ telpon gadis itu’

Pov End..

*

Kedua tubuh polos itu masih diatas ranjang. Peluh membasahi tak dihiraukan. Bibir dan gigi mereka bertemu. Mencoba saling melumat dan memperdalam ciuman mereka.

“ umhhppp.. Yul ahhh…” Jessica berusaha mendorong gadis tinggi yang masih berada diatas tubuhnya. Karena ia yakin, gadis kecoklatan itu akan melakukan sesuatu hal pada tubuhnya, lagi.

♪♪  Get up out my face.. quit playing with my head.. sick with regrets now..too late to beg now..shut your mouth, no one cares, save your lies…♪♪

Jessica mendorong Yuri hingga gadis itu melepas ciumannya. Yuri mengerang kesal dan mengacak rambutnya kasar. Menatap pada Jessica yang kini hanya menyeringai sambil mengambil handphonenya yang berdering diatas meja.

“ Hallo..”……”oh Soo”….” No, it’s okay, what is it?’’ Jessica tersenyum lucu saat melihat Yuri mempout bibirnya dengan kesal.

“ hum? Apa ada masalah dengan Sunny?”…..” Arrayo, aku kesana” Jessica menutup pembicaraan dan memandang pada Yuri yang bergerak mendekatinya.

“ ada apa?”

“ nothing.. Soo memintaku ke apartemen Sunny sekarang” Jessica melingkarkan tangannya pada leher kekasihnya itu dengan manja.

“ kenapa pagi sekali. Apa ada yang terjadi?” Yuri menatap pada gadis pirang yang kini menatap tajam padanya.

“ apa maksudmu dengan pagi. Kau memakanku dua jam dan ini sudah hampir masuk jam makan siang. Sekarang bangun dan mandi, aku menunggu”

Yuri menelan ludahnya gugup dan segera berlari menuju kamar mandi. Jessica sangat mengerikan jika ia tidak segera mengikuti apapun yang gadis itu katakan.

30 menit berlalu dan kini gadis kecoklatan itu melangkah keluar dari kamarnya. Menemukan gadis pirang yang sudah berkutat dengan alat masak didapur, yah sebenarya ia tidak sedang memasak. Ia hanya memanaskan kembali makanan yang ada dilemari pendingin. Yuri tersenyum dan memeluk Jessica dari belakang, menghirup banyak aroma memabukkan yang disajikan dari tubuh mungil itu..

“ aish.. aku tidak akan selesai kalau kau terus memelukku. Jadilah anak baik dan bawa pantatmu ke kursi itu” Jessica menoleh pada Yuri yang tersenyum lebar dan mengangguk dengan semangat.

~

Sooyoung membuka pintu apartemen dan menemukan kedua gadis yang kini menyapanya.

“ kalian lama sekali. Masuklah..”

“ sorry Soo.. apa ada masalah? Kenapa menelpon tiba-tiba” Jessica berjalan mengikuti gadis yang tinggi itu dan berhenti saat Sooyoung menunjuk pada salah satu kamar.

Jessica mengerutkan keningnya dengan bingung. Apa ada yang salah dengan kamar Sunny? Ia akan bertanya saat menyadari bahwa Sunny baru saja keluar dari kamar itu.

“ oh kau sudah datang?” Sunny tersenyum tipis padanya.

“ hum.. ada apa? Sooyoung menelponku. Kupikir kau sakit atau sesuatu telah terjadi. Ada apa?” ia berjalan mendekati gadis pendek itu. menatap pada Sunny saat gadis itu tak kunjung menjawab pertanyaannya. Gadis itu malah menariknya dengan lembut.

“ aku tidak bisa menjelaskannya karena aku juga tidak tahu. Tapi..”

Ceklek..

Sunny membuka pintu kamar. Jessica yang awalnya akan kembali membuka suara tiba-tiba menoleh saat matanya menemukan gadis dengan penampilan acak-acakan ada disana.

“ Tiffany..”

Tiffany menoleh saat mendengar suara itu. Jessica langsung berjalan cepat dan memeluk tubuh gadis lainnya.

