Step’s

Title : Step’s

Author : –

Cast : Taeny

Genre : 18+, Romance, School, One shoot, GenBen

(Satu)

Semilir angin musim semi berhembus. Sepoiannya ditemani sinar purnama, sempurna. Sejuk, menenangkan, indah, mungkin itu yang kini tergambar. Musim ini membawa kedamaian bagi mereka yang sekedar tahu bagamana cara menikmatnya. Bagaiman keluar dari pekerjaan yang melelahkan untuk sekedar bersantai, minum kopi di sore hari sambil menikmati pemandangan. Sungguh.. keadaan yang langka di kota besar sekarang.

Laki-laki maupun perempuan tenggelam dalam dunia bisnis. Duduk didepan komputer berjam-jam, memeriksa file dan data, belum lagi kertas ribuan banyaknya. Lupa makan, lupa tidur, lupa… keluarga. Lupa jika mereka masih punya tanggung jawab.

Hari menjelang pagi. Dirinya beringsut turun dari ranjang besar itu. Sempat menoleh menatap seorang pria yang tertidur dengan lelap. Dengan malas ia menuju kamar mandi. Dirinya memang terbiasa bangun pagi. Dia dari keluarga yang taat akan waktu, yang tidak menunda pekerjaan serta tegas akan kedisiplinan. Menyelasaikan rutinitas paginya, ia melangkah keluar kamar. Setelah berpakaian, Dia mengabaikan laki-laki yang masih terlelap tadi. Menyeret kakinya sendiri untuk turun dari lantai dua rumah mewah itu.

Dia menemukan beberapa maid yang memang bertugas beres-beres mondar mandir. Sempat menunduk hormat atau sekedar basa-basi. Gadis itu perlahan membawa dirinya menuju ruang tengah. Dan hanya menemukan pria paruh baya sedang membaca koran harian sambil sesekali menikmati seduhan kopi manis.

“ good morning Mr.Kim” sapanya.

Pria paruh baya itu menoleh kearahnya. Tersenyum hangat.

“Fany-ah kenapa kau memanggilku mr.kim? aku sekarang ayahmu.. kemarilah duduk bersamaku” pria paruh baya itu memberi gestur agar gadis bernama Tiffany itu mendekatinya.

Tiffany menempatkan dirinya disamping pria paruh baya itu. Sedikit memperbaiki kacamatanya.

“bagaimana tidurmu nak? Nyenyak?” dia tersenyum pada Tiffany. Wajahnya tetap ramah dan hangat.

“sangat nyenyak. Bagaimana dengan anda?” Tiffany berujar sopan

“Oh.. kau sangat sopan dan kaku nak.. kau sekarang putriku juga Tiffany. Aku ayahmu, be enjoyed .. just call me appa atau daddy jika kau ingin.. okay..” Mr.Kim mengelus rambut Tiffany sayang.

“Tidurku juga nyenyak.. bagaimana dengan malam pertamamu? “Mr.Kim kini mengedipkan sebelah matanya, menggoda Tiffany yang langsung salah tingkah.

“A-apa.. maksud appa… a-akku..”

“ Hahaha.. tenang nak..appa hanya bercanda. Kau bisa menyimpan rahasia itu untuk dirimu sendiri. appa tak akan memaksamu ..” Mr.Kim terkikik sendiri.

Tiffany tersenyum kecil. Takdirnya terasa sangat mempermainkannya sekarang. Lihatlah.. dia adalah gadis berusia 18 tahun yang masih sangat belia untuk berumah tangga. Menikah di usia yang segitu bukanlah hal yang diinginkan Tiffany.

Tidak.. dirinya adalah gadis baik-baik. Dia dibesarkan dengan didikan keras dari orang tuanya. Maklum dirinya bukan dari keluarga yang berada. Hanya memilik kedai ramen sederhana yang bisa menjadi tumpuan keluarganya menyekolahkan dirinya.

Jika ditanya mengapa ia bisa menikah diumur sekarang, jawabanya sangat simple. Pemaksaan. Kata itu juga kurang cocok rasanya, mengingat dirinya sendiri juga menerima pernikahan itu. Tidak benar-benar menerima dengan sepenuh hati, pasalnya dia hanya ingin menjalankan apa yang bisa ia berikan pada keluarga yang amat dicintainya. Ayahnya sakit keras, mereka tak punya biaya untuk membayar iuran rumah sakit untuk pengobatan sakit ayahnya yang sangatlah mahal. Belum lagi kedai ramennya memiliki hutang dari sebuah perusahaan besar dan mereka juga harus membayar hutang itu.

Tiffany tak tega dengan keadaan ayahnya, belum lagi ibunya yang harus lembur dan mencari pekerjaan tambahan untuk itu semua. Tiffany juga tak tega harus membiarkan nara, adiknya bekerja sambilan. Dia anak pertama, cepat atau lambat ia akan bertanggung jawab dalam keluarga. Mungkin Tuhan tahu yang terbaik untuknya. Itulah mengapa garis takdirnya menjadi seperti sekarang.

Tiffany ingat saat malam itu mobil mewah berhenti didepan rumah sederhananya. Sepasang suami isteri kaya dan terhormat bertamu saat itu. Mereka adalah orang dari pemilik perusahaan tempat ayahnya meminjam uang, serta orang yang sama sebagai pemilik dari rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Dirinya menemukan mereka dalam keadaan yang ramah dan baik. Dan satu kalimat yang masih tetap terngiang hingga sekarang dalam benak tiffany. Kalimat yang menyambarnya seperti petir. Meruntuhkan segalanya. Namun kalimat itu juga yang menolong keluarganya.

Tiffany Hwang.. menikahlah dengan putra kami. Maka semua hutang itu kami anggap lunas’ itulah kiranya gambaran saat wanita paruh baya dengan senyum hangat berujar padanya.

Dan disinilah Tiffany Hwang sekarang. Menjelma menjadi Tiffany Kim, setelah pernikahan tertutupnya kemarin sore. Yep..tentu saja tertutup, tidak mungkin khalayak tahu hal mencengangkan itu. Mengingat ‘suami’nya adalah seorang pewaris satu-satunya perusahaan lokomotif terbesar asia itu. Tentu akan menjadi bahan perbincangan jika mereka harus menikah disaat mereka baru matang.

“ Kau melamun Tiff?” sebuah tepukan lembut menyadarkan dirinya.

Mrs.Kim entah sudah berapa lama ia duduk disamping Tiffany. Gadis itu tidak menyadarinya. Ia sibuk dengan pemikiran rumitnya tentang takdir, sibuk dengan memori flashbacknya dan sibuk dengan segala hal dalam otaknya.

“Mianhae Eomma.. aku melamun..” Tiffany menunduk. Merasa bersalah pada ibu mertuanya.

“ Its okey honey.. apa sedang kau pikirkan hum?” Mrs.Kim membelai surai lembut Tiffany yang dikucir dua.

“Hanya masalah kecil..”

“Hum begitu.. baiklah.. apa Taeyeon sudah bangun? Kalian bisa terlambat nanti..”

Tiffany hanya tersenyum lemah. Kim Taeyon, suaminya. Pria tampan dan dingin itu harus Tiffany akui sangat tidak menyenangkan. Ia bahkan sangat tidak akur dengan Taeyeon. Selama pendekatan seminggu dan sehari setelah mereka menikah Taeyeon tak pernah sekalipun tersenyum. Wajahnya cool dan sikapnya lebih cooooollll.. benar-benar tidak menyenangkan.

“ Aku disini omma..”

Mereka menoleh melihat laki-laki dengan postur tegap dan wajah tampan itu berjalan ke arah mereka. Tanganya dimasukkan dalam saku celananya, sedang almater hitam dan tasnya dibawakan seseorang dibelakangnya. Tiffany hanya diam memandang mata tajam itu. Hidung mancung dan garis rahang yang terpahat sempurna. Pewaris satu-satunya dari keluarganya. Kim Taeyeon.. suaminya.

“ baiklah.. sekarang mari kita sarapan, barulah kalian berangkat bersama. Ingat Taeyeon-ah, jaga istrimu baik-baik. Dia sekarang akan bersekolah di tempatmu. “ Mr.Kim mengintrupsi.

“ Aku tahu appa..aku bukan anak kecil yang harus diingatkan selalu. Aku juga tidak pikun” jawabnya cuek.

See… orang kaya belagu!

*

Tiffany menatap bangunan megah didepanya. Dirinya berdecak kagum.

Apa ini sekolah orang kaya? Ini seperti sebuah kota..’ batinya

Bagaimana tidak, bangunan-bangunan ini mirip dengan kastil-kastil romawi kuno yang sering Tiffany lihat dipelajaran sejarah.  Dari gerbang menjulang tinggi bercat coklat tua, lalu parkiran yang luasnya hampir 2x lapangan sepak bola. Belum lagi bangunan kelas dan bangunan yang lainya bergaya eropa. Elegant, mewah, megah, Tiffany merasa dirinya minder.

Dia hanyalah gadis sederhana.

“ Sampai kapan kau bengong disitu.. ayo masuk” ia mendengar Taeyeon berujar dingin. Dilihatnya pria itu menoleh padanya dengan jarak lima langkah di depanya. Segera Tiffany mensejajarkan langkahnya dengan laki-laki itu.