“ Jessie..” gumam Tiffany lirih. Dan satu hal yang semakin membuat Jessica terkejut karena gadis ber eye-smile itu menangis. Sangat menyayat saat menemukan gadis paling periang diantara mereka menangis dalam pelukannya. Gadis yang bahkan tak pernah menampilkan ekspresi sedih ini.. apa yang telah terjadi?

“ Tif.. ada apa?” Jessica bertanya dengan lembut. Mengusap pipi gadis yang masih terisak itu. apa yang membuatnya seperti ini. Terakhir mereka bertemu adalah setahun yang lalu saat Tiffany berkunjung bersama dengan kekasih barunya yang ternyata berkuliah disini, di Seoul. Mereka berhubungan jarak jauh karena Tiffany harus tetap disana, di Amerika. Lalu apa yang membuat senyum bahagia yang ia lihat itu tiba-tiba berubah? Ada apa dengamu Tif

“ katakan sesuatu Tif.. apa yang terjadi? Wae?”

“ berikan ini dulu baby.. kurasa ia butuh tenang terlebih dahulu” Tiffany menatap pada gadis kecoklatan yang menyodorkan segelas air padanya. Gadis itu tersenyum padanya. Ia menoleh pada Jessica bertanya.

“ oh.. kenalkan.. Kwon Yuri. Kekasih Jessica..” seolah dapat membaca pertanyaan yang Tiffany berikan ia memperkenalkan dirinya sambil membungkuk kecil.

“ oh ne.. anyeong Yuri, aku tiffany Hwang. Sepupu Jessica”

“ ne.. aku sering mendengar cerita kalian dari gadis ini” Yuri tersenyum dan memandang pada Jessica dengan lembut.

Tiffany tersenyum kecil dan mengangguk.

“ jadi.. bisa kau katakan apa yang kau lakukan disini nona Hwang? Kau ada di Amerika malam tadi. Aku jelas mendengar kau berbicara banyak tentang teman kelompok yang membuat kamarmu berantakan” jessia menatap serius pada gadis itu setelah ia meneguk minumnya. Tidak hanya Jessica, semua kini menyimpan perhatian padanya.

Tiffany menghela napasnya pelan dan memandang pada Jessica.

“ kau masih ingat dengan Nichkhun?”

Jessica mengerutkan keningnya dan mengangguk. Entah kenapa kini hatinya mengantisipasi apa yang akan diucapkan gadis itu selanjutnya. Dan kini matanya membelak terkejut.

“ dia.. berselingkuh dariku..”

“ what?!! Sialan.. aku sudah duga dia bukan laki-laki baik untukmu Tiff..” Jessica yang emosi langsung meledakkan amarahnya.. ia menatap tajam pada Tiffany yang hanya menunduk. Tidak ada gunanya ia marah sekarang. Ia mendekati Tiffany dan ikut memeluk sepupunya itu.

“ sabar Tiff.. dia bukan orang beruntung jika harus meninggalkanmu dengan cara seperti itu” ujar Sunny yang berada dikanan Tiffany, memeluk gadis itu dengan erat.

“ benar. Jangan pikirkan itu lebih banyak..” bisik Jessica berusaha menguatkan gadis itu.

“ siapa gadis jahanam itu?” Jessica menatap Tiffany. melihat gadis itu begitu rapuh seperti ini membuatnya begitu hancur. Terakhir menemukan gadis ini menangis saat pemakaman ibunya diumur lima tahun, atau saat dua tahun yang lalu. Sebelum ia bertemu dengan Nichkhun. Setelahnya Tiffany selalu berhasil menyembunyikan rasa sedihnya atau tangisannya dari semua orang. Kadang ia akan menemukan Tiffany termenung atau berdiam diri sendirian.. tanpa ada yang menguatkannya. Gadis ini.. dia lebih rapuh dibanding dengan orang lain.

Tiffany menatap pada kedua gadis yang juga ingin tahu itu. apakah ia harus mengatakan hal ini?

“ siapa dia?”

Tiffany menarik napasnya pelan.. “ Bora.. Yoon Bora”

Dan satu hal ia duga terjadi. Ia terlalu pusing menanggapi semua sumpah serapah yang Jessica atau Sunny katakan. Ia terlalu lelah hari ini. Rasanya.. ingin berhenti.

.. aku kalah. Kau benar akan semuanya.. tolong aku sekarang.. ku mohon..

*

Second Change

Gadis dengan rambut hitam itu memandang danau buatan dari perkarangan rumah yang begitu luas. Airnya tidak membeku, sebaliknya itu terlihat sangat indah seperti musim semi. Sangat kontras karena ia tak begitu menyukai sesuatu yang dingin. Kehangatan akan lebih bagus.

“ jadi.. kau begitu menikmati hal ini dan tidak menyapa kami Kim Taeyeon” gadis berambut hitam berbalik dan menemukan tiga orang yang tersenyum padanya.

“ oh.. kalian. Apa yang kalian lakukan disini?”

“ kenapa kau bertanya seperti itu? apa kau tak suka kami disini?” gadis dengan rambut pirang menyilangkan tangannya dengan malas. Ia mengambil tempat untuk duduk disalah satu kursi. Menatap gadis berambut hitam itu yang hanya tersenyum kembali.

“ tidak apa-apa. Aku hanya senang kalian mengunjungiku” Taeyeon berjalan menuju ketiganya.

“ kami harus memastikan kau tidak kesepian disini”

Taeyeon tersenyum semakin lebar.  Ia tak ingin mengatakan ini, hanya saja.. ia merasa bahwa semua kesepiannya menghilang begitu saja. Hatinya menghangat hanya dengan perkataan yang sederhana. Apa ia salah karena terlalu mandiri? Bahkan untuk hidup sendiri?

“ tidak usah khawatir. Aku tidak seperti itu sama sekali. Kau tahu aku menikmati hidupku dengan baik” Taeyeon mengulurkan tangannya menuang the dalam cangkirnya. Menikmati Darjeeling tea yang memikat dari aromanya.

“ baguslah jika seperti itu” Yoona mengambil salah satu lemon dan menuangkan sedikit airnya. Lihat, tea yang mulanya ungu berubah menjadi pink. Sangat indah.. gadis itu begitu menonjolkan berbagai hal yang elegant dan berkelas. Jangan salahkan dia. Yoona hanya terlahir dari lingkungan yang begitu terhormat. Orang tuanya begitu menggilai kehormatan dan jabatan. Ayahnya yang merupakan Raja kerajaan di Korea Selatan sekaligus pemegang penting economy dan pemerintahan. Lalu ibunya yang selalu tampil sebagai wanita berkelas yang disorot para media. Sosoknya tentu saja terdidik sebagai wajah bagi keluarganya. Ia harus menjaga namanya dengan baik.

“ by the way.. bagaimana dengan perjodohanmu” Tanya Taeyeon tiba-tiba

“ uhhuukkk”

“ ewwhhh.. Lim Yoona apa kau tidak lihat ada manusia disini” ujar Yuri dengan kesal. Ia mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan wajah dan lengannya.

“ sorry unnie.. aku kaget” Yoona menatap dengan wajah bersalah.

“ never mind”

Lalu ia menoleh pada Taeyeon yang hanya tersenyum geli kearahnya. Ia memandang tajam gadis berambut hitam itu yang meskipun ia tahu itu tak akan berpengaruh lebih. Taeyeon, gadis itu memiliki ketenangan yang berlebihan.

“ apa dia kurang menarik untukmu?” kali ini mereka menoleh pada gadis pirang yang masih sangat betah menutup matanya. Ia begitu menyukai rimbunan pohon dan angin dingin yang meniup padanya. Ia tahu pasti orang akan mengira dirinya gila karena ini sangat dingin. Bahkan salju yang tebal di luar gazeobo mereka ini sudah membuktikannya. Tapi sungguh, ia sangat menyukainya.

“ tidak, dia gadis yang baik” yoona bergumam kecil. Tapi suaranya masih cukup keras untuk di dengar oleh tiga pasang telinga disana.

“ oh, jadi dia seorang gadis? Lalu apa yang membuatmu ragu?” Yuri menopang dagunya setelah membersihkan cairan maut yang disembur gadis berambut coklat itu.