“ apa ini sekolahmu?” Tiffany bertanya sambil mendongak menatap bangunan itu

Ia berdecak kagum sekaligus ngeri. Kagum dengan kemegahan sekolah yang juga menjadi salah satu sekolah termahal dunia itu. dan ngeri membayangkan jika dia bukan istri dari seorang Kim Taeyeon, yang merupakan pewaris tunggal sebuah perusahaan yang besar, ia pasti tidak akan mampu sekedar melewati gerbang didepan sana.

“ Ya..kenapa?”

Tiffany menggeleng pelan. Sungguh, ia pasti tengah bermimpi sekarang. See.. this school so big and I’m sure they are famous right

Tiffany berjalan disamping taeyon yang hanya memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Sedang almater hitam tersampir di bahu menyisakan kemeja putih bergaris biru tua yang digulung sampai siku dan dasi hitam gradien biru. Celana hitam mengkilap itu terlihat cocok denganya.

Tiffany kembali memandang kedepan.

“ kita mau kemana? Ini bukan arah menuju ruang DePS..” Tiffany menatap bingung taeyeon. Ia sempat melihat denah sekolah sebelum berangkat tadi pagi, dan ia juga tahu peraturan untuk sekedar melapor diri pada badan yang mengurus tentang siswa/siswi baru atau pindahan.

“ kau perlu baju seragam” taeyon menjawab dengan nada datar seperti biasanya.

Tiffany mengangguk perlahan.

Mereka tiba didepan sebuah pintu besar bercat coklat tua. Taeyeon mendorong pintu itu membiarkan dirinya dan tiffany melangkah melihat isi ruangan yang dipenuhi dengan buku, alat tulis, baju olahraga, baju seragam, almataer, dan beberapa baju yang Tiffany duga digunakan dalam sebuah pementasan drama.

“oh.. anyeong hasseyo Kim Taeyeon-ssi” seorang wanita berumur sekitar 30-an menyapa mereka dengan senyuman hangat. Taeyeon hanya tersenyum kecil sambil membungkuk kecil pada orang itu.

“ kau membutuhkan sesuatu? Tumben sekali kau datang?” dia menyimpan catatan kecil diatas meja dan berjalan menghampiri Taeyeon dan Tiffany.

“ ya.. aku butuh seragam untuk dia..” Taeyeon menunjuk kearah tiffany di belakangnya. Tidak bisakan laki-laki itu sedikit menganggap keberadaannya. Bagaimana bisa ia memperkenalkan orang dengan seperti itu. What the-Tiffany tersenyum dan membungkuk pada orang itu. Meskipun kesal, ia harus menjaga sikapnya.

Wanita itu tersenyum pada Tiffany.

“ oh.. kau murid baru?pertama mari kita berkenalan.. namaku Ohm Hyo Jin.. “

Tiffany tersenyum.

“ Saya Tiffany Hw- eh.. maksud saya Tiffany Kim..”

“Baiklah Tiffany-ssi mari kita cari seragam yang cocok untukmu.” Keduanya melangkah. Meninggalkan Taeyeon yang masih berdiri santai sambil sesekali melihat beberapa buku catatan yang ada disampingnya.

20 menit kemudian Tiffany kembali pada Taeyeon dengan seragam yang sama dengan Taeyeon.

Taeyeon sempat berhenti dan memandang kearah Tiffany. Gadis itu memakai baju putih dan alamater coklat khusus perempuan. Juga dengan dasi coklat. Rok selutut berwarna senada yang mengekspos kaki putih jenjangnya dan sepatu putih yang sangat cocok denganya. Namun mungkin yang merusak pemandang adalah kacamata besar yang Tiffany gunakan, serta rambutnya yang terkucir dua membuatnya malah terlihat seperti gadis cupu.

“ terimakasih Mrs.Ohm.. “ Tiffany membungkuk dan tersenyum dengan eyes smilenya.

“ oh.. urwell Tiffany-ssi.. “

“ kami permisi”

Keduanya melangkah keluar. Berjalan memutar sampai tiba didepan lift. Hanya terjadi kesunyian saat lift yang membawa keduanya bergerak menuju lantai empat. Keduanya melangkah keluar. Lalu Taeyeon berhnti didepan sebuah pintu bercat keemasan yang bertuliskan ‘class Y ‘

“ ini lambang apa?”

Taeyeon menoleh menatap Tiffany yang tengah menunjuk lambang kelasnya.

“ Class of the heirs.. kelas berisi siswa siswi paling populer disekolah ini”

“ apa aku juga masuk kelas ini? Tapi aku sama sekali bukan pewaris dan juga aku ini murid baru, belum tentu menjadi siswi populer sekolah..” Tiffany membelak kaget. Ia menggeleng pelan. Hey.. apa hidup orang kaya memang seperti ini?

“ Kau piker nama Kim yang kau pakai itu untuk apa. masuk…” Taeyeon mengabaikan ocehan panjang Tiffany dan langsung menariknya masuk dalam kelas. Seluruh siswa lantas memandang keduanya. Tak ada guru disana. Hanya LCD yang menyala dengan tampilan seseorang yang tengah menerangkan sesuatu.

Hening~ efek kedatangan Taeyeon membuat suasana lantas hening seketika. Semua mata langsung terpaku pada keduanya. Tiffany merasa gugup seketika. Dengan predikat bahwa dia adalah murid baru dan juga ia masuk dalam kelas yang berisi para pewaris yang Tiffany yakini mereka pastinya adalah anak dari orang-orang kaya.

“ Kim Taeyeon.. hwo is she? “ seseorang bertanya. Mencairkan suasana hening. Taeyeon memandang pada Tiffany. Seolah menyisaratkan gadis itu untuk memperkenalkan dirinya.

“ Na-naneum.. Tiffany Kim im-nida..” Tiffany membungkuk kecil. Kelas lagi-lagi hening. Tiffany semakin merasa dirinya gugup. Ia hanya meremas kecil baju yang digunakanya.

“ bisakah lebih spesifik menjelaskanya. Tentang keluarga dan latar belakang dirimu berasal..” seorang laki-laki yang duduk di barisan kedua bertanya dengan ekspresi sombong yang terlihat sangat jelas. Ia memainkan pulpen ditanganya. Bagaimanapun, melihat penampilan gadis itu membuatnya sedikit merasa bahwa Tiffany berlevel jauh dibawh mereka. Tapi, saat melihatnya masuk dengan Taeyeon, mungkin gadis itu tak bisa ia anggap remeh. Kelas ini tak menerima sembarangan siswa dan siswi. Pasti ada alasan kenapa gadis bernama Tiffany itu dikelas mereka.

“ a-ak-ku..”

“Duduklah Tiffany..” Taeyeon langsung memotong pembicaraan dengan suara intrupsi yang sangat datar. Ia memandang laki-laki yang melontarkan pertanyaan itu dengan wajah dingin yang tidak bersahabat. Merasa bahwa ia memiliki kesempatan untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut. Tiffany mengambil langkah cepat. Ia memilih tempat yang berada di depan meja yang paling pojok. Kursi itu berada dibelakang tempat duduk seorang gadis berambut pirang yang tengah tertidur.

Dan Taeyeon duduk tepat dibelakang Tiffany. Apa kebetulan?

*

Tiffany hanya terdiam. Duduk sambil memandang keluar jendela. Melihat panorama bangunan itu yang semakin membuatnya seperti masih bermimpi. Arsitekturnya mirip kerajaan. Tiffany seolah merasa dirinya berada dalam sebuah ruangan dibilik kerajaan megah dan dia tersesat. Mencoba keluar namun pada akhirnya dirinya menjalani hidup dalam istana itu.

“ Tiffany..”

Tiffany menoleh melihat dua orang gadis berdiri tepat disamping mejanya.

Ia mengenal salah satu dari gadis itu, gadis pirang yang duduk tepat didepan mejanya.

“ Anyeong… Aku Jessica Jung. Kita pernah bertemu sebelumnya..” gadis pirang bernama Jessica Jung tersenyum pada tiffany. Wajahnya cantik seperti wajah figuran boneka barbie yang sering sekali ia lihat diacara TV. Wait.. mereka pernah bertemu? Dimana?

“ Dan aku Choi SeoHyun.. senang berkenalan denganmu Unnie..” gadis berambut coklat muda lurus membungkuk padanya. Kalau tidak salah dia adalah gadis yang duduknya berada di barisan depan tadi.

Tapi.. kenapa dia memanggil unnie.. bukanya kita satu kelas?

Disinilah mereka sekarang, tepat ditaman belakang sekolah yang sepi. Pohon apel dan pear berjejer rapi. Mereka duduk disalah satu bangku tepat dibawah sebuah pohon OAK tua yang rimbun. Suasana tenang dan menyejukkan, membuat angin segar menerpa dan menerbangkan kecil rambut mereka.

“ Jadi begitulah..” Seohyun mengakhiri ceritanya. Tiffany hanya menganggukkan kepalanya.mendengar  Seohyun menceritakan tetang dirinya. Sekali lagi, Tiffany berdecak kagum. Choi Seohyun adalah seorang gadis dari keluarga konglomerat korea. Dirinya adalah seorang pewaris utama mengingat ia kehilangan kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu. Seohyun memiliki otak yang cerdas. Itulah penyebab dirinya berada di kelas yang sama dengan Tiffany dan Jessica, padahal seharusnya ia berada satu tingkat dibawah mereka.