Yoona bergeming sebentar. Ia tidak ragu sama sekali.. hanya saja…

“ aku dengar dia putri presiden bukan? Aku yakin hubungan kalian akan sangat diperhatikan oleh banyak orang. Apa ia kurang cantik dan seksi?” kali ini Taeyeon menggeser duduknya dan menatap dengan semangat. Semua cerita yang berbau romantic dan dewasa sangat menarik untuknya. Ia tahu otaknya penuh dengan drama percintaan yang terus meracuni akal kewarasannya. Belum lagi dengan pemikiran kotornya. Ah.. tolong jangan mengingat kata ini berlebihan. Sangat wajar memiliki libido tinggi kan? Iya kan? Okay.. abaikan.

“ ne.. dia putri presiden. Dan berhenti memikirkan pertama kali betapa seseorang seksi,Taeyeon unnie. Kau sangat byuntae” Yoona memutar bola matanya kesal. Kenapa gadis satu itu begitu mesum. Tak akan heran saat kau melihatnya Taeyeon kedapatan memperhatikan butt para gadis yang melintas atau lain waktu kau akan temukan matanya menatap pada melon orang. Heck… kenapa harus ada gadis yang begitu menyukai hal seperti ini di dunia ini -_-

“ hey.. apa yang salah dengan itu” ujar Taeyeon dan diakhiri dengan tawa ahjummanya. Yoona tak bisa berkomenar apa-apa.. sepertinya gadis ini tak bisa tertolong lagi dari ke-byunan akutnya.

Keheningan tercipta beberapa detik.

“ oh ya. Kalian darimana?” Taeyeon menengok pada ketiganya kembali.

Yuri tersenyum dan menunjuk pada Jessica. Taeyeon mengerutkan keningnya, apa yang salah dengan Jessica? Tidak ada yang berbeda dengan gadis pirang itu. wajah dinginnya malah semakin kuat saja auranya. Taeyeon sangat membingungkan bagaimana sahabat dinginnya itu bisa berhubungan dengan seorang kkab Yul. Mereka berteman sejak kecil, tentu saja. Ia mengenal baik Jessica dan sahabatnnya yang lain. Yuri adalah salah satu mahasiswa yang kebetulan juga ia kenal dan menjadi temannya. Tak banyak yang ia tahu tentang gadis keturunan Kwon itu. yang jelas, ia adalah salah satu siswa terpopuler kampus.

“ kami mengunjungi sepupu Jessica” ujar Yuri.

Taeyeon tersentak kecil dan menoleh cepat pada gadis pirang disana. Gadis itu begitu sibuk dengan kantuknya hingga tak menyadari bahwa Taeyeon menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya.

“ apa.. dia disini?”

Jessica menoleh padanya. Tersenyum.. ia menggoyangkan smartphonenya didepan wajah. lalu menyodorkan pada Taeyeon.

“ ne.. kau harus menemuinya Taeng…”

Bantu aku.. sekarang dia mabuk

*

Three Word’s

Taeyeon memarkir sembarang mobil hitamnya. Matahari benar-benar sudah tenggelam disana. Hanya saja bulan sepertinya tak nampak, karena ia yakini beberapa saat yang akan datang hujan atau badai salju akan turun. Ah sebenarnya itu tidak penting. Ini lebih menghawatirkan baginya.

“ dasar gadis bodoh..” gumamnya dan melangkah cepat.

“ tolong tunjukkan ID anda nona” ujar salah satu lelaki kekar penjaga pintu itu.

“ menyingkirlah..”

“ nona.. anak SMA dilarang memasuki tempat ini jika dia belum cukup umur” ujar yang lain. Meskipun lampu remang disana, ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis di depan mereka. Dia mungkin akan menyimpulkan bahwa gadis itu masih tergolong remaja. Ini bukan tempat yang cocok baginya. Pemikiran saja.

“ apa kalian tidak lihat? Aku tidak punya waktu meladeni kalian” ujar Taeyeon mulai kehilangan kesabaran. Apa-apaan. Mereka memperlakukan dirinya seolah ia adalahh gadis yang baru menginjak usia dewasa. Hey.. Taeyeon sekarang berumur 21 tahun. Lebih dari cukup untuk memasuki tempat ini.

“ tidak.. tunjukkan id anda. Ini adalah perat-“

“hey.. apa kau ingin mati? Menyingkir dari jalanku sebelum kubuat kau mampus” Taeyeon dengan kesal menarik kerah baju laki-laki itu. Hell.. apa tidak melihat kalau dia sedang terburu-buru sekarang?

“ ma-maaf nona “ laki-laki itu berujar gugup saat setelah menyadari gadis itu. ia memberikan jalan bagi Taeyeon hingga gadis itu langsung melesak masuk kedalam.

“ dia putri keluarga Kim itu kan?”

“ iya.. salah apa aku harus bertemu dengannya malam ini”  gumam yang lain dengan lirih. Ia rasa ia sangat tidak beruntung harus berurusan dengan gadis itu. apa yang akan terjadi padanya setelah ini?

“ kita sangat sial”

“ kau benar..” pasrah mereka.

~

Taeyeon menyapu pandangannya pada sekeliling Barr.. tidak ditemukan gadis itu disana.

“ sialan.. dimana kau”  ia menyusuri tempat itu dengan gusar. Beberapa kali ia harus menabrak pengunjung disana. Atau orang-orang yang mulai memberikan perhatian lebih padanya. Tidak… Ia tak begitu perduli akan hal itu. apa yang dicarinya, gadis itu harus ditemukannya. Harus…

Drrttt drrrttt…

Sunny mengatakan kalau dia ada VIP No.9..

 

Setelahnya ia melesak naik ke atas tangga yang akan membawanya kesana. Ia begitu terburu-buru. Ini bukan typenya. Hanya saja, kenapa semua hal yang berkaitan dengan gadis itu selalu menjadi nomor pertama bagi hidupnya. Selalu.. dari dulu..

“ bahkan kau mempengaruhi begitu banyak. Apa yang kau lakukan padaku…”

Taeyeon menatap pada kamar itu. lalu tanpa berpikir lagi ia membuka knop pintu. Ia menemukan seorang gadis yang berdiri disamping ranjang menoleh padanya.

“ loh.. Taeyeon.. kupikir Jessica yang akan datang” Sunny membelak kecil menemukan sahabatnya itu berjalan mendekati mereka. Taeyeon tak banyak berbicara. Selalu..

“ …. Kenapa kau tidak membawanya pulang?” Taeyeon menempatkan dirinya untuk duduk diujung ranjang itu. menatap gadis yang terlelap dengan damai… mungkin.

Ia jelas dapat melihat bekas air mata dari kedua pipi gadis ini. Apa yang membuatnya begitu sakit? Seseorang seperti apa itu?

“ dia tertidur setelah lelah menangis. Aku terus memaksanya pulang tapi dia ingin tetap minum. Jadi aku membawanya kesini. Kurasa menguncinya disini akan lebih baik dibanding dia dibawah” jelas Sunny menyodorkan segelas air padanya.

Taeyeon menoleh dan menerima gelas itu. meneguk air dingin yang meluncur bebas masuk ketenggorokannya. Ia memang sangat kehausan.

“ gomawo.. biarkan dia bersamaku sekarang. Kau bisa pulang duluan” ujar Taeyeon membenarkan poni yang menutupi dahi gadis lainnya. Ia tersenyum kecil saat menatap wajah malaikat itu. sangat indah, sangat sempurna..

“ arrayo.. jika ada apa-apa tolong kabari aku Taeng..” Sunny tersenyum memaklumi. Ia menepuk punggung sahabatnya sebelum berjalan keluar. Sedikit menoleh untuk melihat Taeyeon yang masih sama dengan pandangan focus pada gadis itu. Ia tersenyum dan menutup pintu.

– Apa aku harus kesana?..

– tidak. Seseorang yang dibutuhkannya ada disini

– siapa?