Dan Jessica Jung. Gadis pirang itu adalah anak pertama dari seorang pengusaha asal amerika yang perusahaan mereka sudah merajai industri Lokal dan Internasional. Tidak heran mengapa dia bisa berada di kelas tadi.

Dan dia juga mulai menyadari bahwa gadis pirang dan gadis berambut coklat muda lurus itu juga ada saat pernikahanya dengan kim taeyeon. Dengan kata lain, rahasianya juga berada di tangan kedua gadis itu.

(Dua)

Pagi menjelang saat Tiffany terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia mengusap wajahnya yang masih sedikit mengantuk lantas turun dari tempat tidurnya. Ia tahu hari ini adalah genap tujuh bulan ia bersekolah setelah ia mendaftarkan dirinya. Keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap dirinya membawa kaki menuju ruang tamu di lantai satu rumah.

Sepi.. hanya ada beberapa maid yang sibuk dengan urusan masing-masing. Jika biasanya ia akan duduk sekedar mengobrol dengan Ayah dan Ibu mertuanya, tapi sekarang ia akan melewati paginya untuk sekedar menonton kegiatan pembantu-pembantu rumah, karena dipastikan mertuanya tengah berada dinegeri orang untuk perjalanan bisnis mereka. Sedangkan kim taeyeon, bahkan meskipun mereka sudah menikah, tidur di ranjang yang sama tapi sampai kini hubungan mereka masih tetap datar dari saat pertama kali bertemu, tidak juga separah itu. beberapa kali laki-laki itu akan membantunya dan sekedar menawarkan diri untuk menemani Tiffany. Hanya saja, Taeyeon benar-benar berbeda. Dia snagat Arogant dan itu- ughh Tidak masalah juga untuknya, toh dia memang tak terbiasa dengan cara bicara laki-laki itu yang terkesan dingin.

Tiffany menghela napas pelan. Selama tujuh bulan ia bersekolah disekolah itu, dan selama itu dirinya selalu mendapat pandangan merendahkan dari beberapa siswa. Mereka memandang Tiffany seolah Tiffany adalah sampah menjijikan yang harus dijauhi. Terutama Ham Ki Bum, Song Hyerin dan Jang Ji Yeon. Ketiga anak populer yang juga satu kelas dengan dirinya. Mereka sering sekali sekedar menghina Tiffany didepan umum atau sekedar mengerjainya.

Dan Tiffany.. ia hanya diam karena memang tak ada satupun yang membuatnya mampu berkutik. Ia juga menolak saat Taeyeon mengantarnya kesekolah, bukan karena apa. Hari pertama ia bersekolah ia sudah mendapat surat ancaman dari beberapa orang. Yang intinya mereka tak suka Tiffany dekat-dekat dengan Taeyeon. Hingga sampai sekarang Tiffany akan memberhentikan mobil Taeyeon sampai halte dan dia akan duduk menunggu bis disana.

Dan sepertinya Taeyeon malah tidak perduli? Tiffany jadi ragu mungkin juga Taeyeon tidak tahu menahu tentang dirinya yang mendapat tekanan batin dari beberapa oknum. Laki-laki itu terlihat sangat santai seolah apapun yang terjadi pada Tiffany memang tak ada urusanya dengan dirinya. Ck.. memang apa yang ia harapkan? Taeyeon membantunya dan menjauhkan semua orang itu? bermimpi. Laki-laki dingin itu tak bisa ia menggantung sesuatu harapan yang bahkan ia ragukan bahwa Taeyeon mengingatnya.

“ ayo berangkat..” Tiffany mendongak. Sejak kapan Taeyeon berada didepanya? Kenapa ia tidak menyadari kehadiran laki-laki itu. Mungkin karena ia terlalu fokus dengan pikirannya Jadi ia tidak sadar bahwa taeyeon mendekat padanya.

Tanpa berucap apapun Taeyeon berjalan duluan diikuti Tiffany dibelakangnya sambil menenteng tas. Keheningan tercipta. Mobil sport biru gelap itu melaju membelah jalan. Taeyeon masih dengan wajah dingin seperti biasa hanya terfokus pada jalanan, sedang Tiffany memilih mengalihkan pandanganya ke arah luar.melihat kegiatan manusia lainya dijalan raya.

Hingga tiba di halte Taeyeon menepikan mobilnya. Tiffany membuka seatbeltnya dan lantas turun. Tak ada kata yang terucap maupun terujar. Taeyeon langsung melajukan mobilnya meninggalkan Tiffany yang langsung duduk di bangku halte menunggu bis seperti biasa.

“ huh.. aku bisa terlambat jika seperti ini..” Tiffany mendengar seseorang menggerutu disampingnya. Ia menoleh melihat laki-laki dengan seragam sekolah yang sama dengan seragam sekolahnya. Orang itu juga menoleh pada Tiffany.

“ hay..” dia menyapa Tiffany dengan senyum yang riang. Tiffany cukup terkejut tapi kemudian ia balas tersenyum juga.

Laki-laki itu menggeser duduknya kesamping Tiffany.

“ apa kau murid generation high school? Perkenalkan namaku Byun Baek hyun.. siapa namamu?” ia menyodorkan tanganya untuk berjabat dengan Tiffany

“ Ne.. Namaku Tiffany Kim..senang berkenalan denganmu Baekhyun-ssi..”

“ Jangan terlalu formal Tiffany, panggil saja aku Baek..” keduanya saling tersenyum Dan mengobrol ringan. Keduanya cepat akrab. Pribadi mereka yang sama membuat mereka dapat saling terhubung.

“ aku mendapat beasiswa untuk sekolah disana. Keluargaku bukan dari keluarga yang berada. Jadi aku harus bisa mencapai cita-citaku untuk jadi orang sukses dan membanggakan mereka”  ujar Baekhyun sambil tersenyum simpul. Tiffany mendengarnya dengan seksama. Ia kagum mendengar bagaimana perjuangan pria itu hingga bisa sekolah disana

“Bagaimana denganmu?” ia menoleh kembali mendengar Baekhyun bertanya padanya.

“ hum.. aku tidak jauh berbeda dengan keadaanmu..aku juga tidak dari keluarga yang kaya” Tiffany menjawabnya. Meskipun dalam hati ia menambahkan ‘setidaknya itu dulu sebelum pernikahan ini terjadi

“ wah.. kita ternyata sama”

Obrolan mereka berlanjut sampai bis datang dan mengantarkan mereka sampai tujuan. Mereka berdua turun dari bis itu dan melangkah mendekati gerbang sekolah.

“ Benar-benar keren.. sekolah ini sangat megah dan luas” haan terkagum dengan ekspresi yang sama seperti Tiffany saat pertama kali melihat sekolah barunya. Bahkan sampai sekarang Tiffany masih tak kuasa menahan decakanya saat melihat bangunan itu.

“ Aku akan mengantarmu sampai diruang DePS.. mari..”

Keduanya berjalan dilorong yang membawa mereka ketempat dewan sekolah berada. Sepanjang koridor semua mata tertuju pada mereka. Bukan karena mereka menarik melainkan karena hal lain.

“ Kenapa mereka memandang kita seperti itu?” bisik Baekhyun merasa tidak enak. Ia merapatkan dirinya pada Tiffany.

“Mereka memang seperti itu. Sudah abaikan saja..” Tiffany berujar tenang. Meskipun kenyataan dalam hatinya nyalinya menciut sejak mereka melewati gerbang di depan.

“ Oh.. Tiffany..” Tiffany menolehkan kepalanya mendengar seseorang memanggilnya. Ia melihat Jessica dan seorang laki-laki berjalan kearah mereka.

“ Hay Jessica..”

“Hey.. kau baru datang? Dan… siapa ini Tiff. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini.” Jessica memandang Tiffany dan Baekhyun bergantian. Tergambar jelas dirinya kebingungan.

“ oh.. perkenalkan dia murid baru disini Jess. Namanya byun Baekhyun, dan Baekhyun dia Jessica Jung ketua OSIS kita.” Baekhyun memandang kagum kearah Jessica. Wajahnya benar-benar cantik dan bersinar. Pasti dia bukan dari golongan yang biasa. Baekhyun merasakan dirinya bergetar. Menjabat tangan Jessica yang lembut dan halus.Jessica tersenyum. Membuat wajahnya yang cantik menjadi seribu kali lipat lebih menawan.

“senang berkenalan denganmu Baekhyun -ssi”

“n-ne..” Baekhyun berujar gugup. Ia menunduk malu. Ia rasa.. dirinya mencintai Jessica dari pandangan pertama.

“ Dan Baekhyun.. ini Kwon Yuliand.. wakil ketua OSIS sekaligus tunangan Jessica “

Degg… Baekhyun merasakan dirinya membeku. Menatap pria tinggi disamping Jessica.  Berwajah tampan, kecoklatan, bersih, tegap, menawan. bisa juga dipastikan pria itu sangat kaya raya…dia.. sangat cocok dengan Jessica. Ah… dirinya patah hati dalam waktu beberapa detik setelah jatuh cinta. 😦

Baekhyun membungkuk hormat. Dan Yul tersenyum tipis padanya.

“ Mianhae Fany-ah.. kami pergi dulu.. kajja Sica” Yul menggenggam tangan Jessica sebelum berjalan melewati Tiffany dan Baekhyun yang masih terpaku pada pasangan yang semakin menjauh.

“Baekhyun..” Tiffany menepuk bahu laki-laki itu. ia sedikit menahan senyuman gelinya saat matanya menyadari bahwa laki-laki itu menyukai Jessica. Pasti sangat terkejut mendengar bahwa gadis yang ia sukai pada pandang pertama ternyata sudah memiliki kekasih.

*

“ Siapa laki-laki itu?” suara Taeyeon menggema ditelinga Tiffany. Bukan hanya karena ruangan ini kosong dan memantulkan suaranya di dinding, tapi karena memang Taeyeon berujar beberapa senti dari telinga Tiffany.

“hum?? Maksudmu siapa?”

“Laki-laki tadi pagi. Aku melihatmu turun dari bis denganya” Taeyeon menyedekapkan tangan didada.

“ oh.. Byun Baekhyun kah maksudmu? Dia temanku..” Tiffany kembali membelakangi Taeyeon. Kembali dengakn kesibukan awalnya, Membaca buku.

“ Aku tidak tahu kau punya teman disekolah ini” Tiffany berbalik cepat memandang tajam laki-laki itu. Taeyeon masih tenang dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“ Apa maksudmu..” Tiffany sewot

“ yah.. kecuali si pirang Jessica, si jenius Seohyun, atau si ratu aegyo sSunny, aku tidak pernah melihatmu bergaul dengan siswa selain mereka bertiga”

Tiffany mengabaikan ocehan Taeyeon kembali berbalik menghadap depan. Ia kesal dengan Taeyeon. Laki-laki itu tidak hanya sekali membuatnya kesal, bahkan setiap harinya laki-laki pendek itu terus membuatnya pusing dan gerah melihat kelakuan Taeyeon yang sok dan semaunya sendiri.

Bahkan saat Tiffany mencoba menanyakan tentanghome work pada Taeyeon laki-laki itu hanya menjawab ‘kenapa bertanya padaku? Memangnya apa yang kau lakukan dikelas? Kerjakan saja sendiri . aku sibuk” padahal saat itu Taeyeon tengah bersantai sambil minum teh dihalaman. Dan saat itu juga Tiffany bersumpah dalam hatinya tak akan pernah mau bertanya soal apapun pada Taeyeon lagi.

“ Apa dia pacarmu..”

Tiffany tersentak mendengar taeyeon berbicara sekarang tepat didepannya. Laki-laki itu menunduk menyamakan tingginya dengan Tiffany yang tengah duduk.

“ Ish.. itu bukan urusanmu. Urus saja dirimu sendiri..”

Tiffany menarik bukunya dan berjalan keluar kelas. Ia menengok kiri dan kanan, memastikan tak ada yang melihatnya berdua dengan taeyeon tadi. Apalagi saat terakhir wajah taeyeon yang sangat dekat jaraknya dengan wajah tiffany. Ia malas berurusan dengan para penggemar Taeyeon yang jumlahnya sangat banyak dan berkategori ganas itu. Bisa-bisa bukan hanya loker atau bangkunya saja yang mendapat coretan jahanam tapi juga wajahnya yang kena imbasnya nanti. Membayangkannya saja membuat Tiffany bergidik ngeri.

Dia membawa kakinya menuju taman belakang. Tempat sepi yang membuat Tiffany merasa nyaman. Jarang ada yang pergi kesana. Dan itu membuat Tiffany merasa… senang? Mungkin. Ia bukan tipe orang yang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru atau bukan orang yang bisa sekedar mengobrol dengan jejeran gadis populer disekolahnya. Dia hanyalah gadis kutu buku yang hanya mencintai perpustakaan dan ketenangan.

“ hah.. nyaman jika disini..” ia menjatuhkan dirinya diatas bangku panjang dan segera membuka buku pelajaran bahasa inggris yang dibawanya. Dengan belajar ia bisa mengerti segala hal. Ketekunan itu membuat Tiffany mendapat banyak perhatian dari para guru. Dia siswa yang tergolong pandai. Setidaknya dalam tujuh bulan ini ia mendapat peringkat ketiga kelas satu peringkat dibawah si jenius Choi Seohyun dan yang pertama adalah…. Kim Taeyeon.

Heran, bagaimana laki-laki yang tak pernah sekalipun memerhatikan guru dan hanya duduk sambil melihat keluar jendela dan memasang headset itu bisa mendapatkan rangking kelas? Iya.. Tiffany memang sering mendengar kalau Kim Taeyeon orang yang jenius walaupun tidak perdulian dan lebih pada golongan sombong. Tapi.. hey bagaimana bisa manusia pandai tanpa belajar sedikitpun.

Dirumahpun meskipun Taeyeon tahu adanya ujian pagi harinya, laki-laki itu tidak terlihat belajar, membuka buku saja tidak. Berbeda dengan Tiffany yang hharus banting kepala untuk belajar dan menghafal.

“ Tiffany…”

Tiffany merasakan seseorang menepuk pelan bahunya. Dan saat ia mendongak ia melihat haan tersenyum cerah padanya.

“Baekhyun? Bagaiman kau bisa tahu aku disini?” bingungnya.

Baekhyun terkikik kecil dan duduk di samping Tiffany.

“ Aku melihatmu berjalan kesini tadi..”

“ Dan kau mengikutiku?”

“ hahaha… sorry.. aku tidak punya teman mengobrol. Jadi aku langsung mengikutimu..”

Tiffany mengangguk mengerti. Benar… sekolah ini bukan sekolah pada umumnya yang bisa menerima semua siswa dari golongan atas maupun bawah.sekolah ini berbeda. Kasta dan kedudukan serta harta dan kekayaan adalah jalan utama jika ingin mendapatkan teman. Bagi beberapa orang yang beruntung dari kalangan bawah mereka bisa bergaul dengan banyak siswa, tapi bagi mereka yang tidak beruntung, mendapat hinaan mungkin adalah hal yang paling kecil dari sekian banyak kekejaman para pewaris itu.

see… manusia memang tak bisa menilai orang jika bukan dari sampul mereka..’

Seseorang bersedekap diatas pohon. Mencoba menetralkan kemarahannya dengan menggigit keras buah pear ditanganya. Laki-laki itu terus memandang keakraban Tiffany dan Baekhyun. Hatinya terasa panas. Ia rasa harus segera mengakhirinya.

(Tiga)

Tiffany memasuki kamarnya dengan membanting pintu keras. Ia melempar begitu saja tas hitam yang digenggamnya. Melepas kacamata yang digunakannya juga melepas kuciranya. Membiarkan rambutnya tergerai. Dirinya merasakan kemarahan yang teramat.

Taeyeon memasuki kamar setelahnya. Dan pandangan tajam Tiffany langsung mengarah pada laki-laki yang masih memasang wajah cool-nya.

“ kenapa kau melakukan itu Kim Taeyeon?!”

Taeyeon mengangkat sebelah alisnya. Membuat Tiffany memutar bola matanya malas.

“ kau tahu apa yang kumaksudkan…apa yang kau lakukan tadi huh? Kenapa kau memukul haan seperti itu? Memangnya haan punya masalah denganmu?” Tiffany maju dan berdiri tepat didepan taeyeon. Matanya menatap taeyeon tajam. Wajahnya lebih dingin dibanding Taeyeon.

Berpura-pura seolah tak mendengar ocehan Tiffany, Taeyeon melangkah melewati Tiffany begitu saja.

“ apa kau tak mendengarku Kim Taeyeon.. aku berbicara denganmu sekarang”

Taeyeon melempar almater hitamnya keatas ranjang. Dia berbalik menatap Tiffany.

“ Apa? Kenapa kau sangat perduli dengan anak itu?” tanya Taeyeon dengan nada dingin.

“ Aku perduli karena dia siswa baru .. dia juga masih belum terlalu mengetahui seluk beluk sekolah kita kan? Jadi wajar jika aku membantunya”

“ Anak baru? Dia sudah sebulan sekolah disana Fany-ah.. dia bukan anak baru lagi. Memangnya berapa lama bagimu untuk bisa mengenal sekolah dengan baik. Hanya butuh tiga harikan? Tapi dia…”

“ dan juga.. apa tidak ada orang lain yang bisa membatunya selain dirimu. Kenapa harus kamu. Kenapa bukan Yul atau Jessica sebagai pengurus OSIS, atau Yoong yang merupakan ketua DePS, atau yang lainya yang merupakan murid yang notabennya lebih lama bersekolah disana dibanding kamu yang baru sekolah delapan bulan lebih. Kenapa harus kamu?!”

Tiffany tersentak. Selain karena suara Taeyeon yang agak tinggi dan ekspresinya yang terlihat sedikit marah tapi juga karena banyaknya kalimat yang keluar dar mulut laki-laki itu. Selama ini Taeyeon tak banyak mengoceh. Dia hanya menjawab dengan kalimat pendek yang hanya tersusun tak lebih dari 10 kata perhari. Tapi sekarang?

“ apa karena dia kekasihmu.. itu kenapa kau sangat betah denganya?” sindir Taeyeon

Tiffany kembali memandang Taeyeon yang kini berdiri tepat didepanya.

“ Dia bukan kekasihku.. dia temanku…” geram Tiffany.