– Kim Taeyeon

– baiklah.. aku akan menjemputmu

-oke

 

Kau harus menghapus sakitnya Taeyeon.. hanya kau yang bisa.. karena.. aku tahu kalian saling membutuhkan

*

Taeyeon membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Ia tetap dengan keadaan seperti itu sejak semalam. Dan beberapa menit yang lalu ia terbangun. Dan inilah yang ia lakukan, Waktu berlalu dan ia begitu menikmati untuk memandang puas wajah yang selalu hadir dalam mimpinya. Wajah yang selalu menjadi angannya. Wajah yang begitu ia gilai. Gadis ini.. kenapa ia begitu kuat menjadi magnet hidupnya.

“ kenapa kau seperti ini hum? Katakan padaku karena aku begitu menghawatirkanmu Fany-ah..” lirihnya. Ia mengusap dahi Tiffany yang mulai berkeringat. Gadis itu mengerang kecil, tak nyaman. Dan benar saja gadis itu tiba-tiba melompat dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi. Padahal Taeyeon yakin gadis itu masih dalam keadaan tak sadar. Tapi Tiffany dengan lihai bisa menemukan jalan menuju sana. Hebat..

Taeyeon mengikuti dari belakang. Menemukan Tiffany seperti tengah memuntahkan sesuatu di wastafel. Taeyeon mendekatinya. Menarik rambut Tiffany yang tergerai agar tidak basah. Ia juga mengangkat tangannya yang lain untuk memberikan sedikit pijatan pada tengkuk gadis itu.

“keluarkan semuanya” bisiknya lembut.

Tiffany tersentak apa itu bukan Sunny atau Jessica? Apa ia terlalu mabuk sampai suara orang lain selalu berubah menjadi suara itu.. suara gadis yang begitu ia rindukan. Apa ia begitu mengharapkan kehadiran gadis itu? Tiffany merasakan kepalanya pusing dan perutnya terasa aneh. Apa yang terjadi sebelum ini? Apakah..

“ kau sangat tidak cocok menjadi bad girl Fany-ah..’’

Kali ini ia benar-benar tersentak dan berbalik. Menatap terkejut gadis berambut hitam yang juga menatapnya.. khawatir. Tunggu.. sejak kapan gadis itu-

“T-ae-ta-eyeon..”

Taeyeon terseyum tipis dan menyisir kecil rambutnya.

“ aku pergi dan kau seperti ini hum? Apa yang membuat kau begitu nakal? Sakit hati? Stress? Banyak pikiran? Atau..” Taeyeon menatap tajam padanya. Tangannya tiba-tiba membawa Tiffany untuk duduk diatas wastafel.

Taeyeon mengabaikan rasa terkejut Tiffany akan sikapnya. Ia mengambil salah satu handuk kecil yang terlipat rapi diatas lemari. Membasahinya sedikit dan perlahan mengusap pada wajah Tiffany. jelas, karena wajah cantik itu terlihat pucat tidak seperti biasanya. Seperti telah hilang sesuatu yang disukainya, senyumnya..

“ kau sangat berantakan. Bajingan mana yang berani menyakiti gadis kesayanganku hum? Bukankah aku sudah bilang untuk tak mendekati orang lain Fany-ah.. apa semua perkataanku hanya angin lalu bagimu?aigoo..” Taeyeon terus mengoceh. Tidak, ia tak akan pernah bisa marah pada Tiffany. Menemukan gadis yang berpenampilan tidak biasanya dan mabuk seperti ini, apa yang lebih menyakitkan untuk Taeyeon?

“ Tae..”

“ jangan bicara. Aku akan mengantarmu pulang sekarang…” Taeyeon memasang wajah datarnya kembali. Ia menempatkan tangannya pada paha Tiffany dan menggendongnya keluar. Mau tidak mau gadis keturunan Amerika itu harus melingkarkan tangannya pada leher Taeyeon.

“ apa kau membawa barangmu?” Taeyeon menatap pada gadis yang akan memejamkan matanya itu. ia tahu pasti, gadis itu pasti merasa pusing sekarang.

Tiffany mendongak. Menatap pada bola mata onix yang mampu membuatnya tenang. Gadis itu selalu memiliki hal yang membuat orang lain teduh dengan hanya melihatnya.