“ Teman? Apa yang dinamakan teman adalah menghabiskan waktu bersama ditaman sambil bercanda berdua seperti kau dan Baek- Baek apa namanya itu?.. atau teman adalah mereka yang entah bagaiman bisa kebetulan turun dari bus bersamaan, pulang bersama dan bahkan kalian makan siang bersama seperti layaknya sepasang kekasih!!.”

Taeyeon merasakan dirinya malah balik emosi. Dua minggu ini ia melihat keakraban laki-laki bernama Baekhyun itu dengan istrinya. Setiap hari Baekhyun selalu berdiri didepan kelas Tiffany menunggu bell istrahat dan keduanya pergi ketaman belakang. sebulan ini Taeyeon melihat Baekhyun dan Tiffany selalu bersama, mengerjakan apapun berdua. Entah mengapa dirinya merasa emosi. Cemburu…. mungkin.

Dia tidak suka Baekhyun bersama Tiffany. Ia tidak suka Baekhyun merangkul istrinya sedang ia menggenggam tangan Tiffany saja tidak pernah. Ia tidak suka Baekhyun membuat istrinya tertawa sedangkan ia hanya bisa membuat Tiffany jengkel dan marah-marah. Ia tidak suka dengan laki-laki itu!

Dan puncaknya tadi siang disekolah. Baekhyun mencium Tiffany tepat didepan matanya. Meski hanya sekedar mencium pipi Tiffany kilat tapi taeyeon tidak suka. Dan itu membuat Taeyeon kalap langsung menerjang Baekhyun dan memukulnya beberapa kali. Heck.. apa-apaan dengan ciuman itu. dia bahkan yang satu rumah dn bahkan satu ranjang dengan Tiffanyy tak pernah menyentuhnya. Maksdu Taeyeon bukan berarti dia akan melakukan sesuatu hal pada Tiffany. Ia hanya.. hanya- ah lupakan.

“ kami hanya teman Taeyeon… dan juga..sejak kapan kau tahu itu semua? Apa kau men-stalk ku?” Tiffany memincingkan matanya. Menatap Taeyeon dengan pandangan menyelidik.

“ Aku selalu tahu tentangmu..” Taeyeon berbalik. Berjalan sambil membuka kancing bajunya.

Tiffany termenung mendengar ucapan Taeyeon. Laki-laki itu-

“ kenapa?”

Taeyeon menoleh mendengar kata itu keluar dari Tiffany yang kini menunduk.

“ kenapa kau mengetahui tentangku.. kenapa kau mengikuti gerak gerikku..kenapa… kenapa kau memukul Baekhyun dan marah karena aku dekat dengan Baekhyun? Kenapa.. Taeyeon..” Tiffany mendongak menatap Taeyeon yang juga menatapnya.

Taeyeon menghela napas pelan. Ia membuang begitu saja kaos putih yang digunakanya kelantai. Membiarkan dirinya telanjang dada didepan tiffany yang langsung membelak matanya terkejut. Pertama kalinya dirinya melihat tubuh bagian atas laki-laki itu. Abs yag sempurna dengan otot kekar. kulitnya putih sangat indah dengan kilap air keringat yang membuatnya terlihat seperti berlian karena terkena cahaya yang masuk dari jendela. Dan tubuh itu-

aish apa yang kupikirkan..’ Tiffany merutuki dirinya dalam hati.

“ kau ingin tahu jawabanya?”

Taeyeon berjalan mendekati Tiffany. Matanya menatap tajam Tiffany dengan wajah dingin yang terlihat.. menyeramkan. Tiffany memundurkan dirinya saat laki-laki itu semakin dekat dengan dirinya. Sampai ia berhenti. Bukan karena ia ingin, tapi karena tubuhnya sudah tak mampu untuk melangkah menjauhi taeyeon, tembok menghalanginya.

Tiffany merasakan taeyeon menempatkan kedua tangan kekarnya mengurung tubuh tiffany antara dirinya dan tembok. Tiffany menelan ludahnya gugup. Ia mendongak menatap taeyeon yang masih menatapnya dengan intens.

“ ta.. tae-yeon..”

“ kau ingin tahu alasannya? karena kau istriku, karena kau milikku dan juga….Karena aku mencintaimu”

Degg.. Tiffany merasakan jantungnya berdetak kencang. Menatap mata coklat keemasan milik Taeyeon yang masih sangat mempesona dari pertama kali mereka bertemu. Siapa sangka, Tiffany yang selalu merasa marah dengan sikap Taeyeon ternyata menyukai laki-laki itu. Tapi entah mengapa dirinya menjadi sangat sengsi dan selalu marah saat Taeyon ada didekatnya. Ia selalu menghindari Taeyeon bagaimanapun keadaannya. Mungkin karena ia merasa gugup didekat laki-laki itu. Degup antung itu.. siapa yang bisa menyelamatkannya? Getaran aneh itu membuat Tiffany tidak nyaman dan melampiaskanya dengan selalu marah pada Taeyeon. Dan itulah yang juga terjadi pada Taeyeon.

Selalu bersikap dingin pada gadis itu. Membuatnya kesal dan marah akan setiap kelakuanya. Ia selalu mengganggu Tiffany untuk melihat reaksi gadis itu. Ia selalu mengerjai Tiffany untuk sekedar mendapat perhatian istrinya tersebut. Ia selalu membuat Tiffany kesal agar dapat melihat wajah imut Tiffany dan mendengar suaranya. Ia suka semua reaksi gadis itu..

Taeyon bukanya tidak tahu tentang masalah yang Tiffany hadapi disekolah. Ia tidak tuli ataupun buta dengan segala situasi disekolah. Apalagi jika menyangkut Tiffany, gadis yang dicintainya. Taeyeon bukanya tidak perduli, tapi ia takut jika ia membela Tiffany maka masalahnya akan semakin runyam. Ia tahu Tiffany hanya ingin hidup dengan tenang. Gadis itu begitu kuat, dan ini adalah sisi yang ia sukai dari istrinya. Gadis yang begitu dewasa diumur seperti itu.

Tapi.. iapun tidak bisa tinggal diam dengan segala masalah yang dihadapi Tiffany. Ia sempat berencana mengeluarkan beberapa siswa yang diperhitungkanya layak keluar dari sekolah yang juga merupakan sekolah milik keluarganya itu, namun ia mengurungkan niatnya mengingat ia tak ingin masalah itu malah merambat keluar dan media tahu tentang kelakuan siswa ‘GHS’ yang melakukan aksi bullying. Jadi ia hanya sekedar memberi teguran tertulis. Walaupun hanya sedikit yang mengikutinya karena kebanyakan mereka anak yang memang tidak mengindahkan perintah sekolah. Yah.. anak orang kaya terlalu sopan jika mereka harus mengikuti peraturan. Apalagi jika itu hanya sebuah surat biasa yang dicap dengan tanda tangan kepala sekolah. Bukan tanda tangan Taeyeon atau keluarga besar Taeyeon.

“ aku tidak suka ada orang yang menginginkanmu, karena hanya aku yang boleh seperti itu” Taeyeon berbisik pada Tiffany. Membuat gadis itu menahan napasnya dan menutup mata.

Keduanya saling memandang. Taeyeon tersenyum. Itu membuat Tiffany terpesona melihat laki-laki itu. Senyuman Taeyeon memang tipis dan dalam waktu yang tidak lama, namun senyuman itu sangat indah. Kontras dengan wajah dingin Taeyeon selama ini. Hey.. laki-laki es itu tersenyum!!

Pandangan keduanya terkunci erat. Taeyeon hanya terpaku pada bola mata Tiffany yang berwarna coklat muda. Mata indah itu sangat menghipnotisnya jika Tiffany tersenyum. Lengkungan bulan sabit tercipta. ‘eyes smile’ sangat mempesona.

“ I love you…” Taeyeon berujar lembut sambil menatap Tiffany dalam. Tidak ada kebohongan yang terpancar dalam mata itu. Akhirnya setelah sekian lama memendam sepenggal kalimat itu, ia berakhir melepasnya hari ini. Entah apa yang akan Tiffany katakan padanya, hanya saja.. ia lega telah mengatakn itu.

Tiffany tersentak untuk satu hal yang begitu tak diduganya. Apa yang dikatakan laki-laki itu? satu hal yang lurus dari mata itu membuktikan bahwa telinganya tak menangkap satu hal yang bermasalah. Oh.. dan meskipun ia terus memikirkan hal itu dalam kepalanya, namun kalimat yang sama dengan sedikit gugup dan terbata meluncur dari bibirnya. Satu kata itu.. dan mengubah segalanya.

“ i.. i-i l-love you t-too..”

Taeyeon tersenyum makin lebar. Ia menunduk mencium bibir Tiffany yang sempat tersentak dan tegang. Merasakan aliran listrik menjalar ketubuhnya. Sebelum menutup matanya menikmati kuluman dan lumatan Taeyeon pada bibirnya.

Entah bagaimana , kini Tiffany sudah jatuh ketempat tidur mereka. Dengan Taeyeon yang menindihnya. Ciuman itu semakin dalam dan semakin panas dari sebelumnya. Tiffany hanya dapat mengerang saat Taeyeon menyelipkan lidahnya kedalam mulut Tiffany mencoba mengabsen seluruh isi dari mulut gadis itu. Lidah mereka menari mencoba lebih dominan antara satu dan lainya.

Sedang tangan Taeyeon sudah berhasil membuka seluruh pakaian Tiffany yang kini hanya naked tepat dibawahnya. Tiffany membuka matanya. Melihat taeyeon yang menelan ludah memandang tubuh Tiffany yang tak terlapisi apapun.

Ia melihat Taeyon segera melepas celana sekolahnya. Membiarkan ‘buddy’nya langsung menyembul keluar. Tiffany tersentak. Melihat milik Taeyon yang sudah sangat tegang.

“ Tiffany..”

Tiffany mendongak menatap Taeyeon. Ia melihat laki-laki itu tersenyum hangat padanya. Taeyeon menempatkan dirinya kembali menindih tiffany. Sengaja atau tidak ‘milik’ Taeyeon yang menegang itu menekan daerah ‘privasi’ Tiffany.

“ Jadilah nyonya Kim Taeyeon sekarang…” Taeyeon mengelus lembut wajah Tiffany.

Tiffany tersenyum dan mengangguk. Meskipun dalam hatinya ia mulai gugup apalagi kontak ringan milik keduanya yang semakin terasa seperti sengatan dan didihan darah dalam diri Tiffany.

Taeyeon kembali mencium Tiffany. Tangan kananya menangkup dada sebelah kiri Tiffany dan meremasnya lembut.

“aahh…”

Taeyeon seolah mendengar suara melodius masuk dalam telinganya. Suara sexy itu membuat Taeyeon ingin terus mendengarnya. Ia menurunkan ciumanya pada leher putih Tiffany. Membuat Tiffany semakin mendesah hebat. Taeyeon sengaja menggesekkan ‘buddy’nya dengan miss v Tiffany yang semakin basah dan lembab. Tiffany hanya mampu meremas bahu Taeyeon sebagai pelampiasan kenikmatan yang dirasakanya.

Hingga ciuman Taeyeon semakin turun. Berputar dipusar Tiffany. Ia tidak ingin barang sedikitpun melewati tubuh manis Tiffany. Taeyon berhenti pada gundukan antara paha Tiffany. Memandang kagum melihat kewanitaan gadis itu yang mulus.ia sengaja melebarkan paha Tiffany. Memperhatikan daerah itu dengan seksama.

Glupp..Taeyeon menelan ludahnya. “look’s delicius..” gumam Taeyeon lantas menunduk menciumnya sebelum mengulum kewanitaan Tiffany.

“ a-ahhhh… ta-tae…” Tiffany menggelinjang. Merasa geli dan nikmat sekaligus. Lidah Taeyeon mencoba menerobos lubang Tiffany. Lembab dan ia menyukainya. Tiffany merasa seperti terbang keangkasa dengan kenikmatan itu. Ia semakin menjepit kepala Taeyeon antara pahanya. Ia semakin mendesah keras.

“ sial.. aku sudah tidak tahan Tiffany..” taeyeon segera berdiri. Ia mencium bibir Tiffany dan mengulumnya ganas. Ia sangat bernafsu pada Tiffany sekarang. Tiffany yang terkejut dengan aksi Taeyeon hanya mampu menekan tengkuk laki-laki itu.

Ia merasakan Taeyeon menggesekkan buddynya pada miliknya. Sebelum ia meraskan sesuatu menusuk  holenya. Tiffany terbelak kaget. Ia mencoba mendorong wajah Taeyeon agar tidak sekedar menggigit bibir pria itu sebagai pelampiasan. Namun Taeyeon semakin menciumnya dalam bahkan sangat gairah. Kuluman laki-laki itu sangat sensual dan sedikit kasar, bahkan ia meremas kedua ‘melon’ Tiffany dengan nafsu.

“ akkhhh…” Taeyeon menarik dirinya. Melihat wajah Tiffany yang mengeryit. Sakit… tentu saja, Tiffany masih perawan. Ia menunggu gadis itu terbiasa lebih dulu. Taeyeon melihat kearah kontak keduanya yang menyatu. Miliknya tertanam sempurna dalam tiffany. Tiffany melengkungkan bahunya. Ia merasakan sakit yang merobek didalamnya. Keperawanannya Hilang sore itu. Dirinya jatuh dalam pesona seorang kim taeyeon yang terkenal dingin dan tak berperasaan. Taeyeon menyentuh dahinya dan melap sedikit keringat dan airmata yang menggantung diujung matanya. Merasa bersalah untuk satu hal yang begitu ia inginkan dari gadis itu sekarang.

Taeyeon mulai menggerakkan pinggulnya tat kala ia melihat Tiffany sudah terbiasa dengan miliknya. Desahan Tiffany mulai terdengar. Taeyeon semakin semangat untuk mendengar suara sexy itu lagi, lagi, lagi dan lagi.

“ F-fuck.. kim t-tae yeonhhhh… shhh.. ahhh…”

Tiffany meracau tak jelas. Dia meraih apapun untuk diremasnya. Kenikmatan yang tak bisa ia bayangkan. Dan seolah dapat menembus jantung saat hentakan Taeyeon memenuhi miliknya.
Taeyeon tersenyum tipis. Ia merasakan dinding Tiffany meremas ‘buddy’nya

“ ughh… ahhh..hhh. Tae… more..”

“ ahh.hhkkkk. Fany-ah.. ahhh….”

Pergerakan Taeyeon kian menggila. Ia menghujami Tiffany dengan permainan liarnya. Ia merasa tubuhnya sangat menginginkan Tiffany. Ia merasa tak pernah puas sekedar seperti itu. Ia merasa kecanduan akan tubuh istrinya itu.

“ Fuck… taeeee ahhh… ummmphhh…”

Suara hentakan tubuh keduanya memeriahkan suasana. Desahan Tiffany semakin keras. Ia hanya mampu memeluk leher Taeyeon. Sedang Taeyeon semakin memperdalam miliknya didalam tubuh Tiffany. Bibirnya mengulum ‘melon’ Tiffany. Menghisapnya seperti bayi yang tengah kehausan.

“ tae.. ugh ahh… k-kau.. in-ni .. oowwhhh…”

“ fany-ah.. umnhhhppp.. ahhh.. nik-mat..”

“ tae.. so long.. y-you.. have.. so-o b-big..”

“ ahhhh.. k-kau memuji a-atau menghin—ahhhh”

“ ughhh…ahh. sure in-ni pujian.. taeeehhhh.. ahhh.. more fucking me there taee… ughh ahhh…”

“ fany-ah.. uhhh ahhh… kau.. nik-mat sayang..”

“ ahh.. tae.. i’m comi-ng.. uhhh”

Lenguhan panjang menandakan bahwa Tiffany berorgasme pertama. Namun pergerakan Taeyeon belum berhenti. Ia belum ejakulasi. Mungkin tak ingin. Ia masih menginginkan Tiffany mendesah untuknya.

“ Tae.. ughhh… st-stop..AKHHH…. ta.EEEEE”

Taeyeon semakin menggerakkan miliknya. Menghujami Tiffany dengan pergerakanya yang semakin ganas.

“ t-tae.. pl-please.. ughhh….”

“ahhh.. ak-aku tak i-ngin melep-askan muhhhh ughhh akkhhh…”

“ughh jang-anhh sepertihhh inihh ahhh” setitik air mata menggalir.  Ini sesuatu yang sakit namun juga nikmat luar biasa.

“nik-matihh sajahhhahhh sayanghhh” bisik Taeyeon menghapus air matanya. Keduanya bertatap. Tenggelam dalam kenikmatan dan cinta yang dipancarkan satu sama lain.

Tiffany kembali mendesah hebat. Taeyeon menarik Tiffany sampai ia menggendongnya sambil menggerakkan pinggulnya. Ia membawa Tiffany dan mendudukkannya diatas meja rias. Sedang Taeyeon masih berdiri dengan terus bergerak pada kewanitaan Tiffany dengan kejantanannya.

Puas bermain dan membuat berantakan meja itu, Taeyeon menggendong Tiffany kearah tembok dibelakangnya. Kulit Tiffany merespon dinginnya dinding putih itu saat ia membentur pelan disana. Kembali, keduanya mendesah lebih keras. Posisi bercintanya memang agak sempit karena harus berdiri. Tetapi mereka merasakan kenikmatan yang masih sangat luar biasa saat beban tubuh Tiffany benar-benar menumpu hingga ‘dirinya’ merasa terus menumbuk pada ‘Taeyeon’.

“ahhh ahhh ahhhhh… eyyaahhh… ughh… kau me-mang nik-mat fany-ah..sangathh sayanghh.. ughhh”

Tiffany panas mendengar Taeyeon berujar demikian. Ia tak pernah mendengar Taeyeon berbicara ‘dirty’ sebelumnya.Taeyeon menarik dagu Tiffany. Tubuhnya masih bergerak dengan tempo yang amat cepat. Keduanya saling memandang.

“ i love youhhh.. tiffany kimhh .. love you so muchhh“

Tiffany tersenyum. Ia meremas bahu Taeyon. Pandangan keduanya sayu akan nafsu dan kenikmatan

“ love you toohh.. Taetaehhh..”

“ughh.. akkkhHHHHH TAEEEEEEeeeeeee”

“ fanYYYYY-aaahHhHHHHH ..”

Keduanya berorgasme bersamaan. Membiarkan sperma Taeyeon memenuhi rahim Tiffany yang juga sampai merembes di paha keduanya. Taeyeon mengalami orgasme yang dahsyat. Ia bahkan sampai mengalami tembakan delapan kali dalam tubuh Tiffany.