“ ania.. aku datang dengan Sunny. Semua barangku ada di apartemennya..” ujar Tiffany pelan.

“ kau menginap disana?” Taeyeon mulai melangkah menuruni tangga. Ia memandang pada salah satu pelayan yang tengah membersihkan meja disana. Melihat keduanya turun, pelayan itu segera membuka pintu.

“ ne..”

“ hey.. buka pintu mobilku” Taeyeon memberi arah pada mobilnya yang terparkir disana. Ia bahkan melupakan jika ia tidak sempat membawa masuk kunci dan bahkan tidak mengunci mobilnya. ia terlalu menghawatirkan Tiffany. mobil bukanlah masalah besar untuknya. Tidak, bahkan semua hal didunia ini.. tidak ada yang lebih penting dibanding gadis ini.

Setelah memberi beberapa lembar uang pada pelayan itu Taeyeon mengendarai mobilnya. Ia sempat menoleh pada Tiffany yang hanya memandang keluar jendela.

“ jadi, kau kabur dari rumah?” Taeyeon membuka suaranya. Meskipun ia menempatkan gadis itu untuk diam, ia tak bisa dalam keheningan ini. Sudah lama.. dan apakah ia harus dalam masalah dengannya? Oh tidak bisa.

Tiffany menoleh padanya. Melihat gadis berambut hitam itu. kapan mereka terakhir bertemu? Ah ya, natal dua tahun yang lalu. Gadis itu begitu hangat.. awalnya. Apakah karena kejadian itu? tapi semua bukannya sudah selesai? Bahkan itu bukan kesalahan Tiffany kan? Semuanya..

“ tidak. Aku sudah izin pada daddy..” ujar Tiffany sedikit lirih.

Taeyeon tidak segera menjawab. Ia menghentikan mobilnya pada salah satu rumah dan Tiffany harus mempertanyakan karena itu bukan apartemen Sunny. Tidak, ia tak pernah mencurigai Taeyeon.

“ rumah siapa ini?”

Taeyeon hanya menoleh padanya dan keluar. Tiffany menyusul, Ia memandang pada bangunan itu. rumah ini tidak terlalu besar. Hanya rumah bertingkat dua dengan halaman luas. Disisi kanan dan kirinya hanyalah rumput tinggi yang ditata rapi dan pohon-pohon yang berjejer. Lalu gazebo besar dan kursi serta meja yang ditempatkan tepat dibawah pohon-pohon itu. pasti jikapun musim panas, rumah ini akan terasa sejuk. Ia tahu banyak jika Taeyeon sangat menyukai sesuatu hal yang rimbun dan damai. Gadis itu..lagipula Jika dipikir sebenarnya siapa yang punya rumah ini? Apa-

“ ini rumahmu Tae?” Tiffany berlari kecil menyusul pada gadis lain yang sudah beberapa langkah meninggalkannya dibelakang.

“ ne..” Taeyeon tetap melanjutkan langkahnya dan membuka pintu. Menatap pada Tiffany dengan memberi isyarat gadis itu untuk masuk.

Tiffany melangkah pertama kali. Dan ia tak harus terkejut jika menemukan interior yang berlebihan didalamnya. Ia tahu Taeyeon menyukai seni, mungkin itu sebabnya ia akan menemukan kolam dengan air mancur yang terdapat tiga patung lelaki romawi kuno ditengah ruangan. Lalu sebuah ruang tamu yang kursinya terbalut dengan kain wol tebal yang hangat. Ini sangat bagus karena musim dingin sangat mengganggu. Lalu dapur berukuran sedang dibagian kirinya. Dan sebuah taman yang ditumbuhi dengan berbagai tanaman inport disana. Tiffany sempat mengerutkan keningnya pelan. Pantas saja diluar sana tamannya hanya ditumbuhi dengan pohon dan rerumputan saja.Ternyata tanaman dilarikan dihalaman sampingnya. Benar-benar type elite.