Tiffany merasa tubuhnya melemah. Kedua kakinya masih terkunci pada pinggang Taeyeon yang berdiri. Ia merasakan Taeyeon menggendongnya kembali ketempat tidur. Ia tahu kontak tubuhnya masih terjalin dengan Taeyeon. Milik Taeyeon tak dikeluarkan. Keduanya tertidur. Tubuh mereka lengket disore itu.

(empat)

Taeyeon melangkah menuruni tangga rumahnya. Seragam melekat ditubuh proposionalnya. Ia memilih duduk sambil memainkan gadget ditanganya.

“ ohayou tae..” dia menoleh mendengar suara ayahnya menyapa dengan bahasa jepang. Ia mengangkat sebelah alisnya. Mengeryit bingung, sejak kapan orang tuanya pulang dari bisnis di jepang.

“ Appa.. sejak kapan kau pulang?”

Mr.Kim terkekeh kecil. Ia duduk disofa depan Taeyeon.

“ kau terlalu sibuk ‘memperkosa’ putri kesayanganku sampai kau tak mengetahui kedatangan kami”
Taeyeon tersentak kaget. Meskipun begitu ia kembali mengendalikan mimik wajahnya dan memasang wajah cool andalanya.

“ yah.. begitulah..” jawab Taeyeon sekenanya. Ia berharap ayahnya akan berhenti menggodanya. Namun sepertinya harapanya tak terkabulkan Tuhan.

“ bagaiman rasanya Taeyeon-ah.. aku sangat jelas mendengar desahan kalian diluar kamar …” Mr.Kim tersenyum evil, menggoda putra semata wayangnya yang terlihat tenang sambil memainkan gadgetnya.

“ kau lebih tahu daripada aku yang baru lahir appa..”

“ owh ayolah Kim Taeyeon, ini bukan tentang appa nak, tapi dirimu. Jadi letakkan benda persegi itu dan ceritakan pada appamu ini”

He? Apa-apaan ayahnya ini. Memaksakan kehendak sekali..-__-
Taeyeon menghela napas pelan. Ia lantas memandang Mr.Kim yang kini semakin tersenyum lebar.

“ yah… aku merasa ummh… candu padanya..” Taeyeon menjawab tenang. Namun hatinya benar-benar gugup dan malu mengatakan hal seperti itu pada ayahnya sendiri.

“ hahaha.. apa dia sangat menggodamu? Wowooo.. kau sudah tumbuh dengan ‘baik’ nak..” Mr.Kim kembali tertawa.

“ hentikan untuk menggoda dia yeobo.. mereka harus berangkat” Mrs.Kim kini turun dari lantai atas rumah mereka dengan menggandeng Tiffany yang menunduk malu.

Gadis itu.. upppss maksudnya WANITA itu kini turun dengan sedikit pincang. Mungkin efek dari…

“ Tiffany jalanmu menjadi aneh. Are you okay honey?” Mr.Kim tersenyum menggoda keduanya. membuat Tiffany memerah karena malu. Kini rambut Tiffany dibiarkan tergerai. Kacamata diganti dengan softlens bening. Belum lagi rambutnya kini yang berwarna coklat muda bergelombang. Sangat indah dan menawan.

Benar… Mrs.Kim merubah penampilan Tiffany bak seorang putri kerajaan. Sesuai dengan permintaan Taeyeon untuk merubah istrinya agar tampil lebih cantik. Tidak.. ia tidak keberatan dengan penampilan tiffany sebelumnya, tapi ia harus bisa merubah sedikit gaya tiffany agar setidaknya tak ada yang berani menghina tiffany jelek lagi.

Tiffany asli cantik, sangat. Hanya saja dia selalu tampil tertutup dengan kacamata besar dan rambut yang dikucir dua. Dan mungkin hari ini taeyeon akan memperlihatkan sisi yang sebenarnya seorang tiffany. Sisi girly, beauty, glamour dan… sexy…

Taeyon bangkit dari duduknya melangkah mendekati tiffany yang ada ditangga terakhir. Dia tersenyum pada tiffany.

Mrs.kim yang melihat senyuman anaknya sempat tertegun. Taeyeon sangat dan sangat limited dalam hal tersenyum. Tapi pagi ini… keajaiban dunia bertambah satu.

Taeyeon berhenti tepat didepan Tiffany.

“ kau sangat cantik Fany-ah..” bisiknya lembut.

“g-gomawo..” Tiffany menunduk malu.ia merasakan wajahnya memerah.
Taeyeon kembali tersenyum. Mengusap kepala tiffany pelan.

“ apa masih sakit?”

Tiffany mengangkat wajahnya menatap Taeyeon. Seolah mengerti maksud taeyeon tiffany hanya tersenyum. Ia menggeleng pelan.

“ tidak terlalu. Ini faktor biasa..”

Taeyeon mengangguk. Ia lantas langsung menggendong Tiffany ala ‘bridestyle’ membuat kedua orang tua terutama Tiffany terkejut karenanya.

“ berpegangan pada leherku nona. Kau bisa saja jatuh..” Taeyeon tersenyum. Tiffany menurut. Ia melingkarkan lenganya pada leher Taeyeon.

“omma, appa, kami berangkat dulu..” Taeyeon mengabaikan wajah keterkejutan orang tuanya dan melangkah keluar dari rumah.

“ dia… sangat berbeda dari sebelumnya” gumam Mr.Kim masih terbelak kaget

“Dia mendapat obatnya hahahaha” Mr.Kim tertawa.

“ Taeyeon menjadi sangat mirip dengamu dalam hal kebyunan…” Mrs.Kim berujar sambil menatap tajam Mr.Kim yang hanya tersenyum

“ Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”

**

Semua bibir terbungkam. Sepasang berjalan dengan tangan yang terpaut. Pandangan kagum tercipta namun iri dan kemarahan mendominasi. mereka para gadis menatap Tiffany dengan pandangan tajam yang sangat jelas, namun tangan lembut dan hangat Kim Taeyeon menenangkanya. Seolah mengatakan ‘jangan takut, aku bersamamu. Kau aman.’

“ itu Tiffany Kim..kenapa dia bisa secantik itu?”  “ benar.. dan kenapa dia bersama kim taeyeon?” “apa hubungan mereka” “apa mereka berpacaran?”  “ ah masa sih? Aku gak percaya ah”
terdengar bisikan sepanjang lorong yang membawa mereka menuju ruang kelas.

Sampai keduanya berhenti. Tepat didepan seorang laki-laki yang hanya terfokus pada Tiffany

“ Tiffany.. kau.. kah?” Baekhyun tergagap. Antara kagum dan kebingungan. Benarkah ini Tiffany? Gadis yang sukanya hanya membaca buku ditempat sepi itu? Benarkah dia yang didepanya adalah Tiffany yang cupu dan sulit bergaul itu? Benarkah Tiffany?Banyak pertanyaan yang ada delam kepala Baekhyun. Ia tak menyangka gadis yang sering bersamanya selama sebulan ini bisa bertransformasi menjadi sangat cantik dan elegant seperti sekarang.

“Baekhyun? Morning..”

“m-morning.. Tiffany.. kau terlihat.. berbeda? Sangat cantik” Tiffany tersenyum mendengar pujian itu.

“ gomawo Baekhyun.. bagaimana dengan lukamu?”

“ ah ini.. haha tak ada yang perlu dikhawatirkan. ini luka rigan”

“ oh syukurlah..”

Baekhyun menatap Tiffany dan Taeyon bergantian. Bingung…

“ tiffany.. aku menunggumu di halte seperti bisa. Kenapa kau tidak ada pagi ini? Kau brangkat duluan?”
Baekhyun mengabaikan Taeyeon dan hanya terfokus pada Tiffany. Menyadari bahwa laki-laki itu bahkanterus menatapnya dengan tajam..

“ oh.. itu.. aku tidak berangkat menggunakan bis Baekhyun..”

“ eh? Lalu kau datang menggunakan apa?” tanya Baekhyun bingung.

“ ak –“

“ dia datang denganku..” Taeyeon berujar dengan nada dingin dan pandangan tajam. Tiffany tahu Taeyeon pasti tengah marah sekarang. Terbukti dengan genggaman laki-laki itu yang kiat mengerat pada tangannya. Dengan lembut ia mengusap telapak tangan itu dengan ibu jarinya, dan hal itu cukup berjalan baik saat Taeyeon dengan pelan menghela napasnya.

“ benarkah? Kenapa bisa?”

Taeyon tersenyum sinis dan mengangkat genggaman tanganya dengan Tiffany. Memperlihatkan pada semua murid. Menatap pada Tiffany dengan senyumannya. Memberikan terangan pada istrinya, ia harus melakukan hal sebesar ini.

“ perlu kau tanyakan? Tentu karena dia kekasihku..”

Semua menjadi sangat heboh seketika. Tiffany membelak matanya terkejut tak menyangka kata itu akan keluar dari mulut sorang Kim Taeyeon.

“b-benarkah.. s-sejak kapan?” Baekhyun bertanya dengan nada terkejut. Taeyeon semakin tersenyum mengejek.

“ jauh sebelum kau sekolah disini” keterkejutan Baekhyun semakin besar.

Kim Taeyeon.. dengan Tiffany? Gak mungkin!’
haan lantas tersenyum sinis. Memandang tajam taeyeon yang juga menatapnya tajam.

“ heh.. meskipun kau kekasihnya aku tidak perduli..” ujar Baekhyun. Ia menyedekapkan tangannya didada.
Taeyeon yang mendengar itu semakin marah. Ia meremas tangan kirinya kuat.
sial…’

“ kenapa? Kenapa kau tidak perduli dengan statusnya? Dia milikku “ ujar Taeyeon dingin. Ia menatap tajam Baekhyun yang sepertinya tidak perduli dengan tatapan Taeyeon. Baekhyun tidak akan mundur. Baekhyun maju beberapa langkah. Ia langsung mencengkram leher baju Taeyeon membuat semua mata terbelak kaget

“ karena aku mencintainya… dan aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan manusia sepertimu”
Taeyeon menggertakkan gigi lantas langsung mendorong Baekhyun menjauh. Taeyeon kini berbalik mencengkram leher baju Baekhyun sambil menatap tajam.

“ lalu kau akan membiarkan Tiffany dengan siapa? Dengan dirimu? Apa yang bisa kau berikan untuknya. Kau tak punya apa-apa yang bisa membuat Tiffany bahagia.” Taeyeon berteriak didepan wajah Baekhyun. Dirinya tidak perduli dengan image atau kedudukannya sebagai pria terpopuler sekolah. Ia tak perduli dengan keadaan bahwa ia adalah anak dari pemilik sekolah, ia sangat marah. Ia tak akan ingin mengalah pada laki-laki yang tidak sebanding denganya didepan ini.

“ apa yang bisa kau berikan pada Tiffany. Kau hanya bisa memberinya banyak tekanan karena kelakuan fans mu itu. Kau tidak sadar itu Kim Taeyeon?!” Baekhyun menyentak kasar tangan Taeyeon. Keduanya mengundang banyak pasang mata melihat. Orang semakin banyak berbisik. Tiffany merasakan kegundahan.

“ kalian.. tolong hentikan..” Tiffany berujar lirih.

“ kau tidak ada saat Tiffany menangis karena mendapat bully-an dari para gadis yang menggilaimu. Kau tidak ada saat ia harus menerima surat ancaman yang membuat Tiffany takut. Kau tidak ada saat Tiffany kesakitan dan kegelisahan. Diamana kau sebenaranya? Kau hanya terus berada di zona amanmu saja. Kau tidak pantas untuknya!!”  Baekhyun berteriak emosi. Segala rasa simpati dan kekesalannya telah kluar. Dia membenci Kim Taeyeon yang menjadi sumber air mata Tiffany selama ini. Ia membenci Kim Taeyeon yang menjadi sulut akan semua hal menyakitkan disekolah ini. Ia membenci karena Taeyeon bisa sehebat itu. Ia benci Taeyeon melebihi apapun! Dan ini ia benci laki-laki itu karena memiliki Tiffany.. ia benci itu!

“ lalu apa yang bisa kau lakukan untuk menebus segalanya Kim Taeyeon. Apa kau bisa menjamin Tiffany aman bersamamu? Dia hanya akan mendapat banyak tekanan kembali.”

Taeyeon meremas kuat kedua tanganya. Menutup matanya saat kemarahan kian menguasainya

“ apa kau tidak sadar betapa menjijikan dirimu Taeyeon?! Kau hanya sumber dari segala masalah ini!! Kau bajingan yang tak tahu –“

Pllaakkkk

Suara itu menghentikan segalanya. Semua terbungkam. Semua terdiam. Pandangan tertuju pada satu titik. Tiffany.  Dia menangis. Air matanya mengundang rasa kesedihan. Baekhyun menyentuh pipi kirinya yang terasa perih. Tidak.. hatinya lebih perih melihat Tiffany, gadis yang ia cintai menangis didepanya.

“ Tiffany .. ma-“

“ Jangan dekati aku ..“ Tiffany mundur saat Baekhyun mencoba mendekatinya. “kumohon.. kau terlalu banyak berbicara. Kau tidak tahu artinya Taeyeon untukku.. aku mencintainya” Terkejut. Kata-kata itu meluncur sangat jelas dari bibir tipis Tiffany.

“ dia bukan sumber kesakitan untukku, aku bahagia bersamanya. Aku tahu dia banyak dicintai orang lain, dan aku tak mempermasalahkanya. Aku hanya ingin disampingnya. Aku tak perduli dengan cacian dan hinaan itu. Aku sangat mencintainya..”

Tiffany menjeda kata-katanya. Semilir angin lembut menyejukkan. Hatinya terasa lebih plong. Ia mengeluarkan segalanya. Ia kini bisa berdiri dan mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan.

“ jadi… jangan menghina Taeyeon didepanku haan. Dia kekasihku. Harap kau mengerti itu” tiffany menatap tegas. Sinar matanya terlihat puas. Ia putuskan untuk berhenti bersembunyi. Ia harus bisa menghadapi masalahnya.

“ kau mendengarnya kan? Tiffany mencintaiku. Kebahagiaannya bersamaku. Dia milikku dan aku tak berniat ia menjadi milik orang lain” Taeyeon yang sedari tadi terdian kini tersenyum puas. Kim Taeyeon..

“ dan untuk kalian semua.. aku peringatkan kalian untuk tidak menyakiti dan berani menyentuh Tiffany lagi, barang sehelai rambutnya, Aku bersumpah akan membunuh kalian jika Tiffany hanya tergores sedikit saja..” Taeyeon berbalik menatap semua murid yang berada di koridor maupun lapangan

“ kalian tahu aku seperti apa. Jika kalian melanggarnya.. kupastikan kalian akan menderita tujuh turunan” kini Taeyeon tersenyum evil sambil menatap murid yang terlihat susah menelan ludahnya.

Taeyeon berbalik memandang Tiffany dan tersenyum. tak ada yang harus ia khawatirkanatau takutkan. Tiffany akan aman bersamanya.

Fin~

Advertisements

54 thoughts on “Step’s

  1. Udah fin aja nih thor… Aseli aku ga baca nc nya bukan karna umur (malah umurku udah melebihi) lol. Tapi karna takut, takut pengennn 😂😂😂 seruuuu emmm, sequel bisa lah yaaa… Fighting 😊😊💃💃💃

    Like

  2. Sumpah keren bwgd pany nampar baek hahaha😃😂 klo itu nyata maah suka bwgd gw baek kena tampar Dr istrinya tae dimna pany lebih kenal dulu sblum baek masuk SM haaahaahs😃😂

    Like

  3. Waahh ..dek kamu sudah tumbuh dengan baik ternyata bisa bkin Nc hehehe ..
    Lanjutkab dek ,di tunggu nc selanjutnya 😂😂😂😂 ,apaansih#

    Nc nya bagus ,kaya nyata dan ga berlebihan ..
    Ciehh ..yg udah jatuh ke perasaan terdalam ,udah mengakui

    Like

  4. Ciee yg udh besar buat NCan.wkwkkwk
    Suka dgn jln crtanya
    Tpi knp make baek thor .knp bukan nicky aj ya .hahahh
    Tak mslh yg pntg bahgia mrk .rasane mrka terlalu sosweetne .hehehehe

    Like

  5. Waow nc.. Taeny, ayooo thor bikin sequelny, fany hamil dan siksa tae akan ngidamny fany
    . hhihi ada typo thor baekhyun kok bisa berubah haan ????? Pas tae marah sblum nc tercipta, terus pas pany marah gara2 baek ngehina tae..

    Like

  6. Ff nya bagus thor, ceritanya ngak terburu-buru,bagus pokoknya aku kasih 5 jempol buat author baby 👍👍👍👍👍💞💕

    Like

  7. tae mah gitu..pura pura aja benci pdhl udah lama juga pngn deketin istrix..
    akhirx happy ending juga..
    NC nya mantapppp 😂😂😂😂

    Like

  8. gila taeny ncnya, taeng belajar dari mana tuh gayanya, kan itu untuk pertama kali untuk taeng melakakukan itu
    gitu dong taeng sampein ke semua sekolah klo pany itu cuman milik lo dan gx boleh ada yg deketin pany selain lo

    Like

  9. kyaknya sequelnya penting bgt dan kudu deh thor.. penasaran kira2 kapan jadinya yah baby kimnya.. hehehehe ^^ semangat terus thor..

    Like

  10. Kalau nc gw gak bkal ketinggaln wkwkwkkkk…
    Tapi gw suka alur nya gwe sllu tertrik kalau di awal2 taeng yg jaim atau lbh mengintimidasi ke panny drpda taeng yg penurut /takut gtu ..
    Dan sbnrnya agak aneh knpa pake si byun itu ?? tumben aja biasa nya pan hmpir di semua ff pake hmmm Yon know what i mean laa ….
    Salam kenal author 😅😅😅😅

    Like

  11. Daebak ceritanya daebak thor wkwkwk
    NCnya bikin gue panas2 gmna gtu wkwk. Tp ko gue lebih prefer yuri ya, bkannya gmana2 sih cma gue susah aja bayanginnya sdangkan taeny itu kan cwe wkwk cma gue tetep suka sama jalan critanya hehe

    Like

  12. Sudah kuduga biarpun tae cuek sok cool tapi dia sayang sama fany
    Makasih buat nc nya thor wkwkwk
    Mamfus lu baek ga bisa dapetin fany

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s