“ tae-“

“ istrahatlah. Aku akan telpon mommy, dia akan sangat khawatir jika tahu anak gadisnya mabuk seperti ini” Taeyeon memotong pembicaraannya dengan muka datar. Ia pergi begitu saja menaiki tangga. Mau tidak mau Tiffany mengekor dibelakang.

“ jangan katakan apapun pada mereka. Mereka pasti akan sangat khawatir” ujar Tiffany. ia mempout bibirnya dengan kesal. Bagaimana mungkin Taeyeon meniatkan Sesutu hal yang begitu besar resikonya. Apa ia tidak sadar hal itu?

Kau masih saja pabo..

 

“ masuklah. Aku akan ke kampus sekarang. kau dirumah, jika ada apa-apa telpon aku. Pelayan akan menyiapkan semua yang kamu butuhkan” Taeyeon membuka kamarnya. Tunggu.. maksdunya-

“ ini kamarmu kan?”

Taeyeon menoleh dan menatapnya dengan dingin. Tentu saja.. seperti itulah kira-kira yang dikatakan ekspresi gadis itu. hanya saja..

“ kenapa? Bukankah kita sahabat? Apa salahnya tidur dikamar sahabatmu sendiri?” Taeyeon berujar datar. Ia melangkah mendekati Tiffany yang hanya mampu mengunci mulutnya dalam diam. Tatapan gadis itu.. membuatnya takut. Taeyeon tak pernah menatapnya seperti ini sebelumnya. Tidak pernah..  bahkan saat ..

“ kau berada didaerah kekuasaanku Fany-ah.. jadi turuti saja apa mauku. Lagipula rumah ini hanya dibangun satu kamar saja. jadi istrahatlah..” Taeyeon berbisik tajam padanya. Tiffany jelas dapat merasakan hembusan napas panas itu menggelitik pada telinganya. Dan itu..

“ kau masih saja dapat membuatku seperti ini. Aku tidak bisa berbohong jika aku menggilaimu Fany-ah..”

“I love you…” lirih Taeyeon.

aku mencintaimu Fany-ah.. dan aku tak bisa menghindari itu

TBC

Advertisements

58 thoughts on “Complete

  1. woahh new ff lagi, disini taeny deket tapi belum masih sama2 ragu ya?
    Daebak XDD
    jujurku kangen ff something n forever T.T

    Like

  2. Woww .ini adlah salah satu ff terpanjang ddku ^_^.)

    Pany mah bodo,mau aj menangisi laki’ bejat sprt nikon .msh ad yg lbh baik eonni . Yg dekat lebih baik

    Heheheh

    Like

  3. phany jgn nangisin si nikhun itu..kan ada tae yg sllu ada untuk phany..
    kyakx taeny udh pnya hbngan slain sahabatn tapi fany ragu dan milih si nikhun kali yee..
    next ya..😋😋😋😋

    Like

  4. Yeeee ff baru dan saya suka …
    Ini taeny udh saling kenal kah atau bahkan pernah dekat hmmmmm…. ?????
    Taeng kaya nya bukan dri keluarga sembarangan … apa lagi yoong beuh anak presiden cuy 😰😰😰😰😰😰😰😰
    Ttep suka tatang yg angkuh dan tak terbantahkan apalagi sama panny dan buat panny tak berkutik 😉😉😉😉😉😉😉

    Like

  5. 🙀🙀🙀🙀🙀 hevat nulisnya panjang banget baby..ceritanya bagus..ini ceritanyaa tiffany ma taeyeon kenapaa??😖😖😖penasarannn..😍😍😍..ohhh kapan uangku balik #plakkk

    Like

  6. Wihh kereenn2 lanjut thor hehe….
    Gue udah deg2an di awal tkut yg nyakitin fany itu tae eh trnyata nikon wkwk
    Jd mereka ber2 itu udh tau klo tae suka? Atau mereka ber2 sbnernya prnh pnya hbungan??

    Like

  7. ini chapter pertama tapi keliatannya banyak konflik ya, tapi penasaran kedepannya terlebih masa lalu antara taeny 🙂
    semoga banyak kejutan di chapter kelanjutannya, jangan di gantung di tengah jalan ya thor 😆

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s